
Hari ini Desta akan di imunisasi di kantor balai desa, sebenernya imunisasi tidak penting buat Bu Marni . Tapi tidak begitu untuk Dita, bagi Dita imunisasi bisa menambah kekebalan tubuh .
Dita sedang mengantri bersama dengan para ibu lain di balai desa.
Meskipun tidak saling kenal mereka asyik bercerita tentang tumbuh kembang anak masing-masing.
Tibalah saat nya nama Desta di panggil oleh Bu bidan yang sedang bertugas.
"atas nama Desta Alvaro"
"iya Bu..."jawab Dita.
"permisi ya ibu ibu..anak saya sudah di panggil.."pamit Dita sambil membungkuk kan badannya.
"di pegang ya Bu bayinya..ini nanti badan adeknya akan jadi panas ya.." Bu bidan memberitahu Dita.
" iya Bu..." jawab Dita sopan.
Setelah selesai Dita pulang ke rumah, Dita menempuh perjalanan dengan jalan kaki karena jarak antara rumah dan balai desa cukup dekat.
Setelah sampai di rumah Dita menidurkan anaknya di atas kasur. Ketika anaknya tertidur Dita mengerjakan pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan pagi tadi.
Matahari semakin panas , Desta pun sudah terbangun dari tidurnya.
Dita menggendong Desta yang mulai hangat badannya, mungkin karena pengaruh imunisasi tadi pagi.
__ADS_1
"kok anak mu dari tadi rewel terus kenapa Dit..apa dia sakit..? tanya Bu Marni pada menantunya.
"badan nya agak hangat Bu..mungkin efek tadi pagi habis imunisasi.."jawab Dita sopan.
"pake di imunisasi segala buat apa sih...orang anak sehat gitu kok di suntik..kurang kerjaan kamu..anak ku ni ya gak ada yang pernah aku imunisasi buktinya masih pada hidup sekarang...! bantah Bu Marni.
"bukan soal hidup apa mati Bu..kalau imunisasi itu kan memang penting untuk bayi..biar lebih kuat bayinya..kebal penyakit.."Dita menjelaskan pada mertuanya tapi sama sekali tidak di hiraukan.
"itu buktinya ...malah sakit kan ..nangis nangis terus dari tadi.. emang dasar kamu nya saja yang sok pintar..kalau saja tadi aku tau mau di imunisasi pasti sudah ibu cegah...gak penting itu.." bantah Bu Marni yang merasa paling benar.
Mendengar ocehan Bu Marni membuat Dita merasa sakit hati, akhirnya Dita meninggalkan Bu Marni sendiri di ruang tengah. Bisa merah telinga Dita kalau terus mendengar ocehan mertuanya.
Sampai malam hari Desta masih saja rewel. Badannya makin panas padahal Dita sudah meminumkan obat dari Bu bidan.
"kenapa sih anak kamu gak bisa diam..aku ini capek mau tidur..berisik terus dari tadi.." Dito membentak Dita yang sedang menggendong anaknya.
'"lagian siapa suruh kamu imunisasi dia..sudah tau bakalan kayak gini jadinya masih saja kamu mau...apa kamu gak kasihan lihat anak kamu nangis terus gitu.."Dito menaik kan suaranya.
"tapi ini kan untuk kesehatan Desta mas...biar gak gampang kena penyakit..."Dita membantah suaminya.
"Halah..kamu itu Dit kalau di bilangin suami bantah terus... bisa gak sih kamu itu nurut sama suami...suami kamu itu capek seharian kerja..ini malam mau tidur, istirahat malah kamu ganggu terus...sini biar anak kamu ibu yang gendong.." bentak Bu Marni kembali menyudutkan Dita.
"tidak usah...aku masih sanggup menggendong anak ku..ibu gak usah repot repot.."jawab Dita sambil berkaca kaca matanya karena merasa di keroyok oleh suami dan mertua nya.
"biar di gendong ibu kenapa sih..kamu tu jangan menambah kepala ku jadi pusing..apa ibu gak boleh gendong anak kamu..ha.." jawab Dito sambil membentak istrinya.
__ADS_1
"aku terus yang kamu salahkan mas.. apa kamu tidak sadar ibu kamu itu selalu menyudutkan aku mas..kalau seperti ini terus aku gak kuat mas.. hiks..hiks..aku mau pulang saja ke rumah orang tua ku hiks..hiks.."Dita menangis meratapi nasibnya.
"plak..."satu tamparan mendarat di pipi Dita.
"hiks..hiks..."Dita kembali menangis.
"memangnya ya apa yang kamu banggakan dari bapak kamu..ha, apa bapakmu memberi harta waktu kamu ke sini..makan saja kamu masih minta sama aku..ha..! Dito semakin menaikkan suaranya.
"kamu keterlaluan mas..dari awal kamu sudah tau kalau keluargaku miskin kenapa mesti kamu ungkit ungkit..itu lagi..! jawab Dita sambil menangis.
"sudah kalian berdua diam...apa kalian gak malu malam malam bertengkar di dengar tetangga tau.. kamu Dita diam..jangan membantah suami kamu terus..."bentak Bu Marni pada Dita.
Dita berjalan ke arah Bu Marni dan mengambil alih menggendong Desta, karena Desta sudah tidur Dita sudah tidak menjawab lagi makian suami dan mertuanya.
Dita hanya bisa menangis sambil memeluk anaknya.
Karena lelah menangis Dita akhirnya tertidur di kamar , dan pintu kamar sengaja Dita kunci dari dalam supaya Dito tidak bisa masuk.
Saat masih fajar Dita sudah terbangun dari tidurnya, dia berniat pergi dari rumah bersama anaknya. Rasanya Dita sudah tidak tahan lagi hidup bersama Dito. Dulu suami yang menyayangi nya sudah berubah kini tinggal Dito yang selalu memarahinya.
Dita hanya membawa barang yang memang dia perlukan. Baju anaknya lah yang penting untuk di bawa. Karena merasa situasi aman ,Dita langsung pergi dari rumah.
Kebetulan ada bus yang sedang lewat di depan rumahnya, Dita langsung naik bus itu. Memang Dita tidak berniat pulang ke rumah karena dia tidak mau menambah beban kedua orang tuanya. Dita hanya ingin menenangkan diri sejenak dari beban pikiran yang berat.
Setelah bus berangkat hati Dita merasa lega, Dita hanya ingin pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri sejenak. Bukan ke danau seperti biasanya, tapi Dita ingin pergi ke taman tempat dia dan Evan sering bersama dulu waktu masih duduk di bangku sekolah.
__ADS_1
Pagi harinya setelah Dito terbangun dia menuju ke kamarnya, pintu kamar sudah bisa di buka dari luar. Dilihat di dalam kamar Dita tidak ada,kemudian Dito mencari di dapur juga tidak ada.
"paling juga pergi ke danau..mau ke mana lagi dia selain kesana ..." dalam hati Dito bergumam sendiri.