Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Persaingan


__ADS_3

Angin malam berhembus cepat membawa sebagian debu dan dedaunan terbang bersama menyusuri langit. Devi mencoba membuka pintu mobil, bertepatan dengan Bapak yang keluar rumah, melihat mereka dengan tatapan tegas. Devi tidak mempedulikannya, ia memilih untuk diam menundukkan kepala itu lebih baik.


"Nak Jaka, apa kabar?" tanya Bapak mencoba menghampiri Raka dan Robin. Tentu saja dengan cepat Devi menghindar memberikan jalan untuk Bapak agar beliau bisa menghampiri Raka dengan lancar tanpa macet.


Devi menoleh melihat reaksi Raka saat Bapak masih memanggilnya Jaka. Sepertinya Pria itu pintar sekali bermain peran, sampai-sampai ketidak tertariknya terhadap nama itu tidak begitu terlihat dari raut wajahnya. Dengan terpaksa Raka menerima jabatan Bapak yang penuh semangat.


"Devi ambilkan minum." Suruh Bapak.


"A! Tidak usah Pak, saya akan langsung pulang saja." Tolak Raka.


Devi tetap akan menyuguhkan minum dan cemilan untuk mereka, karena ia tahu Bapak tidak pernah membiarkan tamunya pergi sebelum kami sekeluarga memberikan hidangan. Langkah Devi terhenti, saat ia melihat sosok pria berdiri menghalangi pintu.


"Kau? Belum pulang?" tanya Devi pada Pria itu.


"Bagas!" Panggil Bapak.


Bagas melihat ke arah Bapak, saat namanya dipanggil. "Ya Pa?"


"Kemarilah, ada teman Devi yang ingin Bapak kenalkan padamu."


Napas Devi terasa berat, ia mencoba menoleh untuk menyaksikan dua pria dingin bertemu. Devi bisa melihat raut wajah Raka yang terlihat tidak senang dengan perkenalan ini, namun ia tetap berusaha tersenyum dan menerima jabatan tangan Bagas yang ia anggap ini sebuah persaingan.


"Ayo, kita ngobrol-ngobrol sebentar." Ajak Bapak.


Raka menggeleng, tanda menolak ajakan Bapak. "Maaf Pak, ini sudah malam, saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan." jelas Raka mencoba melarikan diri dengan sopan.


"Besok hari Minggu, kamu bisa menyelesaikannya besok." Bapak mencoba merangkul Raka dengan akrab.


Devi yang melihat itu merasa kasihan pada Raka.


"Devi, kenapa masih di situ? Cepat ambilkan minum dan cemilannya." Pintah Bapak.


"Ya, Pak?" Devi pun berlari kecil masuk ke dalam rumah.


Mami yang sibuk menyiapkan dagangan untuk besok, menoleh melihat kedatangannya memberikan senyuman penuh dengan tanda tanya.


"Kau sudah pulang?" tanya Mami, mencoba memberikan senyuman pada Devi. Namun sepertinya Devi masih marah dengan kedua orang tuanya yang menjodohkan tanpa sepengetahuan dirinya.


Mami mencoba mendekati Devi yang sedang menyiapkan kopi dan cemilan.


"Apa ada tamu?" tanya Mami.


"Ya, teman kantorku." jawab Devi, walaupun Devi kesal dengan orang tuanya ia tidak memiliki kewajiban untuk melawan mereka, anak tetaplah anak, harus merendah walaupun sedang kesal.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Mami penasaran.


"Raka." jawab Devi singkat, mencoba mengangkat nampan dan isinya.


"Biar Mami bantu." Mami menawarkan diri. Namun Devi menyingkirkan naman tersebut. "Tidak usah, Mam urus saja dagangan buat besok." Tolak Devi, melangkah meninggalkan Mami menuju pintu.


Sesampai di sana, Devi mencoba menghidangkan kopi untuk Bapak, Bagas dan Robin.


"Loh? Devi, kopi untuk nak Jaka mana?" tanya Bapak.


Devi pun memberikan gelas khusus untuk Raka yang ternyata itu adalah teh panas. "Sayangnya di dapur hanya ada kopi hitam, aku tau kau tidak suka kopi hitam, kan?" tanya Devi pada Raka.


Raka tersenyum. "Terima kasih."


Setelah menyelesaikan tugasnya, Devi kembali masuk ke dalam.


"Bagaimana pekerjaan mu?" tanya Bapak basa-basi untuk memulai pembicaraan.


