Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Pria Dingin milik Bu RT


__ADS_3

Devi mencoba melihat lembaran kertas yang diberikan Ajeng. Wanita itu sibuk menyedot boba milk rasa Macha yang ia beli di depan halte Busway. Tentu saja Ajeng tidak lupa membelikan untuk Devi, teman kantor dengan rasa Taro, namun sampai saat ini wanita berbadan gemuk itu belum menyentuh minuman pemberiannya, karena masih sibuk dengan kertas brosur yang dibawa Ajeng.


Seperti biasa sebelum pulang ke rumah, ia mampir dulu ke rumah Devi untuk sekedar curhat atau memberikan solusi, salah satunya dengan memberikan brosur yang ia dapat dari salah satu temannya yang lain.


"Apa ini?" tanya Devi tidak tau apa maksud dari isi brosur tersebut.


"Brosur GYM siapa tau lu mau latihan di sana." jawab Ajeng masih sibuk dengan Boba yang tidak mau terhisap oleh sedotan.


"Gua enggak mengerti?" tanya Devi yang kebingungan dengan prosedur GYM tersebut.


"Besok hari Minggu, kita ke sana bersama. Bagaimana?" Tawar Ajeng.


"Setuju." Devi tersenyum.


"Oh ya, bagaimana kemarin malam? Apa lancar?" tanya Ajeng penasaran dengan kejadian semalam saat tidak ada dirinya diantara mereka.


"Memang apa yang kau harapkan?" tanya Devi.


"Ya, seperti percikkan-percikkan api cinta gitu." balas Ajeng berharap ada sesuatu dari kejadian semalam.


"Tidak ada apapun diantara kami. Lagi pula dia pria yang susah ditebak dan aku benci teka-teki." jelas Devi.


Ajeng memoyongkan bibirnya tanda kecewa.


"Tapi bukannya kau suka dengannya? Kenapa jadi aku yang kena!" Tunjuk Devi kesal tepat di depan wajah Ajeng.


"Wah, gua lupa tuh. Kayanya itu cuma sekedar cinta monyet." balas Ajeng membela diri dan tertawa terbahak-bahak.


"Siapa pria itu?" tanya Mami yang tiba-tiba muncul dari balik tirai dapur.


Devi menghela napas berat. "Lupakan saja." ucap Devi putus asa.


Mami melihat Ajeng mengangkat dagunya tanda bertanya pada wanita itu. Ajeng mengangkat kedua pundaknya, tanda tidak tau apa-apa. Tentu saja Mami sangat kecewa, padahal dirinya sudah berharap Devi, putrinya dekat dengan seorang pria.


"Wah Dev, aku yakin kalau kau menikah pasti akan sangat meriah." jelas Ajeng.


"Bagaimana kau tau itu?" tanya Devi.


"Karena mereka begitu berharap kau memiliki kekasih. Coba orang tuaku seperti orang tuamu, bahagianya aku." Curhat Ajeng memberitahu tentang masalahnya.

__ADS_1


Devi menghela napas, mencoba membuang keluhnya pada napas panjang. Ini sangat tidak mudah, ia berusaha memberikan yang terbaik pada keluarga dan orang-orang di sekitarnya, tapi tetap saja itu dinilai belum cukup untuk memenuhi semua keinginan dan impian mereka.


"Kalau begitu besok pagi jam 8 gua akan menemanimu." ucap Ajeng mencoba membereskan semua barang dan dokumen.


Ya, itu adalah alasan lain Ajeng mengunjungi rumah Devi. Saat jam pulang wanita itu dipanggil untuk menghadap Bu Rita di ruangannya, meminta Ajeng untuk mengambil beberapa dokumen pada Devi.


"Mau ku antar sampai ke halte?" tawar Devi.


"Tidak usah, aku sudah biasa pulang sendiri, dah ... Tante Ajeng pulang ya!!" teriak Ajeng dari luar, mencoba berteriak ke dalam rumah.


"Ya!! Hati-hati di jalan!!" Balas Mami dari dalam dapur.


Ajeng melambaikan tangan pada Devi, tanda ia akan pergi untuk pulang, dibalasnya lambaian tersebut oleh Devi seraya memberikan senyuman manis membuat lesung pipi yang tidak cukup dalam timbul di permukaan karena pipi yang chubby.


"Ajeng sudah pulang?" tanya Mami muncul dari balik tirai dapur.


"Baru aja pergi." jawab Devi.


