
Seperti biasa Dito pergi ke danau untuk mencari istrinya, memang mau ke mana lagi sih Dita kalau bukan ke danau itu.
Sesampainya di danau Dito mencari keberadaan istrinya, langsung di tuju tempat biasanya Dita berada, tapi Dito tidak menemukan istri nya. Masih terus di carinya hingga Dito menyusuri setiap sudut tempat duduk di pinggir danau.
Sampai dari kejauhan Dito melihat ada seorang wanita sedang menggendong anak kecil.
"ah itu dia di sana..memang bisa pergi ke mana kamu selain ke sini.."Dito bermonolog sendiri.
Dito menghampiri wanita itu, di pegang pundak wanita itu perlahan hingga membuat sang empunya menoleh. Tapi betapa kagetnya Dito karena wanita yang di depannya ternyata orang lain, bukan Dita istrinya.
"maaf mbk... saya kira istri saya..." Dito meminta maaf sembari menjauhkan tangan nya.
"iya mas..memang istrinya kemana..mas romantis sekali pagi pagi gini anak dan istrinya sudah di ajak jalan jalan.."jawab wanita itu yang seolah Dito merasa tersindir.
"iya mbk..tadi saya tinggal sebentar mencari makanan kecil malah gak ada..maaf ya.."Dito terpaksa berbohong dan berbalik meninggalkan wanita itu. Hati Dito mulai gusar, karena belum menemukan istrinya.
"kamu ke mana Dita...apa anak kita sudah baik baik saja sekarang, apa aku tadi malam sudah keterlaluan sama kamu.."Dito kembali bermonolog sendiri sambil mengendarai sepeda motornya
Di telusuri setiap jalan tapi belum juga menemukan tanda tanda keberadaan istrinya. Hati Dito mulai sedih dia merasa bersalah atas kesalahannya , di tambah dengan keadaan anaknya yang tidak sehat.
Sementara di taman Dita sedang meratapi takdirnya, Dita menghibur dirinya sendiri dengan bermain bersama anaknya yang sudah bisa di ajak bercanda. Senyum Desta seolah mampu menenangkan hatinya yang sangat sedih.
Entah memang sudah jodoh atau tanpa di sengaja ternyata Evan juga sudah berada di situ. Evan sedang memandangi ikan di kolam kecil taman itu. Sebenarnya Dita tidak ingin menghampiri Evan., tapi sebelum Dita pergi dari tempat itu Evan sudah terlanjur melihat keberadaan Dita.
"Dita..."Evan dengan spontan memanggil Dita.
"iya...ini aku.."jawab Dita singkat.
"kamu sapa siapa di sini..dan..lagi apa.."Evan bertanya penuh curiga.
__ADS_1
"aku...sedang jalan jalan dengan anak ku.."jawab Dita sambil berusaha menghindar dari Evan.
"jalan jalan..sepagi ini.."tanya Evan sembari memiringkan kepalanya dan melipat kedua tangannya ke dada.
"sudah lah...aku pergi dulu..."jawab Dita yang berniat berlari meninggalkan Evan, tapi tangan Dita di cegah oleh Evan.
"gak usah bohong sama aku..kamu lagi ada masalah kan..dulu saja kamu sering ajak aku kesini waktu kena marah bapak kamu.." Evan menggoda Dita sambil menaik turunkan alisnya.
"gak usah inget inget itu deh..."Dita mulai manja.
"hahaha...Dita .. Dita...kamu ternyata masih oon kayak dulu gak ada yang berubah dari kamu..."Evan tertawa terbahak bahak melihat tingkah Dita.
"ya beda lah..sekarang aku sudah jadi ibu tau..ni anak aku..." Dita menunjukkan anaknya yang sedang tertidur.
"aduh lucunya..."Evan memuji anak Dita.
"cakep kan..liat dulu siapa emaknya..."Dita bertolak pinggang di depan Evan yang membuat Evan tambah tertawa kegelian.
"sudah sudah...sekarang kamu cerita sama Abang..apa yang kamu lakukan di sini...sama anak kecil lagi.."tanya Evan sembari membelai pipi Desta.
"kamu ada masalah sama suami kamu.."lanjut Evan bertanya.
Seketika wajah Dita yang tadi ceria berubah mendung lagi, dan Dita seolah tak mampu menyembunyikan kesedihannya dari Evan.
"tuh kan ..mau mewek.. abang tau..kamu pasti ada masalah kalau datang ke sini..."Evan kembali bertanya kepada Dita namun belum sempat di jawab oleh Dita terdengar suara bariton dari belakang memanggil nama Dita.
"Dita...."suara keras itu keluar dari mulut Dito.
"apa yang kamu lakukan di sini dengan laki laki asing ini.."suara Dito terdengar lantang sembari menunjuk ke arah Evan.
__ADS_1
"eh...sabar sabar brow..gak usah pak'e emosi gitu tanyanya...santai santai..."Evan berusaha menenangkan Dito yang waktu itu terlihat sangat marah.
"jawab...!apa pantas seorang wanita yang sudah bersuami berduaan di taman seperti ini.." Dito kembali membentak Dita di hadapan Evan. Karena tidak tega melihat Dita yang sangat tertekan akhirnya Evan menyuruh Dita untuk pulang bersama suaminya.
Selama bersama dengan Dita belum pernah Evan berbuat kasar padanya, waktu melihat Dita sedikit tersinggung saja Evan sudah langsung minta maaf.
"Dita ...suami kamu benar.. sebaiknya kamu pulang saja ikut suami kamu.." jawab Evan lembut kepada Dita dan di jawab anggukan oleh Dita.
Dito segera membawa pergi istrinya dari taman itu, Dito mencengkeram tangan dan juga menarik tangan Dita.
Semakin di pendam Evan merasa tidak tahan melihat perlakuan Dito kepada Dita.
"hei brow...jangan kasar seperti itu memperlakukan wanita...jika kamu tidak bisa membuat dia bahagia setidaknya jangan buat dia menangis..."Evan berteriak di belakang Dito.
Mendengar ucapan Evan segera Dito menghentikan langkahnya.
"tau apa kamu tentang istri ku orang asing.." jawab Dito tak kalah ketus.
"orang asing...! jika menurut mu aku orang asing tidak begitu dengan adik ku itu..sebelum kamu menjadikan nya istri..aku sudah lebih dulu mengenalnya..dan anda memang menang karena sudah berhasil memilikinya...tapi apa anda bisa membuat dia bahagia ...anda hanya bisa membuat dia menangis...!Evan menekankan perkataan nya.
"lalu apa pedulimu ...? bukankah Dita ini istriku terserah aku mau berbuat apa..! Dito masih bisa membantah.
"tentu saja aku peduli tuan...Dita itu sudah seperti adik perempuan ku..dan aku tidak terima anda memperlakukan Dita seperti itu..saya bisa melaporkan anda pada pihak yang berwajib atas tuduhan KDRT ...! Evan menantang Dito.
Mendengar perkataan Evan membuat Dito berfikir , kalau saja benar akan di laporkan bisa masuk penjara aku, lalu ibuku bagaimana.
"sudah sudah...jangan ikut campur dengan urusan keluarga ku.."jawab Dito mulai melunak.
"baiklah...tapi ingat tuan..jika memang anda hanya bisa membuat Dita menangis serahkan saja dia padaku..aku yang akan selalu bisa membuat dia tertawa..." ingat itu, bentak Evan pada Dito sambil meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Dita merasa kaget mendengar ucapan Evan tadi, karena selama ini dia hanya merasa di anggap saudara oleh Evan tidak lebih.