
Devi terus memikirkan kejadian saat Jaka bertemu dengan pria asing itu. Dilihatnya Jaka yang duduk di depan, sibuk dengan menu yang dipesan. Mulut Devi terkantup namun rasa ingin bertanya sangatlah besar, tapi tidak ada keberanian untuk mengatakannya.
Kafe yang mereka datangi semakin malam semakin ramai. Banyak muda-mudi yang menjadikan Kafe ini sebagai tempat tongkrongan mereka. Mereka bisa bernyanyi dan tertawa terbahak-bahak bersama kawan-kawan dari kelompok masing-masing.
Ya, walaupun ramai tetap saja di meja mereka hening dan sepi. Tidak ada sepatah katapun yang keluar. Itu membuat Ajeng jenggah.
"Astaga Devi kenapa kau diam saja!?" tanya Ajeng.
Devi melihat Ajeng merasa bersalah.
"Apa gara-gara ada Jaka?" tanya Ajeng menunjuk Jaka yang sibuk dengan ponsel. Karena Ajeng menunjuk dirinya, ia pun menoleh melihat Ajeng dan kemudian melihat Devi.
"Apa itu benar?" tanya Jaka memastikan.
Devi hanya diam, ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Kalau begitu aku pergi dari sini." Pamit Jaka.
"Tidak usah. Gua juga udah disuruh pulang sama nyokap. Gua duluan ya Dev, semangat buat dietnya."
"Mau gua antar sampai Halte?" tawar Devi.
"Nggak usah, gua naik Bang Jek. Noh, udah nunggu abangnya. Dah ..." Melangkah keluar dari Kafe.
Mata Devi masih mengikuti setiap langkah Ajeng sampai wanita itu akhirnya hilang bersama ojek online yang dipesan. Devi pun kembali ke posisi semula, dilihatnya Jaka yang sama-sama melihat dirinya.
"Ke-Kenapa?" tanya Devi canggung.
"Hanya kesal saja." ucap Jaka mencoba memakan es batu yang tersisa di gelas.
"Kesal pada siapa?" tanya Devi, berharap Jaka mengungkap siapa Pria misterius yang bersamanya barusan.
"Denganmu."
"Denganku? Kenapa?" tanya Devi terkejut saat mengetahui siapa yang membuat Jaka kesal.
"Kenapa kau ingin menurunkan berat badan?" tanya Jaka seraya memandangi Devi begitu serius.
"Ya, karena aku ingin mengubah takdir saja."
"Mengubah takdir kalau seharusnya kau gemuk, tapi ingin kurus?" tanya Jaka.
Ucapan itu sangat menusuk pada dada Devi. Sepertinya ia tidak begitu suka dengan ucapan dari mulut seksi Jaka.
"Memang kenapa kalau aku kurus? Apa itu menjadi masalah untukmu?" tanya Devi berusaha tidak kemakan emosi, ia berusaha tetap tenang.
Jaka bisa melihat mata Devi yang sudah berkaca-kaca menahan emosinya. Wanita itu pun berdiri mencoba untuk meninggalkan tempat duduknya.
"Karena aku lebih suka Devi yang gemuk!" Ungkap Jaka tegas.
__ADS_1
Devi menoleh ke belakang, melihat Jaka yang sama melihatnya. Perlahan Jaka pun berdiri dari duduknya, mencoba mendekati Devi.
"Sudah malam. Aku akan mengantar mu pulang." Melangkah mendahului.
"Apa yang dia bicarakan? Apa aku salah dengar?" Gumam Devi.
~*~
Kepala Devi terus tertunduk memperhatikan kaki gempal-nya yang berjalan selangkah demi selangkah.
Langkahnya yang pendek mengikuti Pria yang ada di depan, sesekali Devi melihat Jaka dari bagian belakang, tampak bagian punggung yang begitu gagah dan perkasa, itu terlihat dari otot lengan yang nampak pada lengan kemeja yang Jaka kenakan.
Buk!
Tanpa sengaja Devi menabrak punggung seseorang. "Ma-Maaf." ucapnya merasa bersalah. Saat ia mencoba melihat siapa yang ia tabrak, ia sangat bersyukur, ternyata Jaka dan bukanlah orang lain.
"Kau melamun?" tanya Jaka.
"Ti-Tidak!" Tolak Devi.
Jaka mengangkat dagunya keatas dengan cepat. "Rumahmu." ucapnya.
Devi menoleh kanan, ternyata mereka sudah sampai. Devi merasa. Kenapa saat bersama Jaka begitu cepat sekali selesai.
