Goresan Hati Seorang Istri

Goresan Hati Seorang Istri
bab 29


__ADS_3

Keesokkan harinya Evan dengan penuh semangat berangkat ke kantor.


Sembari menyisir rambutnya di depan cermin Evan bersiul kegirangan.


"om kenapa sih..kok girang bener orang cuma mau berangkat dinas doang kok kayak mau ketemu cewek sih..."Sisil heran dengan kelakuan om nya.


"eh tau gak Sil..." tanya Evan


"apa an.." jawab Sisil santai


"masak ya ..kayaknya om lihat Tante Dita deh di Deket kantor om yang baru...sambil gendong anak kecil lagi.." Evan meminta pendapat Sisil.


"masak sih om..om gak salah lihat tu.. apa cuma kebayang bayang doang..."jawab Sisil ragu.


"gak tau juga sih..tapi kayaknya bener deh..makanya nanti om pas lewat depan rumahnya mau pelan pelan sambil pastiin itu beneran Dita apa cuma halusinasi om saja..." Evan menjelaskan " sama itu Sil..coba kamu cek di buku periksa kamu pasti ada alamatnya.."lanjutnya.


"busyet deh om..kira kira dong kalau mau nyiksa orang ,,masak iya aku suruh buka buku enam bulan lalu..gak ada yang lebih sudah lagi tu.."jawab Sisil menyindir om nya.


"pokoknya om tau beres...!dah ya om mau berangkat dulu by..." jawab Evan sambil keluar rumah dan melambaikan tangannya.


Setelah berpamitan Evan langsung menyalakan mesin mobilnya,di susuri jalan menuju tempat dinasnya.


Setelah mendekati rumah Dita seketika Evan mengurangi kecepatan mobilnya,dengan hati hati dia memperhatikan rumah Dita, seolah sudah berjodoh ternyata Dita sedang menyuapi anaknya di depan rumah.


Deggg...


Hati Evan berdetak kencang tak di sangka ternyata dia dipertemukan lagi dengan orang yang dulu pernah dia suka. Evan mengacak wajahnya kasar, dan memukul setir mobilnya.


"kenapa mesti Dita terus sih..apa mungkin aku berjodoh dengannya..! Evan berbicara sendiri sambil menyandarkan tubuhnya di jok mobil.


Sementara di rumah Dita sedang berusaha menyuapi Desta , sekarang Dita sudah membuatkan sendiri bubur untuk makan Desta.


Tapi entah kenapa nampaknya Desta tidak suka dengan bubur buatan Dita, terbukti saat di suapi Desta malah seperti mau muntah .


"itu kenapa Desta makannya kayak gak suka gitu...kamu kasih makan apa dia...? Dito bertanya pada istrinya.


"ini mas..aku coba kasih bubur buatan ku sendiri...biar gak boros maksut aku mas, tapi kayaknya si Desta gak suka deh..." Dita mencoba menjelaskan pada suaminya.


"emang biasanya kamu kasih makan apa..? tanya Dito.


"aku kasih bubur instan mas..tapi kata ibu bikin sendiri saja biar gak boros..lalu aku inisiatif buatin bubur buat Desta tapi malah gak suka dia.." jawab Dita.

__ADS_1


"ya sudah di kasih bubur instan saja..!apa kamu gak kasihan sama anak kamu..! nanti kalau ibu tanya bilang saja mas yang suruh.."Dito berkata tegas.


"iya mas...makasih ya.." jawab Dita pelan.


"makasih untuk apa.." Dito bertanya heran.


."karena mas sudah percaya sama aku..dan juga gak marah sama aku, aku tau beban mas bertambah sejak Desta lahir..aku janji mas nanti setelah Desta sudah bisa di ajak kerja , aku bakalan bantuin mas cari duwit gak akan Bebani mas lagi..." jawab Dita.


"iya aku tau..mas juga minta maaf ya kalau akhir akhir ini sering marahin kamu...! mas banyak pikiran..!jelas Dito.


kemudian satu keluarga kecil itu saling berpelukan mencurahkan kasih sayang nya. Nampak rona kebahagiaan dari wajah mereka masing masing, bayi Desta pun tak henti hentinya berceloteh ikut merasa bahagia bersama kedua orang tuanya.


