Goresan Hati Seorang Istri

Goresan Hati Seorang Istri
bab 34


__ADS_3

Hari ini Bu Marni sudah bisa kembali berjualan di pasar setelah sempat libur beberapa waktu lalu. Seperti biasa Bu Marni berjualan lontong sayur dan juga lontong campur. Semua saudara Bu Marni berjalan di pasar , bahkan dagangan mereka pun sama.


"eh Mbah Marni...sudah mulai jualan lagi ya... memang sudah sembuh..? tanya ibu pedagang di sebelahnya.


"ya sudah lah Bu...masak mau tiduran terus di rumah...mau makan apa aku nanti..."jawab Bu Marni dengan merasa tak bersalah.


"alah Bu ..orang tua tu mau makan ya tinggal makan saja...anaknya yang di rumah kan pasti tiap hari masak..apa iya buat makan ibunya gak di kasih... "jawab ibu itu.


"ibu gak tau saja...mantu saya mana pernah kasih makan saya.. saya sakit saja gak pernah di kasih makan...yang ngasih makan malah itu adem saya.."jawab Bu Marni sambil menunjuk ke arah adeknya.


"masak gitu sih Mbah..mertua lagi sakit gak di kasih makan... apa mbahnya saja yang susah di ladeni...kalau saya lihat mantu Mbah Marni rajin kok..pagi pagi buta sudah kirim kirim barang pak'e motor...mana gak pernah di bantu suaminya ...di angkat sendiri..."ibu itu membantah perkataan Bu Marni.


Menang di mata Bu Marni , Dita tidak pernah ada baiknya.Dita tiap hari bekerja saja masih di sebut pemalas apa lagi kalau Dita baru sebentar istirahat pasti sudah di anggap pemalas oleh Bu Marni.


Memang setiap fajar menyingsing Dita selalu mengantar barang dagangan ke pasar, bukan kios milik dia sendiri tapi ada beberapa pedagang yang minta barang dari Dita. Pada awalnya Dito mau membantu mengantar barang bersama dengan Dita, tapi lama lama Dito susah di bangunkan ketika tiba saatnya mengantar barang.

__ADS_1


Di tambah lagi karena Dito pernah terjatuh yang mengakibatkan tulang ekornya cedera, yang membuat Dito tidak bisa mengangkat barang barang terlalu berat. Akhirnya Dita mengantar sendiri barang barang pesanan pedagang. Dengan sepeda motor yang di beri keranjang Dita mengantarkan barang barang pesanan pedagang.


Kalau barang yang di pesan banyak Dita bisa bolak balik sampai empat kali. Tentu saja sebelum azan subuh Dita harus mulai melakukan pekerjaan nya. Saat mengantar barang pun sebenarnya Bu Marni sering melihat tapi beliau memang seolah tidak mau melihat saat Dita sedang bekerja. Yang beliau lihat hanyalah ketika Dita sedang bersantai.


"ini kenapa pagi pagi gini motor sama keranjang sudah menghalangi jalan..di pindah apa gak bisa..tidur terus kerjaan nya..."Bu Marni berteriak di depan rumah kala masih gelap.


Mendengar teriakan-teriakan sang mertua segera Dita menghampiri nya karena Dita tau mertuanya berteriak karena ulahnya yang meletakkan motor persis di depan pintu.


"maaf Bu..ini tadi aku buru buru karena mau sholat dulu..makanya aku sembarang taruh motor di situ...ibu juga biasanya jam segini belum keluar ..ini kok sudah keluar..."tanya Dita sambil memindahkan motor beserta keranjang yang masih berada di atas motornya.


"kok gak ada gunanya sih Bu...tiap hari keranjang ini kan yang aku pak'e buat angkut barang...ibu juga liat sendiri waktu aku angkut barang..kok bisa bisanya bilang gak ada gunanya...bingung aku sama pemikiran ibu ..."Dita menjawab karena merasa jengkel pada mertuanya.


"sudah pinter melawan kamu sekarang ya...memang semua yang kamu lakukan sekarang ada gunanya..ha.."kalau bukan karena anakku mana bisa kamu seperti ini sekarang... ini semua berkat usaha anak ku bukan usahamu...ngerti kamu..."Bu marni semakin menaikkan suaranya.


"apa kamu ingat...ha..! dari mana kamu berasal...kamu itu cuma orang kampung yang tidak sengaja di pungut anakku ...masih beruntung kamu di beri makan..memangnya kamu kira masih ada laki laki yang mau sama kamu..! teriak Bu Marni.

__ADS_1


"sudah cukup ibu menghina ku..


sekarang gini saja ..kalau ibu memang tidak suka sama aku gak usah ikut campur semua urusan ku..mau aku kerja , santai atau tiduran terserah aku ..ibu gak usah peduli.."ucap Dita dengan santai.


"memangnya siapa juga yang peduli sama kamu..ibu tu gak suka sama kamu sejak awal kamu menikah dengan anak ku..seharusnya anak ku bisa dapat yang lebih dari kamu...dapat orang kaya, cantik gak kayak kamu..." jawab Bu Marni ketus.


"ya sudah ...sana suruh anak ibu cari istri yang cantik sama kaya...sapa tau dapat yang lebih dari aku...mumpu masih pagi..sana buruan di bangunin ..."Dita malah meledek ibu mertuanya.


"he..Dita ...! kamu pikir ibu sedang bercanda...ibu gak akan segan segan memisahkan kalian kalau sikap kamu tidak hormat sama ibu..."bentak Bu Marni.


"Dita juga gak lagi bercanda Bu...Dita juga serius...sudah sana bangunkan anak kesayangan ibu..itu pintunya tidak di kunci...Dita juga ikhlas lahir batin kalau mas Dito mau menuruti permintaan maha baik ibu Marni..." jawab Dita.


Semenjak Dita bisa mencukupi kebutuhan sekarang Dito menjadi pemalas, sakit sepele saja sudah kayak sakit parah. Dita merasa tidak takut kalau pun harus benar benar berpisah dari Dito.


Karena sekarang Dita sudah bisa memenuhi kebutuhannya tanpa harus tergantung pada suaminya.

__ADS_1


__ADS_2