"Terima kasih." Devi pun melangkah menuju pintu.
Tentu saja Jaka tidak pergi sebelum ada yang keluar membukakan pintu. Sampai akhirnya pintu rumah Devi pun ada yang membukakan.
"Astaga, kamu pulang sendiri?" tanya Mami.
"Aku sama ...?" Tunjuk Devi.
"Sama siapa?" tanya Mami.
Devi menoleh, ternyata Jaka sudah pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Lupakan saja." Devi memaksa masuk.
"Mami kira kamu bakal diantar pria ganteng." ucap Mami mencoba mengunci pintu.
"Bapak belum pulang?" tanya Devi mengalikan perhatian.
"Dia nganter barang ke luar kota katanya. Mungkin besok pagi pulangnya." Jelas Mami.
Devi dan Mami pun melangkah menuju kamar masing-masing. Devi mencoba melihat email pada laptopnya. Ada pekerjaan baru yang harus Devi selesaikan besok.
"Karena aku lebih suka Devi yang gemuk!"
Ucapan itu terus bergema di telinga Devi.
__ADS_1
~*~
"Selamat pagi Pa, Mam." sapa Devi saat ia bergabung dengan orang tuanya.
"Bapak pulang jam berapa?" tanya Devi.
"Jam 3 malam." jawab Bapak, mencoba membantu Mami. "Kau mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya Bapak saat melihat Devi, putrinya berjalan menuju pintu keluar.
"Olahraga." jawab Mami. Devi kalah cepat saat ia ingin menjawab pertanyaan Bapak.
"Kalau gitu Devi berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Mencium punggung tangan orang tuanya.
"Waalaikumsalam." Balas mereka kompak.
~*~
Devi mengambil langkah pertama untuk keluar dari rumah. Masih sepi tidak ada orang yang berkomentar padanya, apapun pembahasannya tetap saja Devi tidak menyukai hal itu. Tapi sepertinya kebebasan yang Devi rasakan tidak akan begitu lama saat ia melihat ibu-ibu yang berjalan menuju arahnya.
"Eh, neng Devi, mau olahraga?" tanya salah satu Mereka.
"Iya." jawab Devi merasa keberatan dengan kehadiran mereka.
Saat beberapa langkah di belakang Devi, ibu-ibu itu berbisik membicarakan tentang dirinya. Devi sudah muak dengan semua ini. Ia selalu diam dengan ocehan kotor mereka, tanpa membalas sedikitpun dari ucapan Mereka.
Masalah belum sampai pada ibu-ibu itu. Ada dua wanita yang berpapasan dengan Devi, memperhatikan dirinya dengan sesama, lalu mereka pun tertawa kecil di belakang, entah apa yang mereka tertawa-kan, itu membuat Devi tidak nyaman. Devi pun memutuskan untuk kembali saja ke rumah, namun langkahnya dihentikan oleh seseorang.
Seorang pria berdiri tepat di depannya.
"Mau ke mana?" tanya Jaka.
"Mau pulang." balas Devi pelan, berjalan mendahului Jaka.
Jaka mencoba menghampiri Devi. "Kenapa?" tanya Jaka kembali, mencoba mencari jawaban yang membuatnya puas.
Devi menghentikan langkahnya, melihat Jaka dengan tatapan putus asa. Senyuman Jaka berangsur menghilang, saat melihat raut wajah Devi.
"Ada apa?" tanya Jaka saat melihat wanita di depannya mencoba menahan tangisannya.
Dengan cepat Jaka melepas kemejanya dan menutup atas kepala Devi. Devi begitu terkejut saat kemeja tersebut mendarat pada kepala dengan lembut, dilihat dari dalam melalu celah, ia bisa melihat tatapan Jaka yang cukup dewasa menatap tajam ke arahnya. Devi mencoba menutup mata agar tidak menimbulkan suasana tegang.
"Jika kau sudah merasa lega, beritahu aku." ucap Jaka lembut.
Devi mencoba menyingkirkan kemeja Jaka dari atas kepala. Dilihatnya Pria itu baik-baik.
"Aku sudah tidak apa-apa." jawab Devi tenang.
Jaka pun tersenyum. "Mau lanjut olahraga?" tanyanya.
Devi mengangguk pelan. Ia pun menyusul langkah Jaka yang pendek. Devi kembali mengingat kejadian semalam. Ia ingin sekali bertanya 'siapa pria yang bersamamu semalam?'
__ADS_1
Tapi entah kenapa Devi tidak cukup memiliki keberanian untuk mengatakannya.