Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Tak Pantas Disebut Istri


__ADS_3

"Baiklah. Kalau itu akan membuatmu tenang, aku akan memaafkanmu." Manik indah Nayra tak berkedip saat ia mulai melembutkan hatinya untuk memaafkan  karena tak tega melihat Zayn yang terus memohon.


Pandangannya masih sama saat ia menatap lelaki di depannya dua tahun lalu, saat di mana mereka masih menjalin hubungan yang penuh dengan cinta tanpa adanya masalah rumit seperti sekarang.


"Terima kasih, Ra. Aku tenang sekarang, setidaknya kamu mau memaafkan kesalahan terbesarku. Boleh aku memelukmu?"


Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung membungkuk dan memeluk erat Nayra. Tak peduli di mana ia sekarang, bagaimana ia harus menjaga sikap. Baginya, yang terpenting sekarang, ia merasa lega karena sudah mendapatkan maaf dari wanita yang dicintainya.


"Zayn, lepasin!" tolak Nayra berusaha mengurai pelukan Zayn.


Zayn pun segera melepas pelukannya. Ia langsung tersenyum haru pada Nayra. "Terima kasih." Lagi dan lagi, Zayn tak ada hentinya mengucap kata itu.


"Sekarang, kita bisa melanjutkannya?"


"Apa maksud kamu?"


"Hubungan kita ... bisa lanjut, kan?"


"Zayn, aku memang sudah memaafkanmu, tapi untuk lanjut, itu tidak akan mungkin terjadi," tutur Nayra dengan nada sedikit tertahan di tenggorokan.


Berat memang rasanya berpisah dengan lelaki yang dicintainya. Namun, keputusan yang diambil sudah benar, bukan? Menjauhi lelaki yang beristri adalah sesuatu yang harus ia lakukan, walau sesakit apa pun dia harus rela melepasnya.


"Tapi ... kenapa, Ra? Bukankah kamu mencintaiku?"


"Rasa itu sudah hilang, Zayn."


"Kamu bohong! Aku masih yakin, rasa itu masih ada dalam hatimu. Jadi, biarkan aku mengobati luka yang kugores."

__ADS_1


Gadis itu menggeleng, perlahan ia memundurkan kursi rodanya dengan deraian air mata.


"Sebaiknya kamu pergi, Zayn. Aku harap kamu bahagia dengan keluargamu. Ini terakhir kalinya kita bertemu, terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk merasakan kasih sayang darimu," ucapnya sambil menunduk, menyembunyikan raut kesedihan di wajahnya.


Kalimat yang diucapkan Nayra cukup membuat Zayn tertegun, harapannya ternyata salah. Dia tak menyangka ini akan menjadi pertemuan terakhir yang Nayra inginkan.


Ternyata aku hanya mendapat maafnya saja, bukan untuk memilikinya lagi. Apa aku akan sanggup? Saat ini hanya kamu yang mampu mengisi hatiku, Ra. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Zayn frustrasi setelah mendengar keputusan Nayra.


"Aku pikir, begitu aku mendapat maaf darimu, aku akan mendapatkan hatimu kembali, Ra."


"Jangan berharap lebih,. Sudah ya, aku sibuk. Sebaiknya kamu pulang!" perintah Nayra dengan nada lembut.


Nayra segera menjalankan kursi rodanya dan langsung masuk ke dalam rumah. Sementara Zayn, ia masih berdiri dengan tatapan kosong melihat ke arah Nayra yang berlalu pergi hingga tak terlihat punggungnya.


Ia mencoba kuat walau hatinya rapuh. Namun, jika itu masalah hati, siapa pun mungkin akan lemah, walau lelaki bertubuh kekar sekalipun.


***


Setelah dari rumah Nayra, Zayn memilih pulang ke restoran daripada ia pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Alasannya, ia kesal terhadap Dera yang selalu membuatnya tidak nyaman untuk berada di rumah, bahkan setiap kali melihat wanita itu, ia hanya terus emosi dan ingin mengumpat kasar.


Namun, berbeda dengan Shera. Dia justru selalu memperlakukan Zayn dengan baik, menganggap Zayn layaknya suami pada umumnya. Bukan karena ia suka dengan Zayn, melainkan ia hanya menjaga marwah keluarganya. Juga yang paling penting, status sebagai pernikahan adalah sesuatu yang aman baginya, karena ia bisa berlindung saat ia hamil dengan lelaki lain yang di godanya. Sudah dipastikan, orang akan mengira jika itu anaknya Zayn.


