Goresan Hati Seorang Istri

Goresan Hati Seorang Istri
bab 28


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, namun Dito belum juga pulang ke rumah. Memang sejak mereka mempunyai anak Dito jarang menghabiskan waktu di rumah kala malam hari, Dito lebih senang berkumpul dengan teman temannya di banding menemani sang istri mengasuh anak mereka.


Dito beralasan jika sering berada di rumah akan bertambah bosan karena anaknya sering rewel. Tiap malam saat Dito ingin beristirahat Desta sering menangis, hal itu yang membuat Dito menjadi malas berada di rumah.


"mas Dito jam segini kok belum pulang ya..maen ke rumah siapa ya.." Dita bergumam sendiri di dalam kamar.


oek..oek...


Desta tiba tiba menangis, mungkin sedang mengompol atau haus. Dita kemudian menyusui anaknya dengan penuh kasih sayang.


"kenapa bapakmu sekarang jadi galak sama ibu nak..apa ibu salah kalau pengen mengasuhku dengan hati hati..ibu kan cuma nurut apa kata Bu bidan saja.."gumam Dita sambil membelai lembut rambut anaknya yang membuat Desta merasa nyaman dan akhirnya tertidur.


Karena sudah larut malam Dita tertidur sambil menyusui Desta. Entah jam berapa Dito pulang ke rumah, setahu Dita ketika dia terbangun sudah ada Dito di sampingnya.


Dita segera bangun dari tidurnya, mencuci pakaian Desta yang kotor karena terkena air kencing tadi malam. Tak lupa Dita juga memasak untuk sarapan selagi Desta belum bangun.


"tumben jam segini kamu sudah bangun...biasanya juga masih ngorok.."tanya Bu Marni pada Dita ketus.


"mumpung adek belum bangun Bu..aku masak sama beres beres dulu, nanti kalau adek bangun pasti gak bisa karena gak ada yang gantian jagain adek.."Dita menjawab pertanyaan Bu Marni.


"Oh gitu..jadi sekarang kamu sudah merasa hebat, bisa bangun pagi, pak'e acara ngajarin ibu lagi..emang cuma kamu saja yang pernah ngurus bayi...'"jawab Bu Marni sambil bertolak pinggang di hadapan Dita.


"memang kenyataannya seperti itu kan Bu...! gak ada yang bantuin aku ngurus Desta..mas Dito tiap aku mintai tolong jagain pasti gak mau.. alasannya Desta suka nangis lah.


rewel lah.." jawab Dita berani.

__ADS_1


"Desta itu nangis karena kamu gak becus urus dia..kalau kamu pinter gak bakalan Desta nangis terus..paham kamu.."!protes Bu Marni dengan suara ketusnya.


"bodo amat Bu..tetep saja aku yang salah..memang di mata ibu aku kan gak pernah ada benarnya.." jawab Dita sambil meninggalkan dapur dan kembali ke kamar.


Di dalam kamar Dita hanya diam dan sesekali mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi. Merasa sedih hati Dita karena kehadiran anak bukannya menambah kebahagiaan tapi malah membuat dia bertambah menderita.


Tapi seberat apapun Dita akan tetap bertahan demi anaknya, Dita berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berjuang untuk bisa menghasilkan uang sendiri tanpa harus tergantung lagi pada suaminya.


Kekurangan ekonomi memang bisa membuat rumah tangga menjadi bermasalah, kebutuhan hidup semakin bertambah sementara pendapat cuma segitu saja belum ada perubahan.


Pagi itu Dita akan membuatkan makan untuk anaknya. karena sudah berumur enam bulan kini Desta sudah mulai belajar makan.


"hak..hak..maem..maem.." Dita menyuapi Desta dengan sangat hati hati. Dita tidak menyuapi Desta dengan bubur buatan nya, tapi Dita menyuapinya nya dengan bubur siap saji yang di jual di warung warung dekat rumahnya.


Dita hanya bisa menghela nafas tiap kali mendengar kata kata menyakitkan dari mertuanya,mau di bantah pun percuma malah akan menambah masalah saja.


Di tempat lain


Mulai besuk Evan akan di pindahkan ke kantor baru, dia mempersiapkan apa apa yang akan di butuhkan nanti di tempat dinas barunya.


"kok malam malam gini beres beres om..gak besuk aja emang nya.."tanya Sisil pada om nya yang terlihat sibuk membereskan tas besar berisi seragam dinas.


"iya ni..mulai besuk om akan di pindah ke tempat baru..sapa tau om bakalan ketemu jodoh om di sana.." jawab Evan sembari masih membereskan pakaiannya.


"katanya mau cari tau tentang Tante Dita...kok ini malah mau cari jodoh sih..om gak jelas.."

__ADS_1


"kamu kan juga tau Sil kalau Tante Dita sudah nikah..sudah punya anak lagi...masak om mau jadi pembinor sih..apa kata dunia.."jawab Evan dengan sombongnya.


"eleh..bilang aja om ganjen..gitu aja kok gak mau ngaku..dasar perjaka tua..UPS..Sisil keceplosan.."seketika Sisil menutup mulut dengan kedua tangannya.


"dasar keponakan kurang ajar kamu ya..., sudah sana masuk kamar, om mau tidur..besuk bisa telat kalau ngurusin kamu terus..."


"by..by .om ganteng.."Sisil melambaikan tangannya .


Keesokkan paginya dengan semangat Evan merapikan penampilannya di depan cermin, memakai minyak rambut, disisir rapi rambutnya memakai seragam menambah gagah penampilan Evan.


Menyetir mobil sambil bersiul, sesekali melihat kanan kiri suasana baru tempat dia akan bertugas.


"jauh juga ya kalau dari rumah..dari tadi kok belum sampe sampe.. ini bahan bakar mau habis lagi..mana pom bensin ya.."Evan bergumam sendiri di dalam mobilnya.


Evan memperlambat laju mobilnya sembari mencari tempat pengisian bahan bakar. Tibalah dia ditempat pengisian bahan bakar yang sudah semakin dekat dengan kantor nya sekarang.


Setelah selesai mengisi bahan bakar Evan melanjutkan kembali perjalanan. Tanpa di sengaja Evan sepertinya melihat seseorang yang dia kenal, mau berbalik arah tidak mungkin karena Evan sudah hampir telat berangkat ke kantor.


"apa mungkin itu dia ya...masak sih itu beneran dia...kok bisa kebetulan gini ceritanya.." dalam hati Evan bergumam.


Sekitar lima menit Evan sudah memasuki area parkir tempat ia di pindahkan , dalam fikiran Evan masih terbayang bayang apa yang dia lihat tadi . Evan kemudian masuk ke dalam kantor menyalami semua rekan kerjanya yang baru. Rekan rekan kerja Evan menyambut baik kedatangan Evan.


"Selamat datang Bripda Evan..semoga betah bertugas di sini.." rekan Evan memberikan hormat.


"siap..terima kasih.." Evan juga memberikan salam hormat untuk rekan kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2