Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Pria Misterius


__ADS_3

Drrreeettt....drreettt....


Sebuah ponsel bergetar menampilkan layar ponsel yang menelpon si pemilik ponsel tersebut dilayar tertulis "Mami".


Si pemilik ponsel sebenarnya sudah mengetahui suara getaran dari ponsel walaupun ia tidak memberikan nada dering untuk penanda.


Wanita itu hanya menoleh melihat ponsel tersebut dengan tatapan kesal, mungkin karena tatapan menakutkannya itu, membuat ponsel tersebut terdiam memadamkan cahaya dari layarnya.


Ia menghela napas dan kembali menatap layar monitor di depannya, mencoba melepas kacamata dengan pelan diletakkan di meja dan mulai memijat ujung tulang hidungnya yang terasa sakit karena bantalan dari kacamata yang ia pakai.


"Astaga, sampai kapan pekerjaan ini selesai? " tanyanya pada diri sendiri yang memang kenyataan ia harus menyelesaikan dokumen yang diberikan oleh atasan dan karyawan senior.


Sebenarnya ia sudah bekerja selama 5 tahun di perusahaan ini, namun itu belum cukup untuk dibilang kalau dirinya karyawan senior karena ada yang lebih lama darinya.


Desi Aldiva adalah seorang wanita karir berusia 25 tahun yang berkerja sebagai karyawan di perusahaan pemasaran produk luar Negeri yang akan masuk ke dalam Indonesia. Ia mencoba menoleh melihat sekeliling, suasana kantor tempatnya berkerja sudah gelap gulita yang terang saat itu hanya layar monitor tempatnya ia duduk dan lorong ruang kantor itu terlihat dari pantulan cahaya dari kaca yang menjadi pembatas ruangan.


"Baiklah ini yang terakhir." Desi Aldiva mencoba merenggangkan setiap sendi-sendi jarinya lentik.


~*~


Devi melirik jam pada layar monitor menunjukkan pukul 6 sore lewat, itu artinya ia sudah melewatkan sholat Maghrib, jika ayahnya tau soal ini mungkin ia akan mendapat masalah, karena beliau selalu menyuruhnya untuk tidak meninggalkan ibadah bagaimanapun keadaannya.


"Sekali-kali deh." ucapnya dengan tangan gerak cepat membereskan beberapa dokumen yang berserakan di meja kerjanya dan berniat untuk meninggalkan tempat tersebut.


Di lihatnya sepatu heels berwarna hitam tepat di kolong meja kerja berdiri gagah menunggu kaki si pemilik untuk dipakai, namun sepertinya Devi sudah mulai lelah dengan heels tersebut untuk seharian ini, bagaimana tidak, ia bisa merasakan setiap lecet pada kakinya. Dengan cepat tangan kanan Devi meraih sandal jepit yang bersebelahan dengan sepatu heels tersebut.


"Baiklah ayo kita pulang." Mematikan komputer dan beranjak dari tempat duduknya.


Ia bisa mendengar suara sandal jepitnya di kantor yang hening, tetap saja itu tidak membuat Devi takut, walaupun ia selalu mendengar cerita miring tentang tempatnya berkerja.


Ting!


Suara lift terbuka, dengan langkah percaya diri Devi melangkah masuk ke dalam lift tersebut.


"Tunggu!!" teriak seorang pria.


Dengan gerak cepat Devi pun mencoba memencet tombol buka pintu tanpa menaruh curiga pada suara pria itu, benar saja seorang pria berkacamata berlari masuk ke dalam lift dan bergabung bersamanya.


"Terima kasih." Pria itu tersenyum pada Devi menampakkan lesung pipinya, manis sekali.


Namun Devi tersadar atas dirinya, tidak mungkin ini akan menjadi pertemuan yang menjadi cinta pandangan pertama karena ia menyadari penampilannya tidak secantik dan seseksi rekan kerjanya. Pokoknya jauh kata impian setiap pria. Ya tidak ada yang suka wanita kacamata yang tidak pernah berdandan dengan yang rambut yang selalu digulung, bahkan kulit yang ia miliki tidak sehalus dan selembut wanita lain yang selalu dirawat.


Devi memperhatikan pria yang membelakangi dirinya, tanpa ia ketahui ternyata pria itu memandangi dirinya dengan memberikan senyuman manis itu lagi, itu membuat Devi canggung, ia pun hanya mengangguk membalas senyuman pria tersebut.

