
Devi mulai mengerti nisan bertuliskan nama Jaka bukanlah pria yang berdiri di belakang Joko. Lalu siapa dia? Devi mencoba mengingat lagi, jika Jaka dan Bu Rita pernah bersama. Tapi Devi tetap tidak tahu siapa Jaka yang sebenarnya. Devi mencoba menenangkan Joko untuk tidak menangis lebih lama. Dilihatnya pria yang berdiri di belakang remaja bernama Joko. Pria itu melihat mereka dengan tatapan merasa bersalah.
"Jaka apa yang sebenarnya terjadi?" Batin Devi.
~*~
"Aku punya kesalahan dengan mereka." ucap Jaka membuat Devi terdiam melihat dirinya.
"Kesalahan? Kesalahan apa?" tanya Devi penasaran.
"Aku membunuh Jaka yang sebenarnya," jawaban Jaka membuat Devi terkejut mencoba menatap tajam padanya. "Itu sebabnya aku selalu ada di sini. Bahkan aku mengenal mu lewat buku diary Jaka yang sebenarnya," Jaka mengeluarkan sebuah buku dari ransel meletakkan buku tersebut di meja untuk Devi. "Ambillah." Suruhnya.
Tanpa ragu Devi pun mengambil buku dengan sampul kulit sintetis berwarna coklat tua tersebut. Terlihat kuno namun sepertinya benda itu selalu dirawat oleh pemiliknya, ada niat ingin membuka, namun Devi mengurungkan niatnya itu kemudian.
"Aku akan membawanya pulang." ucap Devi pada Jaka.
"Baiklah." Jaka memberikan senyuman pada Devi.
Saat itu juga seorang pelayan sudah membawa pesanan mereka.
~*~
BLAM!
Devi membanting pintu mobil yang sudah mengantarnya pulang.
"Terima kasih." ucapnya pada dua pria yang ada di dalam mobil.
"Devi tunggu!" Panggil Jaka, mencoba mendekati Devi yang sudah berdiri di depan pintu.
"Ya?" tanya Devi kebingungan.
Tok! Tok!
Devi terkejut, dengan cepat mencoba menyingkirkan tangan Jaka untuk tidak mengetuk pintu kembali.
"Kau gila ya!" ucap Devi kesal. "Cepat pergi dari sini!" Usir Devi mencoba mendorong tubuh Jaka untuk meninggalkan tempat tersebut.
Tapi Jaka tidak mendengarkan ucapan Devi, ia tetap berdiri di belakang Devi, menunggu seseorang membukakan pintu dan akhirnya yang Jaka tunggu-tunggu akhirnya terwujud.
Ternyata Bapak yang membukakan pintu untuk mereka. "Assalamualaikum Pa." Salam Devi saat Bapak melihat Devi dan kemudian pandangannya beralih pada Jaka.
"Assalamualaikum Om." Salam Jaka.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kau pria yang pernah membuat Devi menangis, kan?" tanya Bapak membuat Devi malu.
__ADS_1
Jaka tersenyum. "Ya Om, tolong maafkan saya."
"Kau masuklah." ucap Bapak menyuruh Devi untuk masuk ke dalam rumah.
Devi pun menurut, melangkah masuk ke dalam rumah. Bapak melihat Jaka dengan tatapan serius, tentu saja itu tidak membuatnya takut. Jaka sudah biasa menghadapi tatapan seperti ini. Kapan lagi kalau bukan Ayahnya.
"Duduklah dulu, kita mengobrol sebentar." Bapak mempersilakan Jaka untuk duduk terlebih dahulu. Tentu saja ia tidak menolak ajakan tersebut, memang inilah niat Jaka sesungguhnya.
"Kau mau minum apa?" tanya Bapak.
"Tidak perlu Pak, saya tidak lama di sini." Tolak Jaka.
"Tapi saya ingin lama berbicara dengan mu."
Mendengar itu membuat Jaka tersenyum tersipu malu.
~*~
"Bapak mana Mam?" tanya Devi selesai mandi.
"Ada di luar, bersama temanmu." jawab Mami.
"Teman?" Devi berlari keluar.
"Ada apa sayang?" tanya Bapak.
"Itu Jaka belum pulang?" tanya Devi menggaruk belakang lehernya padahal tidak terasa gatal.
"Tidak apa-apa, sekali-kali bapak butuh teman untuk mengobrol." jelas Bapak.