"Astaga padahal biar kamu ada teman jalan."


"Memang ada apa Mam?" tanya Devi penasaran.


"Antarkan pesanan ini ke Bu RT ya." Suruh Mami memberikan senyuman merayu.


~*~


Dengan langkah malas Devi mencoba mencari alamat yang diberikan Mami, ke rumah Bu RT. Walaupun ia sudah 25 tahun tinggal di kompleks perumahan ini, Devi tidak tau di mana rumah Bu RT yang baru. Ia hanya tau Bu RT yang lama, terakhir kali ia mengetahui pemilihan RT baru saat dirinya duduk di bangku SMA itu artinya 10 tahun ia tidak mengetahui kabar terbaru di kompleks tempatnya tinggal.


Devi menghela napas berat. Mencoba mencocokkan alamat yang tertera pada selembar kertas dan papan rumah.


"Kau cari siapa?" tanya seorang Pria.


Sontak itu membuat Devi terkejut, dengan cepat menoleh ke sumber suara. Tepat di depan berdiri seorang pria yang memakai setelan kantor memiliki tubuh kurus dan tinggi yang hampir sama dengan Devi, mungkin pria itu memiliki tambahan dua jengkel. Kalau tampang, sepertinya biasa saja seperti Pria kebanyakan.


"Ini rumah Bu RT, kan?" tanya Devi menunjuk rumah tersebut.


"Iya, ada apa?" tanya Pria tersebut melihat Devi kembali.


Dengan ragu-ragu Devi memberikan tas jingjing yang ia pegang sedari tadi pada Pria yang ada di depan. Pria itu melihat tas tersebut.

__ADS_1


"Ya ampun Neng Devi, maaf ya lama!" Sambut seorang wanita yang sepertinya itu adalah Bu RT.


Dengan cepat Devi menurunkan tas jingjing yang ia angkat untuk menjauh dari depan Pria tersebut, menoleh kaget melihat Bu RT yang berjalan membukakan pintu gerbang.


"Eh, jagoan Bunda sudah pulang. Bagaimana pekerjaannya?" tanya Bu RT pada Pria yang ada di belakang Devi.


Devi menoleh, melihat Pria tersebut mencoba menundukkan kepala tanda memberi salam, namun tidak ada reaksi apa pun darinya, itu membuat Devi merasa tidak nyaman. Pria itu hanya diam dan melangkah masuk ke dalam rumah. Devi memilih memberikan tas jingjing yang dipegangnya pada Bu RT.


"Ini titipan dari Mami." ucap Devi.


"Wah, terima kasih. Ayo mampir dulu." Bu RT menerima tas tersebut dengan senang hati.


Sebenarnya Bu RT adalah saudara tiri Bapak yang sangat membantu keluarga. Bahkan Devi tau ia dilahirkan dari uang siapa.


Devi menggeleng. "Maaf Tante, Devi masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, apalagi ini sudah malam, nanti Bapak khawatir." Memberikan alasan.


"Bapak mu memang selalu begitu. Kalau begitu kapan-kapan datang main ya." ucap Bu RT berharap.


"Insyaallah. Devi pamit pulang Tante. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Devi melangkah pergi meninggalkan rumah tersebut. Seharian ini Devi tidak melihat sosok Jaka, bahkan saat ia olahraga pagi pun Pria itu tidak terlihat batang hidungnya. Apakah ada masalah?


Bahkan Devi belum tau siapa Pria yang kemarin bersama dengan Jaka. Dengan cepat Devi memukul-mukul kepalanya untuk menyingkirkan pikiran tentang Pria tersebut.


PING!


Ada sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Devi. Dengan cepat Devi merogoh saku celana untuk mengetahui siapa yang mengirimnya pesan.


"Astaga Ajeng." Dengan cepat Devi pun membalas. Devi menekan tombol untuk menelpon, agar ia ada teman saat jalan pulang.


~*~


Mami terus membangunkan Devi. Karena selesai shalat subuh, wanita itu tidak kuat menahan kantuk karena semalam Devi bergadang untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, itu artinya hanya 3 jam Devi tidur sampai akhirnya harus bangun untuk shalat subuh, selesai shalat ia tidur kembali karena mengantuk.


Dengan menahan rasa kantuk, Devi berusaha melihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul setengah enam.


"Jadi olahraga, tidak?" tanya Mami.

__ADS_1


Devi mengangguk pelan.


__ADS_2