Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Rencana


__ADS_3

"Jadi kau ingin menurunkan berat badan menjadi 50kg?" tanya pemandu pada wanita berbadan gemuk, sekolah pemandu tersebut memperlihatkan wanita gemuk itu dengan memandangi keseluruhan dari badan wanita tersebut.


Devi mengangguk pelan berharap itu bisa terjadi padanya. Devi sudah bertekad demi jabatan yang ia inginkan selama ini, dengan gaji yang sebenarnya sudah lumayan, namun namanya manusia selalu saja kurang, lagi pula uang yang Devi hasilkan tidak pernah kotor jika sudah mendarat ke tangannya.


"Kira-kira butuh berapa lama?" tanya Ajeng penasaran.


"Tergantung, karena beratmu hanya 70kg mungkin menurunkan 20kg saja, mungkin dua bulan lebih kalau Devi rajin datang." jelas pemandu tersebut


"Kalau tidak, karena kami kerja?" tanya Ajeng kembali.


"Bisa setahun lebih." jawab pemandu memberikan senyuman pada Ajeng.


Ajeng mengangguk mengerti, lalu menoleh ke arah Devi. "Gimana beb?" tanyanya pada wanita gemuk yang berdiri di samping.


"Apa gua harus cuti sebulan lebih, tapi itu gila, kan?" tanya Devi bimbang.


"Iya sih, ya sudah selama cuti lu olahraga di sini, nah ... Nanti pas sudah kerja setiap Minggu aja." jelas Ajeng memberikan ide.


"Ide yang bagus, bagaimana Nona Devi, anda mau mengikuti program kami?" tanya pemandu GYM.


"I-Iya." ucap Devi pelan.


Ajeng dan pemandu GYM tidak jelas Devi mengatakan apa. "Maaf?" tanya pemandu untuk memastikan.


Devi mengambil napas panjang. "I-Iya, saya mau." jawabannya ragu-ragu.


"Baiklah sekarang kita lakukan latihan pertama." Ajak pemandu GYM.


Mereka pun mengikuti langkah pria berotot tersebut, menuju ruang latihan yang berlapis kaca, terlihat dari luar kaca itu seperti cermin. Tapi jika mereka masuk ke dalam maka orang yang ada di dalam ruangan akan melihat pemandangan yang ada di luar.


"Sari!" Panggil pemandu GYM.


Wanita langsing tinggi semampai itu berjalan mendekati mereka.


"Hai..." Sapanya.


"Kau sudah tau tugasmu, kan?" tanya pemandu.


"Ya, aku sudah tau. Memandu 2 Nona ini menurunkan berat badan, kan?" tanya Sari.


"Tapi aku sudah kurus?" tanya Ajeng, karena bagi Ajeng berat badannya sudah 55kg pas, tidak mungkin ia menurunkan 5kg lagi.


"Untuk Nona Ajeng bisa ko tanpa harus kehilangan berat badan, dengan cara mengikuti program untuk kesehatan saja." jelas Sari.


Ajeng mengangguk mengerti.


"Kalau begitu pemanasan dulu ya."

__ADS_1


Kedua wanita itu mengikuti pemandu mereka. Mengikuti semua gerakan yang dilakukannya, itu membuat Devi dan Ajeng begitu lelah setelah mereka melakukan beberapa gerakan.


~*~


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Mami melihat kedua wanita yang masuk dengan langkah tertatih-tatih. Ia pun mencoba mendekati kedua wanita tersebut.


"Habis pada ngapain, ko kelihatan lelah begitu?" tanya Mami kebingungan.


"Olahraga Mam." jawab Devi masih dengan napas tersengal-sengal, ia berusaha meminum semua air pada botol dengan semangat sehingga membuat botol tersebut cepat habis.


Ajeng yang menunggu giliran pun harus memberikan cemberut karena tidak kebagian air.


"Ayo bersihkan kaki dan tangan kalian, Mami sudah buatkan makan siang dan cemilannya." ucap Mami berjalan menuju dapur.


Ajeng pun mencoba berdiri untuk meraih kamar mandi, sepertinya ucapan Mami membuatnya bersemangat untuk mendapatkan apa yang sudah dijanjikan.


"Aduh betis ku." Devi mengerang merasakan sakit pada betisnya, mencoba berjalan menuju kamar mandi menyusul Ajeng.