Sejak tadi ternyata Evan masih mengamati Dita dari dalam mobilnya. Dia ikut bahagia kala melihat orang yang pernah dia sayang sudah menemukan kebahagiaan nya.


Tapi juga merasa sedih kenapa bukan dia yang berada di posisi itu tapi malah Dito, seandainya dulu Evan tidak meninggalkan Dita begitu saja, pasti mereka sekarang sudah bahagia bersama.


Di saat Evan sedang melamun tiba tiba handphone nya berbunyi, tertulis "Sisil bawel " sedang berusaha menghubunginya.


Tut..Tut..


"ini om Evan ke mana sih kok lama banget angkatnya.." Sisil menggerutu sendiri.


Tut..Tut...


"halo Sil ada apa..? tanya Evan judes.


"ih kok judes gitu sih **ngomong**nya.."


"iya maaf..ada apa kok pagi pagi telfon..tadi pagi juga baru ketemu.."


"ini om


Sil sudah dapat info tentang Tante Dita..om bener yang om lihat itu emang beneran Tante Dita..om gak lagi ngimpi .."! Sisil menyakinkan om nya.


"lha trus kenapa.." jawab Evan jutek lagi.


"katanya suruh cariin infonya ini Sil udah dapet kok om jawabnya gitu..nyebelin.."jawab Sisil sambil cemberut.


"iya om juga tau .." jawab Evan lemas.


"tau dari mana om..? tanya Sisil penasaran.

__ADS_1


"ini lagi di depan om orangnya.."


"bagus dong om.."jawab Sisil antusias.


"bagus apanya..ini om lagi lihat Dita peluk pelukan sama suaminya juga anaknya.."jawab Evan agak malas.


"ya bagus dong om..kalau gitu Tante Dita bahagia dong sama keluarganya.. sekarang giliran om yang cari pendamping..yang baik ya om jangan kayak Tante Vaness..hahaha..." Sisil berusaha menghibur om nya.


"iya...jangan bahas Vanes lagi..om jadi tambah pusing.."


"iya deh om maaf ..sudah dulu ya om..Sisil mau lanjutin kerja..by by om ganteng.."


Evan memutuskan sambungan teleponnya, kemudian menginjak gas menuju kantor tempat ia bertugas.


Sesampainya di kantor Evan mencari rekan kerjanya Yuda, berharap bisa sedikit mengurangi beban pikiran nya.


"pak lihat Yuda gak.." tanya Evan pada pak Tejo tukang bersih bersih kantor.


"kayaknya lagi di belakang bikin kopi den..coba di samperin ke sana.." jawab pak Tejo sembari menunjuk arah dapur dengan tangannya.


"makasih ya pak..! jawab Evan.


Setelah mengetahui keberadaan Yuda kemudian Evan menyusul nya, dan benar Yuda masih berada di dapur.


"Yud... sini deh bentar..aku mau curhat nih..."Evan memanggil Yuda dengan wajah sedikit memelas.


"apa...? Vaness lagi..bosen dengernya..."jawab Yuda sambil berjalan ke arah Evan dan menyerutup kopi buatannya.


"bukan..yang ini lain lagi..."jawab Evan.


"ada korban baru lagi rupanya.." Yuda meledek Evan.


"kamu inget Dita gak...si oon adek kelas kita dulu waktu SMA itu..


" Evan membuka percakapan.


"inget lah..pacar kamu bukan sih Dita dulu.."tanya Yudha penasaran.


"bingung juga sih jawabnya..di bilang pacar dulu aku gak pernah nembak dia..tapi kalau di pikir pikir rasa suka ada sih.."Evan menjelaskan pada Yudha.


"trus kamu tinggalin deh..lebih milih Vaness yang wuih..bahenol aje gile...haha..." Yudha malah meledek rekannya .

__ADS_1


"itulah kesalahan ku dulu yud..mataku tertutup oleh kecantikan Vaness yang jelas jelas cuma memperalat ku.."


Evan terbangun dari duduknya berjalan ke arah jendela melihat jauh ke depan sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


__ADS_2