Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Jaka Bukanlah Jaka


__ADS_3

"Devi kau tidak apa-apa?" tanya Ajeng menanyakan keadaan Devi saat ini, karena ia perhatikan temannya itu selalu diam, seperti memikirkan sesuatu. Namun Ajeng tidak atau apa itu, setiap Ajeng bertanya ada apa dan kenapa, Devi hanya menatapnya dan tetap diam membisu.


Devi mencoba menarik napas panjang, mendongakkan kepalanya melihat Ajeng yang berdiri di depannya. "Ajeng, gua mau pulang aja." ucap Devi pelan.


"Hah? Apa?" tanya Ajeng kurang jelas.


"Aku ingin pulang!!" teriak Devi menangis memeluk Ajeng.


"Devi lu kenapa?" tanya Ajeng khawatir dengan keadaan Devi yang tiba-tiba menangis seperti anak kecil.


Devi masih memeluk dengan kepala bersandar pada perut Ajeng yang sempurna, Ajeng harus rela gaun pesta kesayangannya basah mengenai air mata Devi. Rasa ingin menyingkirkan, namun ia tidak tega dengan keadaan temannya sendiri yang seperti melakukan kesalahan pada seseorang, tapi siapa?


Seluruh mata tamu menatap binggung pada mereka.


"Ada apa?" tanya Bu Rita yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Sepertinya Devi tidak enak badan Bu." ucap Ajeng.


Bu Rita menoleh ke belakang melihat seorang pria berkacamata berdiri di dekat pintu besar. Mendapat tatapan itu, ia pun mengangguk mengerti. Ia pun mencoba mendorong pintu besar tersebut dan masuk ke dalam.


Bu Rita pun kembali melihat Devi, mencoba membelai atas kepala. " Kalau begitu Ajeng, kau antar dia pulang." Pintah Bu Rita.


"Ya Bu." Ajeng berusaha memapah tubuh Devi, untung saja saat ini wanita itu sudah langsing tidak seperti dulu. Ajeng membayangkan jika Devi masih gemuk seperti dulu, mungkin mereka akan terjungkal - jungkal. Namun sepertinya Devi menolak untuk itu.


"Aku tidak apa-apa." Tolak Devi.


"Kau yakin Devi?" tanya Bu Rita.


Devi mengangguk. Kemudian melihat Ajeng.


"Aku pulang sendiri saja, kalau kau masih ingin di sini tidak apa-apa. Bu Rita saya permisi dulu, selamat malam." Devi menunduk dan mulai berjalan menuju pintu keluar.


Devi melangkah menuju halte Transjakarta, namun saat ia mencoba menyebrang jalan di zebra cross sebuah mobil melintas dan berhenti di depannya. Kaca jendela mobil perlahan terbuka. Devi bisa melihat seorang pria berkacamata itu tersenyum padanya. Dia adalah pria pembaca acara di perusahaan.


"Mau ku antar?" tawarnya.


"Tidak, saya tidak kenal dengan anda." Tolak Devi tegas mencoba berbelok lewat belakang mobil.


Devi merasakan ia melaju mobilnya ke tempat lain, tapi Devi tahu ini belum berakhir, pria itu ternyata mengikuti sampai halte busway.

__ADS_1


"Nama ku Robin." ucapnya memperkenalkan diri.


"Aku tidak peduli." jawab Devi dingin masih membuang pandangan pada pria bernama Robin itu.


Robin mengangguk-angguk mengerti dengan bibir yang terlipat ke dalam. "Baiklah, sepertinya aku harus memberitahu pada Jaka kalau kau menolak ajakan ku." ucap Robin mencoba melangkah meninggalkan Devi.


Mendengar nama Jaka, Devi mencoba berbalik melihat kepergian Robin yang semakin jauh dari dirinya.


"Tu-Tunggu!! teriak Devi mencoba mengejar Robin.


Senyuman Robin mengembang, ia pun berhenti melangkah dan berbalik untuk menyambut Devi.


"Jadi kau menerima tawaran saya?" tanya Robin.


"Aku hanya ingin tau Jaka, tidak ada urusannya dengan mu." jawab Devi kesal dengan sikap percaya diri pria itu.


