
Dalam perjalanan pulang tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Dita. Hati Dita masih terasa sakit mengingat ucapan suaminya tadi malam. Hanya karena masalah sepele Dito dengan tega mengungkit masalah harta.
"kenapa kamu diam...padahal tadi aku lihat kamu begitu bahagia dengan kawan lama mu itu.. Hem.."Dito bertanya kepada istrinya sambil memicingkan bibirnya.
Tapi tak ada jawaban apa pun dari mulut Dita, dia masih enggan berbicara pada suaminya walaupun sang suami tak hentinya memarahinya di sepanjang perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah Dita langsung menidurkan anak nya di kamar, setelah itu dia melakukan tugasnya seperti biasa meskipun tak pernah ada obrolan antara dia dan suaminya.
Dua hari berlalu belum ada percakapan antara mereka , tapi walaupun tidak saling tegur sapa Dita masih mengerjakan semua kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Sampai suatu hari Dito sudah tidak tahan lagi dengan sikap Dita, dia pun memulai percakapan dengan istrinya.
"sampai kapan kamu akan diam seperti itu...jangan membuat aku bertambah pusing karena sikapmu..." tanya Dito pada istrinya.
"aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan mas...memasak, membersihkan rumah dan merawat anak adalah kewajiban dan tanggung jawabku,,dan aku tidak punya hak sama sekali untuk minta sesuatu darimu... maka dari itu aku cukup diam agar tidak membebani mu.."jawab Dita tegas.
"apa dengan kau diam semua masalah akan bisa selesai...? Dito kembali bertanya pada istrinya.
"setidaknya aku tidak minta macam macam mas...kalau makan aku rasa itu upah untuk aku yang sudah memasak dan membersihkan rumah.. tolong jangan kau ungkit itu...
__ADS_1
" jawab Dita.
"jadi kau marah karena itu...karena perkataan ku malam itu..." Dito mulai mengerti.
"aku tidak marah mas...justru aku bersyukur mas sudah memberi tau ku soal itu..makanya sekarang aku akan mengerjakan kewajiban ku dan tidak akan menuntut apa apa dari mas cukup diam dan mengerjakan semua tugasku itu saja..! jawab Dita dengan terus mengerjakan pekerjaan rumah tanpa melihat ke arah suaminya.
"sudahlah..jangan terlalu kau ambil hati semua omongan ku malam itu..waktu itu aku sedang emosi...yang lalu biarlah berlalu..aku saja sudah melupakan nya" ucap Dito yang sebenarnya ingin minta maaf tapi terlalu gengsi.
" buat mas kata kata itu mungkin sudah mas lupakan..tapi apa mas berfikir jika saja mas yang mendapat perlakuan seperti itu..apa mas bisa cepat melupakannya.." Dito terdiam mendengar ucapan istrinya.
"lebih dari dua puluh tahun aku menjadi tanggung jawab orang tua ku..tak pernah sekalipun mereka mengungkit masalah makan atau yang lainnya ,karena mereka tau sebagai orang tua mereka wajib memberi makan anak anaknya..
"teruskan saja apa yang mau kamu ungkapan ..jika itu bisa mengurangi beban mu.." ucap Dito.
"sekarang lebih baik kita berpisah saja mas..dari pada aku terus membebani mu..maafkan aku yang belum bisa membantu menghasilkan uang untukmu..tapi nanti setelah kita berpisah aku tak kan membiarkan anak ku lapar...aku akan bekerja keras untuk anak ku, dari kecil aku sudah terbiasa bekerja keras ...! lanjut Dita.
Dito seketika terdiam mendengar ucapan istrinya. Dia tidak menyangka ucapannya malam itu menorehkan luka yang begitu dalam bagi istrinya. Dito pun akhirnya meminta maaf pada istrinya dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
__ADS_1
Sebagai istri sebenarnya Dita merasa sangat sakit hati atas ucapan suaminya, tapi dia juga tidak boleh egois karena bagaimanapun anak mereka masih membutuhkan sosok ayah dalam kehidupannya . Dengan berat hati Dita memaafkan semua kesalahan suaminya.
Setelah mereka saling memaafkan , kehidupan sudah mulai berlanjut seperti biasanya, tiap bangun tidur Dita menyiapkan makanan , membersihkan rumah mencuci baju dan sebagainya. Sedang Dito sibuk bekerja mengutus usahanya yang sudah mulai berkembang.
"mas...sekarang adek kan sudah cukup besar..aku dulu sudah berjanji kalau adek besar akan membantu mencari nafkah untuk keluarga kita..lha kemarin aku dapat uang arisan ibu ibu RT..uang ini aku pakai buat modal usahaku ya..trus aku juga minta tambahan modal beli minuman biar bisa aku jual..." Dita bercerita pada suaminya.
"kamu mau di kasih modal berapa..? tanya Dito pada istrinya.
"cukup itu belikan minuman anak anak satu kardus sama minuman energi itu juga satu kardus...itu saja, aku yakin akan bisa bertambah besar nanti dagangan ku.." jawab Dita.
Dito pun menuruti perkataan istrinya, di belinya barang barang pesanan Dita , walaupun cuma sedikit Dita yakin dengan kerja kerasnya semua akan bertambah banyak.
saat mereka sedang menata dagangan Bu Marni datang melihat lihat isi toko yang sedang di rintis Dita, bukan Bu Marni kalau tak nyinyir soal apa yang di lakukan Dita.
"jualan kok barang begituan...itu nanti juga habis di makan sendiri. gak sampai dapat untung sudah bubar tokonya..." sindir Bu Marni pada Dita namun Dita sama sekali tak menghiraukan apa yang Bu Marni ucapkan, bagi Dita semua kata kata Bu Marni hanya angin lalu yang akan hilang begitu saja.
Sedikit sedikit Dita mulai bisa memenuhi kebutuhan nya sendiri, tidak lagi tergantung pada suaminya. Uang belanja yang dulunya hanya mengandalkan dari Dito kini sudah bisa dia tambahi sendiri karena kegigihan nya bekerja.
__ADS_1
Pelan pelan Dito juga mulai percaya kalau istrinya tidak hanya tergantung padanya tapi juga bisa hidup mandiri seperti yang di inginkan ibunya.