Devi menghela napas panjang.
"Apa boleh saya tambah kopinya?" tanya Robin mengangkat gelasnya yang kosong.
"Ya, tunggu sebentar." Devi melangkah masuk.
"Eh! Gelasnya?" Panggil Robin.
Bapak tertawa kecil.
Lima menit kemudian Devi pun keluar dari rumah membawa teko berisi kopi panas untuk ketiga pria tersebut.
"Ini selamat menikmati." Devi meletakkan teko tersebut di tengah dan kembali masuk ke dalam rumah. Robin pun mengambil teko tersebut untuk ia bawa ke tempat lain. Karena ia tau Jaka ingin mengobrol tanpa ada pendengar lain selain si penanya.
"Apa kau sudah lama kenal dengan Devi?" tanya Bapak tiba-tiba.
__ADS_1
Jaka tersenyum. "Lumayan."
"Lalu? Apa kau menyukainya?" tanya Bapak kembali.
"Ya, tapi sepertinya Devi tidak. Bahkan ia berusaha untuk selalu menjauhi saya." jawab Jaka.
Bapak menepuk pundak Jaka tanda memberikan semangat pada pria itu, ia hanya bisa memberikan senyuman pada Bapak tanda menyanggupi hal itu.
Dari balik pintu Mami sepertinya tidak setuju dengan keputusan Bapak untuk menjodoh-jodohkan Devi dengan Jaka. Sejam lebih mereka berbincang dan saat Jaka benar-benar pamit untuk pulang, Bapak melangkah masuk dengan mengunci pintu rumah.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Mami pada Bapak.
Bapak menatap Mami. " Ada apa sayang?" tanya Bapak tidak mengerti dengan pertanyaan Mami.
"Apa kau menjodoh-jodohkan anak itu dengan Devi?" tanya Mami menebak.
"Memang kenapa? Jaka anak baik bukan?" tanya Bapak meminta pendapat dari Mami.
"Kau lupa kalau kita masih ada untuk melamar Devi dengan saudara tiri mu?" tanya Mami.
"Lupakan saja, aku yakin Devi tidak mau."
"Kenapa kau menebak, belum tentu Devi menolak, bukan?"
"Mam hentikan!" Pintah Bapak melangkah masuk ke dalam kamar.
Mami pun mencoba mengikuti langkah suaminya. Tentu saja Devi tidak sengaja'mendengarkan setiap ucapan mereka dari balik pintu.
"Jangan bilang pria dingin itu?" tebak Devi.
Devi mencoba untuk tenang, ia tetap melangkah menuju meja kerjanya, mencoba memeriksa dokumen apa yang harus ia kerjakan untuk besok. Devi merasa tasnya begitu berat, saat memeriksa ia menemukan sebuah buku, ia ingat buku tersebut pemberian Jaka. Ia pun melempar buku tersebut ke atas kasurnya, dengan tujuan akan membacanya setelah selesai bekerja.
"Baiklah, ayo semangat." Devi mencoba merenggangkan seluruh otot-otot yang kaku dan mulai melakukan kegiatannya.
~*~
2 jam Devi menyelesaikan semua laporan, ini hari terakhir ia melakukan hal ini. Besok ia sudah menjadi Manajer di perusahaan, senyum Devi mengembang saat ia berkhayal menduduki jabatan tersebut. Namun pandangan menjadi teralihkan pada sebuah buku bersampul coklat itu yang menunggu dirinya sedari tadi bersiap untuk segera dibaca. Devi pun mencoba naik ke atas ranjangnya.
"Jadi ini buku Jaka yang asli?" Gumam Devi berusaha melepaskan tali pengikat buku tersebut.
Sedikit lusuh pada kertas sudah mulai berwarna coklat kekuningan, mungkin sudah lama tersimpan. Banyak sekali amplop yang diselipkan pada buku tersebut, semua alamat tertuju atas nama Devi.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Devi.
Perlahan Devi mencoba membuka lembar demi lembar dari buku tersebut. Bahkan Devi menemukan foto dirinya yang masih terlihat gemuk, bukan gemuk sebulan yang lalu, tapi saat dirinya masih duduk di bangku SMA. Devi berusaha mencari sosok Jaka, tapi ia tidak menemukan foto si pemilik buku tersebut, semua isi dari buku ini semua tentangnya.
__ADS_1