Goresan Hati Seorang Istri

Goresan Hati Seorang Istri
bab 33


__ADS_3

Lima tahun sudah Dita merintis usahanya, berkat ketekunan dan keuletannya sekarang mereka sudah bisa membangun kios untuk berjualan. Tak seperti dulu tempat berjualan Dita yang hanya sepetak, kini kios Dita sudah menjadi lebih besar.


Semua bahan sembako di jual Dita meskipun dengan porsi sedikit. Paling tidak kini Dita sudah bisa menopang perekonomian keluarga. Kebutuhan sehari hari yang dulunya hanya mengandalkan dari penghasilan Dito kini sudah bisa Dita hendel semua.


Desta pun sudah tumbuh menjadi anak yang pintar. Tahun ini Desta akan mulai sekolah taman kanak-kanak. Karena perekonomian sudah mulai membaik dan Desta juga sudah besar maka Dita dan Dito punya rencana untuk menambah momongan lagi.


"Dik...Desta kan sudah besar..apa kita gak seharusnya memberi adek buat dia, ..ya supaya Desta punya temen dik...gak kesepian..."tanya Dito pada istrinya.


"aku belum siap mas...nanti kalau aku ngidam aneh aneh lagi gimana..kalau aku mual pusing trus gak bisa kerja gimana... siapa yang akan urus dagangan ku dan juga urus Desta..."jawab Dita karena masih merasa belum siap untuk hamil lagi.


"kan ada aku yang bisa bantu dik..


.he .he.gimana..? Dito menggoda istrinya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"trus nanti kalau ibu protes gimana..mojokin aku terus...males ..males ah...aku belum siap...! jawab Dita sambil menggeleng geleng kan kepalanya.


"urusan ibu biar mas yang hadapi...kamu gak usah khawatir.. lagian sekarang kamu kan juga sudah bisa buktikan sama ibu kalau kamu bisa cari duwit sendiri gak cuma mengandalkan mas saja..!jawab Dito.


Mendengar ucapan suami nya


Dita mulai melunak, sebenarnya Dita juga sudah punya keinginan mempunyai bayi lagi tapi kalau ingat perlakuan suami dan mertuanya dulu membuat Dita menjadi trauma.


Setelah memikirkan selama berhari-hari akhirnya Dita setuju untuk hamil lagi, dengan syarat suaminya tidak boleh mengeluh saat Dita nanti jadi manja waktu hamil muda. Dita juga tidak mau kalau mertua nya selalu ikut campur urusan anaknya nanti. Cukup Dita saja yang merawat dan mengurus semua kebutuhan anaknya.

__ADS_1


Dito setuju dengan persyaratan yang di ajukan Dita, maka mulai hari ini Dita tidak akan KB lagi supaya segera mendapat momongan.


Nampaknya usaha mereka tidak berjalan mulus , nyatanya sudah hampir tiga bulan dari hari persetujuan itu Dita belum juga hamil sampai sekarang.


"mas...kok aku belum juga hamil ya...padahal aku kan sudah gak KB lagi..."tanya Dita pada suaminya.


"ya mungkin memang belum di kasih saja dik sama Tuhan..yang penting kita tetap berusaha dan berdoa supaya Desta bisa cepet punya adik.."Dito menyemangati istrinya dan dirinya sendiri.


Pagi itu Dita hendak ke kapas dan tidak sengaja berpapasan dengan Bu Wiwit.


"dik Dita...si Desta sudah punya adek belum..itu cucu saya sudah hampir dua lho..."tanya Bu Wiwit pada Dita.


"maaf Bu belum...mungkin belum di kasih sama yang di atas..yang penting saya sama mas Dito sudah berusaha...soal hasilnya bagaimana biar Tuhan yang atur..."jawab Dita bijak.


"kalau masalah siapa yang bantu sih Insya Allah saya bisa sendiri Bu tanpa harus di bantu orang lain..Desta juga sudah besar... udah ngerti lah kalau di suruh jagain adeknya bentaran.."Dita menjawab pertanyaan Bu Wiwit. "ya sudah ya Bu saya ke pasar sebentar mau belanja..barang barang di rumah banyak yang habis..."lanjutnya kemudian berpamitan dan pergi meninggalkan Bu Wiwit.


Dita berjalan menuju pasar yang kebetulan tidak jauh dari rumahnya.


Dita membeli barang barang yang stoknya tinggal sedikit di rumah. Setelah hampir satu jam Dita telah selesai dengan barang belanjaan nya.


Sesampainya di rumah sang suami masih tidur di kamar bersama dengan Desta. Dan Bu Marni sedang menyapu di dapur.


"Bu. tolong nanti kalau tokonya belum buka pintunya jangan di buka dulu ya..biar aku masaknya tidak terganggu..."Dita meminta tolong pada mertuanya.

__ADS_1


Tanpa menjawab Bu Marni pergi berlalu meninggalkan Dita yang sedang memasak di dapur. Saat Bu Marni duduk di teras depan di hampiri oleh Bu Wiwit.


"Bu Marni sudah siang gini kok pintunya gak di buka sih..masih di tutup saja.."tanya Bu wiwit pada Bu Marni.


"gak boleh di buka sama yang punya rumah Bu..katanya males kalau ada yang ganggu pas masak.."jawab Bu Marni ketus.


"lho..yang punya rumah kan Bu Marni sendiri...ya terserah Bu Marni kan mau di buka apa di tutup..."jawab Bu Wiwit sengaja mengompori.


"itu dulu Bu saya yang punya...sekarang kan ada yang lebih berkuasa di sini..saya berasa kayak numpang ..padahal di rumah saya sendiri..'bu Marni sengaja menaikkan suaranya agar di dengar oleh Dita.


Tapi bukannya Dita sakit hati malah terdengar dari dapur Dita sedang benyanyi seolah sedang menjawab sindiran sang mertua.


"itu denger kan Bu Wiwit.. sekarang sudah tau kan kelakuan mantu saya..gimana saya gak kesel coba kalau di bilangin pasti membantah..gak ada nurut nurutnya sama mertua.."Bu Marni membela diri di hadapan Bu Wiwit.


"emang menantu jaman sekarang kayak gitu kali ya Bu..gak ada takut takutnya sama mertua..mantu saya kadang juga kayak gitu Bu..sebel deh lihatnya.."jawab Bu Wiwit.


Kedua nenek nenek itu asyik menceritakan keburukan menantu mereka masing masing sampai lupa waktu. Saat mereka berdua sedang seru serunya bercerita muncul Dito di belakang ibunya.


"ibu...dari pada sibuk membicarakan keburukan orang lain lebih baik ibu mandi sana..terus sarapan nonton tv...gak nambah dosa..."Dito menasehati ibunya yang sedang bergosip ria.


"kamu Dit...sok pinter sekarang , sudah bisa menasehati ibu..ibu gak membicarakan siapa siapa..ibu hanya bercerita apa adanya..gak ada ibu menjelekkan orang yang ada kamu tu sekarang suka membantah kalau ibu bilangin..."jawab Bu Marni.


"ya sudah terserah ibu saja..yang penting Dito sudah memberi saran baik lho.."Dito kemudian meninggalkan ibu dan Bu Wiwit yang masih berada di depan rumah.

__ADS_1


__ADS_2