Robin tersenyum, ia pun melangkah mendahului Devi, tentu saja Devi harus mengikuti langkah Robin. Devi pikir Robin begitu cuek dengan keadaan, tapi nyatanya pria itu hanya mencoba menjalankan tugasnya. Buktinya saat mereka ingin menyebrang jalan, Robin berusaha melindungi Devi dari sentuhan mobil yang hampir menabraknya.


"Terima kasih." ucap Devi saat pria itu menahan moncong mobil yang hampir bersentuhan dengan paha Devi.


"Cepatlah jalan." Suruh Robin mencoba mendorong tubuh Devi dengan pelan. Wanita itu pun mencoba berlari.


"Pria itu memang aneh." Gumam Devi melihat Robin di sebrang jalan.


~*~


Devi mencoba melihat sekitar. Ia begitu panik saat Robin memberhentikan mobil di tempat yang menurut Devi tidak asing. Bukan rumah atau pun tempat yang seharusnya di kunjungi di situasi seperti ini.


"Makam?" tanya Devi menoleh melihat Robin yang sudah melepas sabuk pengaman.


"Keluarlah." Suruh Robin.


Devi pun menurut. "Mau apa kita di sini?" tanya Devi.


Robin tidak menjawab pertanyaan Devi, Pria itu terus jalan masuk ke dalam pemakaman umum untuk menemui seseorang, Devi sudah lihat seorang Pria berjongkok membelakangi mereka.


"Tuan. Saya sudah membawa Nona Devi." ucap Robin.


Pria itu menoleh. Pria dengan mata coklat melihat Devi dengan tatapan serius dan dingin.

__ADS_1


"Jaka?" Panggil Devi, melihat Robin. "Kenapa dia memanggil mu Tuan?" tanya Devi.


Jaka mencoba berdiri, tersenyum pada Devi.


"Selamat ya." ucap Jaka mencoba menjabat tangan Devi.


Dengan cepat Devi melepas jabatan tersebut. "Selamat untuk apa?" tanya Devi heran.


"Untuk Jabatan yang kau impikan." Jelas Jaka.


Devi tidak begitu suka dengan ucapan Jaka. Matanya mencoba melihat nisan. Devi mulai ingat nisan itu yang membuat dirinya terpisah dengan Jaka dalam sebulan lebih lamanya.


"Dia? Dia siapa?" tanya Devi menunjuk nisan bertuliskan nama Jaka di batu nisan tersebut.


"Saya akan menunggu anda di mobil." Pamit Robin melangkah pergi meninggalkan mereka.


"Kelihatannya?" tanya Jaka membalikkan pertanyaan.


"Aku bertanya padamu, kenapa kau tanya balik!" Devi sangat kesal, ia memilih melangkah pergi.


Dengan cepat Jaka memegang pergelangan tangan Devi untuk mencegah wanita itu untuk tidak pergi dari tempatnya berdiri.


"Lepaskan aku!" Devi mencoba menarik kembali tangannya dari genggaman Jaka. "Siapapun kau! itu tidak ada keuntungan untuk ku juga!" Saat Devi ingin lari beranjak dari sana, langkahnya tidak ia teruskan.


Dalam dua langkah di depannya sudah berdiri Joko, remaja laki-laki yang pernah membuatnya dihakimi warga. Tapi Devi tidak bisa dendam pada remaja itu, karena kedekatannya dengan Jaka. Joko mencoba mendekat berdiri tepat di depan Devi.


"Kak Devi, aku minta maaf untuk kejadian sebulan yang lalu." ucap Joko.


"Lupakan saja, aku tidak mau mendengarnya lagi." balas Devi mencoba berjalan jauh dari Joko.


Namun remaja itu sudah memegang tangannya.


"Suruh kak Jaka untuk tinggal lama di sini kak." ucap Joko mencoba merayu dan memohon.


Devi mencoba melihat Jaka yang sedari tadi hanya diam saja.


"Apa maksudmu, bukankah dia kakakmu?" tanya Devi.


Joko menggeleng dan kemudian menangis. "Bukan, kak Jaka sudah meninggalkan Joko untuk selamanya!" Isak-nya.

__ADS_1


Devi mulai mengerti nisan bertuliskan nama Jaka bukanlah pria yang berdiri di belakang Joko. Lalu siapa dia? Devi mencoba mengingat lagi, jika Jaka dan Bu Rita pernah bersama. Tapi Devi tetap tidak tahu siapa Jaka yang sebenarnya. Devi mencoba menenangkan Joko untuk tidak menangis lebih lama.


__ADS_2