__ADS_1


"Kau lembur?" tanyanya.


"I-iya."


"Luar biasa." Pujinya.


Devi memegangi tali ranselnya, mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


"Lalu anda sendiri?" tanya Devi.


"Ada dokumen yang tertinggal dan aku baru diberitahu kalau dokumen itu ada di ruang kerjaku."


"Pasti melelahkan?"


Pria itu tersenyum. "Ya begitulah."


Ting!


Devi dan pria itu bersama-bersama melangkah, mereka pun melangkah mundur bersamaan pula, itu membuat Devi canggung.


Silakan kau duluan." Pria mempersilakan Devi untuk keluar lebih dulu.


"Tidak apa-apa, anda duluan saja."


Mendengar itu Devi mengangguk mengerti, ia pun melangkah keluar dari lift berjalan mendahului si pria.


"Mbak Devi lembur lagi?" tanya satpam yang membukakan pintu.


"Iya pak Eko, kerjaan banyak besok harus sudah kelar."


"Ya ampun, mbak Devi emang benar-benar wanita karir yang hebat."


"Terima kasih." Langkah Devi terhenti saat ia ingat pria misterius yang bersamanya di lift, pria itu berjalan keluar tanpa menyapa pak Eko si satpam itu juga posisinya membelakangi si pria, karena penasaran Devi pun mencoba mencari informasi tentang si pria tersebut.


"Bapak kenal pria itu nggak?" tunjuk Devi.


"Pria mana?"


"Itu pria yang di belakang?"


Pak Eko pun menoleh ke belakang. "Yang mana?"


Devi merasa kecewa karena pria itu sudah meninggalkan tempat dengan mobilnya.

__ADS_1


"Udah pergi Pak, Bapak telat." ucap Devi kecewa. Devi pun melangkah meninggalkan pak Eko dengan tatapan binggung.


~*~


Kota Jakarta di malam hari begitu indah jika hening, namun dalam hening pun dapat menimbulkan dampak untuk wanita seperti Devi, namun sepertinya ia tidak perlu takut, karena sudah lima tahun ia melakukan hal seperti ini duduk menunggu Transjakarta jurusannya datang. Jujur saja ia lebih menyukai suasana Busway sepi seperti ini karena bisa memilih kursi yang diinginkan di mana lagi kalau bukan di dekat jendela.


Dengan mata sedikit kantuk, Devi mencoba melihat pemandangan kota di malam hari, matanya yang berat kembali terbuka lebar bersamaan dengan lampu merah begitu pula mobil hitam yang ada di samping Busway yang ia tumpangi. Devi kembali melihat pria misterius yang bersamanya di lift.


Pria itu sepertinya tidak menyadari kehadirannya karena sibuk melihat sebuah majalah itu terlihat jelas oleh Devi majalah apa yang sedang ia baca, Devi tertunduk memperhatikan dirinya dan wanita yang ada di majalah berbeda sangat jauh. Saat lampu kembali hijau mereka berpisah dengan jalur yang berbeda, mobil si pria ke kiri, sedangkan ia masih lurus.


~*~


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam, ya tunggu!" Seorang wanita berusia 45 tahun mencoba membuka pengait pintu dan gembok. Dilihatnya seorang wanita dengan pakaian kantor berdiri melihat dirinya.


"Astaghfirullah! Udah jam berapa ini!"


"Maaf Mam, Evi lembur."


"Lembur lagi? Emang tuh kerjaan kga bisa buat besok apa!?"


"Kga."


"Masuk, masuk."


Devi pun melangkah masuk, ia melihat ibunya mengunci pintu rumah kembali.


"Eh, Bapak." sapa Devi saat melihat seorang pria paruh baya berdiri dengan setelan kaos oblong dan sarung melihat Devi dengan tatapan serius, itu membuat Devi yang awalnya ingin mengajak becanda menjadi ciut.


"Lembur lagi?" tanya Bapak.


Devi mengangguk pelan.


"Ya sudah, bersihkan dirimu,"


"Bagaimana sholatnya?" tanya Bapak membuat langkah Devi terhenti.


"Alhamdulillah lancar pak." jawab Devi berbohong.


Bapaknya pun mengangguk percaya. Mami melihat Devi, ia tau jika putrinya itu sudah berbohong pada Bapaknya tentu saja dengan cepat Devi memberi isyarat untuk tidak melapor pada Bapak, barulah Mami mengangguk mengerti.

__ADS_1


__ADS_2