
Di perjalanan pulang hati Dito sudah merasa lega. Bibirnya di hiasi dengan senyuman, sesekali dia bersiul sembari melihat kanan kiri keadaan di kampungnya. Tak terbayangkan wajah bahagia istrinya kala melihat kejutan yang dia berikan.
Tak lama motor yang di tumpangi Dito menuju ke arah pekarangan rumah yang sederhana. Tak terlihat ibu dan istrinya di depan rumah. Mungkin ibu sedang tiduran di kamar dan Dita sedang nonton tv di ruang tengah pikir Dito.
Dito berjalan ke arah pintu, di bukanya gagang pintu yang tidak terkunci. Di lihat di dalam rumah tidak tampak seorang pun di sana.
"Bu..ibu..!panggil Dito. ''dik Dita..mas pulang nih bawa oleh-oleh.."Dito masih mencari orang di dalam rumah tapi tak menemukan siapapun.
"pada ke mana nih orang.."gerutu Dito.
Dito kemudian berjalan menuju ke arah kamar sang ibu. Di bukanya pelan pelan gagang kunci pintu, di dapati sang ibu ternyata tengah tertidur pulas.
"huhf...tidur rupanya.."Dito merasa lega sembari mengelus dadanya dan kembali menutup pintu kamar ibunya.
Setelah lega melihat ibunya di dalam kamar, Dito bergegas ke arah kamarnya berharap sang istri juga tertidur di dalam kamar. Dito memegang gagang pintu di buka pelan pelan agar tak terdengar oleh istrinya. Di tengok tak ada sang istri di atas ranjang tidurnya. Kemudian Dito pergi ke belakang,di sana dia juga tak menemukan Dita.
"Bu..Bu..ibu..buka pintunya.."Dito mengetuk pintu dengan gugup."cepat Bu.."lanjutnya.
"ada apa...kamu mencari istrimu.."dengan santai Bu Marni bertanya.
"iya..di mana istriku Bu.."tanya Dito.."bajunya juga gak ada Bu.."lanjut Dito.
"istrimu minggat..."jawab Bu Marni ketus.
"maksut ibu..."Dito terkaget. "memang apa yang terjadi selama seharian aku keluar tadi ..?Dito bertanya pada ibunya sembari menggoyang goyangkan tubuh ibunya.
"istri kamu itu manja...dia gak percaya kamu pergi ke rumah Edo..dia pikir kamu pergi sama pita.."Bu Marni menjawab sembari duduk di kursi tengah.
"kok ibu gak larang Dita pergi dari rumah..kenapa ibu biarkan..!selidik Dito.
__ADS_1
"buat apa di larang..toh dia juga sudah besar, paling juga pulang ke rumah orang tuanya.."kilah Bu Marni.
"ibu sudah keterlaluan.."sahut Dito sembari keluar dari rumah menuju ke arah sepeda motornya berbuat mengejar sang istri.
di tempat lain.
Sementara di tepi kolam Dita tak bisa menahan air matanya,seolah hancur sudah perasaannya. Perkataan ibu mertuanya seolah menusuk jauh ke dalam relung hatinya.
"apa kamu..memangnya aku suka punya menantu kayak kamu..gak bisa ngapa-ngapain bisanya cuma tergantung pada anak ku"
ucapan Bu Marni pada Dita.
"tidak....hiks..hiks.."Dita menjerit .
Dita seolah sudah tak mampu lagi menahan air matanya, di curahkan segala lara hati yang selama ini dia pendam selama tinggal bersama ibu mertuanya.
Dari kejauhan Dita mendengar ada orang yang memanggilnya. Semakin lama semakin dekat dan jelas. Dita menoleh ke belakang dan benar ternyata suaminya sudah mencarinya sampai ke tepi danau tempat Dita menenangkan diri.
"Dita...!panggil Dito sembari berlari menuju ke arah istrinya, kemudian memeluk dengan erat.."kamu kenapa ke sini sayang..mas cari kamu dari tadi, jangan nangis terus.."Dito mengusap pipi Dita yang penuh air mata.
"kenapa mas Dito ke sini..memang benar kata ibu,aku ini istri yang menyusahkan gak bisa ngapa-ngapain cuma tergantung pada mas saja.."jawab Dita sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya. Tapi justru Dito malah semakin mengencangkan pelukannya.
"kamu ini bicara apa..kamu kan istriku jadi sudah sepantasnya kamu tergantung pada ku...!jawab Dito sambil membelai lembut kepala istrinya. "kamu jangan dengarkan omongan ibu..ibu memang seperti itu, kadang aku saja sampai jengkel di buatnya.."lanjut Dito.
"tapi apa yang di katakan ibu mas memang semua benar..aku cuma bisa tergantung pada mas,gak bisa mandiri seperti mbk mas yang lain yang pandai mencari uang sendiri, tidak pernah tergantung pada suami mereka.."Dita menjelaskan .
"kamu jangan terlalu percaya sama omongan ibu..aku saja anaknya gak bisa sepenuhnya percaya..ibu itu sudah tua dan kadang omongannya suka ngelantur..."Dito menatap istrinya yang masih menangis.
"percaya sama mas..mas tidak pernah sedikitpun merasa terbebani dengan menikahi mu, mas akan bertanggung jawab sepenuhnya.."jawab Dito.
__ADS_1
"sudah ya jangan di masukin ke hati omongan ibu.."Dito kembali meletakkan kepala istrinya ke dalam dekapannya.
Dita mulai bisa tersenyum dan mengelap kedua pipinya yang penuh air mata dengan kedua tangannya.
"mas dari mana saja..kok dari pagi baru pulang..gak ketemu sama perempuan itu kan.."Dita bertanya khawatir.
"gak lah..tadi pagi sampai siang mas ke rumah Edo..biar Edo saja yang beli hp buat pita..mas gak mau ikut ikutan dari pada istri mas yang cantik ini marah.."goda Dito sambil mencubit hidung istrinya.
"mas gombal.."jawab Dita. "ke rumah Edo kok aku gak di ajakin sih..malah sendirian saja.."Dita menyilang kan tangannya sambil cemberut.
"sapa ya yang tadi pagi dipamitin suaminya gak jawab..malah wajah suaminya di belakangin lagi.."Dito berpura pura lupa padahal dia sedang menggoda istrinya.
"ihh... mas..godain terus.."gerutu Dita sambil mencubit pinggang suaminya.
"aduh sakit tau..."protes Dito.."mending kita pulang saja yuk..tadi mas sudah beli perlengkapan bayi buat anak kita..!jawab Dito sembari menggandeng tangan istrinya meninggalkan danau itu, dan tangan yang sebelah membawa tas berisi baju punya Dita.
"bener mas...mas beli sama siapa,,?tanya Dita.
"sendiri lah...suamimu ini kan pemberani..". Dito membanggakan diri.
"semoga kamu suka ya.."pinta Dito.
"suka lah..apa pun pilihan mas..pasti aku suka.."jawab Dita.
"ini kan bukan mas yang pilih..tapi mbk nya yang pilihkan.."jelas Dito.
"mbk.nya ..mbk siapa lagi mas.."Dita mulai ngambek lagi.
"ya mbk yang jaga toko lah..mau mbk siapa lagi,masak mbk pita.."Dito menutup mulutnya sambil berlari meninggalkan istrinya sambil tertawa menggoda.
__ADS_1