"Alhamdulillah, lancar." jawab Raka.


Dari kejauhan Robin melihat Bos mudanya bersama mereka, menikmati kopi hitam dan beberapa cemilan yang ia ambil dari piring saat Devi membawanya, Bapak begitu peka. Robin menyeringai. "Menarik." ucapnya.


Kembali pada Bapak yang masih penasaran dengan pekerjaan pria yang ada di depannya saat ini.


"Aku hanya sebagai PNS." ucap Bagas dengan nada rendah namun pasti.


Mendengar itu Raka terkekeh geli di dalam batin, ia berusaha menahan diri untuk tidak tertawa.


"Wah, berarti gaji mu sangat besar?" tanya Raka berpura-pura penasaran, walaupun sebenarnya ia sudah tahu berapa.


Bapak melihat calon menantunya itu, berharap tidak membuat malu dirinya.


"Tergantung golongan. Alhamdulillah saya masuk golongan 4, mungkin lebihnya bisa 10juta sebulan." jelas Bagas.


Raka hanya mengangguk-angguk mengerti.


"Jadi nak Jaka, bagaimana denganmu?" tanya Bapak.


Raka menoleh melihat Bapak dengan lembut, ia pun tersenyum mencoba mengingat saat orang tua itu memberinya dukungan saat mengetahui perasaan terhadap putrinya. Tapi sekarang, orang tua di depannya sepertinya sudah tidak lagi berpihak padanya.


"Saya tidak mendapatkan gaji." jawab Raka percaya diri.


"Bagaimana bisa? Memang kau kerja apa?" tanya Bapak.

__ADS_1


"Kalau kau mau aku bisa mengajak mu bekerja di kantor saya." Tawar Bagas peduli.


Raka menggeleng. "Tidak perlu. Saya tidak di gaji, karena saya CEO di perusahaan tempat Devi bekerja." Senyum Raka terpampang jelas di bibirnya.


Ucapan ia lontarkan barusan membuat Bapak dan Bagas terdiam melihatnya. Dengan hati-hati Raka mencoba turun dari bilik bambu, berniat untuk meninggalkan tempat tersebut.


"Kalau begitu saya permisi untuk pamit pulang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." balas Bapak dan Bagas yang masih syok mendengar itu.


...~*~...


"Apa yang terjadi?" tanya Robin yang masih penasaran dengan apa yang terjadi barusan.


"Mereka mencoba bermain-main denganku." jawab Raka, melihat keluar jendela, menikmati angin malam, perlahan pria bermata coklat itu menutup matanya. Mencoba mengingat masa kecilnya bersama sang Ibu, namun dengan cepat Raka membuka matanya kembali, selanjutnya ia tidak ingin melihat.


...~*~...


Devi berusaha menyelesaikan semua dokumen yang diberikan karyawan lain padanya, dengan hati-hati ia memeriksa satu persatu dokumen tersebut.


Tok! Tok!


Devi menoleh ke belakang melihat pintu kamarnya. "Masuklah, pintunya tidak terkunci." Kembali fokus bekerja.


"Devi." Panggil Bagas.


Devi menoleh, ia lihat Bagas sudah berdiri di pintu menunggu persetujuan untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Pergilah aku sedang sibuk." Usir Devi merasa tidak nyaman dengan kehadiran Bagas.


Tapi tetap saja, Pria itu tetap masuk ke dalam kamar mendekati Devi yang sedang sibuk mengecek dokumen.


Bagas menarik kursi kecil dan duduk di belakang Devi. "Mau ku bantu?" Tawar Bagas.


"Tidak, tidak usah, aku bisa selesaikan sendiri. Kenapa kau tidak pulang?" tanya Devi.


"Aku menginap di sini." jawab Bagas, yang sibuk memegang boneka hiasan meja kerja Devi.


Devi menoleh melihat Bagas dengan tatapan tidak percaya dengan pemikiran orang tuanya, memang baginya Bagas sudah seperti kakaknya sendiri.


"Aku tidak akan mau menikah dengan mu." ucap Devi keluar begitu saja dari mulutnya.


Mendengar itu Bagas terkekeh geli memaksakan diri untuk tertawa, menunduk kecewa dengan apa yang ia dengar.

__ADS_1


"Tapi aku mau dan kau tidak bisa menolak itu. Karena orang tua mu dan ibu ku sudah mengaturnya, bagaimana pun caranya." jelas Bagas, sebelum ia keluar dari kamar Devi.


__ADS_2