Dalam sebulan penuh, bisa dihitung dengan jari kapan Zayn pulang ke rumah. Zayn hanya akan bersikap baik terhadap orang tua Dera dan pamannya sendiri. Mempunyai sifat rasa sungkan hanya akan merugikan dirinya sendiri, sikapnya sangat bertolak belakang dengan batinnya.


Restoran cukup besar itu mempunyai beberapa kamar untuk karyawan, salah satunya kamar Zayn yang memang sengaja di tempatkan di kamar khusus yang cukup besar. Alasannya, karena kelak dia akan menjadi pewaris restoran itu. Ia adalah keponakan satu-satunya Irwan. Hanya Zayn yang dimilikinya saat ini, begitu juga dengan Zayn, ia hanya mempunyai pamannya saja sebagai orang tua pengganti.


Zayn membaringkan tubuhnya di sofa dekat jendela kamar. Bayangannya tentang Nayra tak dapat ia hilangkan walau hanya sedetik. Saat ia duduk di tepi ranjang, tiba-tiba suara ponsel dari dalam tasnya berdering memekik telinga Zayn. Wajah itu terlihat semangat, dengan cepat ia mengambil benda pipih itu, berharap Nayra yang meneleponnya.

__ADS_1


Ia langsung mengusap wajahnya kasar dengan sangat kesal. Bukannya telepon dari Nayra yang ia terima, melainkan telepon dari Shera. Zayn lalu melepas pakaiannya dan segera pergi ke kamar mandi untuk mengguyur badannya, ritual mandi mungkin akan mengembalikan kesadarannya agar tak berlarut-larut memikirkan Nayra.


Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk putih di pinggangnya. Rambutnya yang basah sesekali meneteskan sisa air ke tubuh tanpa busana. Ia duduk di tepi ranjang, dan meminum segelas air di nakasnya.


Ponsel yang tadi diemparnya pun tak henti-hentinya berdering. Mau tidak mau, Zayn terpaksa mengangkatnya dengan menggerutu terlebih dahulu.


"Ada apa?" tanya Zayn ketus pada Dera di sambungan telepon.


Namun, baru saja Dera hendak bicara, Zayn malah membentaknya. “Sudahlah, aku sibuk. Jangan ganggu aku!”


Zayn mematikan teleponnya, ia merasa muak mendengar suara Dera yang penuh drama itu. Kemudian, dia memutuskan untuk tidur.


Shera—wanita berumur 25 tahun yang mempunyai paras cantik dan sangat feminin, tetapi ia selalu menghabiskan waktunya di klub malam. Kehidupannya terlalu bebas karena tidak ada yang mengawasinya di rumah, saat kedua orang tuanya sibuk mengurus bisnis yang ada di Malaysia, dan hanya pulang sebulan sekali.


Kala itu, orang tua Dera dan keluarga Zayn sepakat menjodohkan mereka, berharap Dera bisa berubah, dan menghilangkan kenakalan. Namun, sampai saat ini, walaupun ia sudah melahirkan seorang anak, ia masih terus berfoya-foya, dan pulang dalam keadaan mabuk tanpa menghiraukan anak bayinya


Tak heran jika Dera digoda oleh lelaki hidung belang di klub tersebut, hingga sampai sekarang pun ia juga tak tahu siapa ayah kandung dari anaknya sekarang.


Ketukan pintu dari luar kamarnya pun terdengar, membuatnya terperanjat dan terpaksa harus terbangun. Ia beringsut menyibak selimut tebal yang menghangatkannya. Dengan langkah gontai dan tubuh yang masih lemas, ia berdiri untuk membuka pintu.


“Zayn ... bangun!” Suara Irwan memanggil Zayn sambil mengetuk pintunya.


“Ya, Paman ...,” sahut Zayn sambil berjalan ke arah pintu.


Zayn membuka pintu, dan betapa terkejutnya ia melihat sosok wanita yang dibencinya di depan matanya sekarang.


“Istri kamu nyariin nih, Zayn.”

__ADS_1


"Ah, ya. Terima kasih, Paman," ucap Zayn berusaha bersikap normal seolah tak ada masalah dengan sang istri.


Saat ini, Dera sedang mengenakan gaun merah seksi yang memperlihatkan bagian dadanya. Kain itu sama sekali tak membalut dengan sempurna karena panjangnya hanya sebatas paruh paha.


__ADS_2