"Gila olahraga itu membuat kita setres!" Keluh Ajeng mencoba menyibakkan tangan yang basah selesai mencucinya.


"Ga sampe setres juga kali. Lagian yang ngajak siapa?" tanya Devi.


Wanita bernama Ajeng itu tersenyum masam, merasa dirinya salah, menoleh melihat Devi seraya mengangkat jari telunjuk tanda ia mengakui kesalahannya.


"Nanti selesai makan antarkan ini pada Bu RT ya." Mami meletakkan tas jinjing di atas meja makan. Mata kedua wanita itu melihat ke tas tersebut.


"Mami ... Devi tidak mau ke sana lagi." Rengek Devi pada Mami saat beranjak pergi, wanita itu memasang wajah iba agar Mami luluh.


"Kenapa?" tanya Mami.


"Nggak ada alasan sih, cuma kgak mau aja." ucap Devi dengan nada manja.


Ajeng melihat itu semua mencoba menahan tawanya, karena baru kali ini ia melihat sifat manja Devi. Biasanya temannya itu bersikap kaku, sekarang Ajeng sudah mulai tau.


"Devi tenang saja, aku akan ikut menemani mu." ucap Ajeng menawarkan diri.


"Nah, bagus tuh, kamu kgak sendirian jadinya." Menepuk pelan pundak Devi lalu berjalan menuju dapur.


Devi menghela napas kecewa, ia membenamkan wajah pada meja. Meratapi nasibnya saat ini.


"Emang kenapa sih? Mang tuh RT galak ya?" tanya Ajeng dengan mulut yang masih mengunyah cemilan itu membuat pipi Ajeng mengembang, sepertinya ia bukan hanya memasukkan 1 kue ke dalam mulut.


"Ajeng! Kalau ngomong tuh yang di mulut habisin dulu!" tegur Devi kesal.

__ADS_1


Ajeng pun meminum air untuk membantunya mencerna kue yang ia telan.


"Sudah, ayo." Ajak Ajeng.


Dengan terpaksa Devi meraih tas jinjing tersebut.


"Assalamualaikum Mam! Devi berangkat ke rumah Bu RT!" ucap Devi dengan nada tinggi namun tidak berteriak.


"Waalaikumsalam, hati-hati ya!" Balas Mami di dapur sedang menyiapkan makan malam.


"Tante pinjam Devi sebentar ya!" Ijin Ajeng yang sepertinya akan mengajak Devi nongkrong di Kafe lagi.


"Ya, ya silakan!" Balas Mami.


Ajeng pun menyusul Devi yang sudah menunggu di luar. Mereka berjalan bersama menyusuri jalan komplek yang tidak begitu ramai.


"Gua kagak pernah liat si Jaka, ke mana dia?" tanya Ajeng.


Devi menggeleng pelan. "Kagak tau tuh."


"Lu sama dia lagi berantem?" tanya Ajeng.


Devi terdiam, mengingat semua kejadian yang pernah terjadi bersama Jaka, ia tidak pernah ada masalah dengan pria itu, yang Devi tau hanya tentang dimana ia ingin menurunkan berat badan dan Jaka tidak setuju dengan keputusannya.


"Apa gara-gara itu ya?" tanya Devi pada dirinya sendiri.


"Hah? Apa!?" tanya Ajeng penasaran, karena ia tidak tau masalahnya.


Devi tersadar, ia menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir rasa lamunannya.


"Lupakan saja, ayo." Ajak Devi.


"Apa alasannya!!" teriak Ajeng mengejar Devi.


~*~


"Assalamualaikum!! Bu RT!!" teriak Devi.


"Assalamualaikum ... Bu RT!!" teriak Ajeng mencoba membantu Devi.


Devi pun mencoba menekan tombol bel pintu untuk kedua kalinya. Namun tidak ada tanda-tanda dari pemilik rumah untuk keluar. Ajeng mulai kesal ia pun mencoba menggedor-gedor gerbang rumah tersebut, itu membuat bising di telinga Devi, ia mencoba menghentikan tindakan temannya untuk tidak lagi melakukan hal itu.


"Bu RT lagi keluar!!" teriak seorang ibu-ibu yang sepertinya tetangga Bu RT yang terganggu dengan gedoran Ajeng barusan.


"Kira-kira ke mana ya Bu?" tanya Devi.


"Kagak tau, kayanya sih sekeluarga pergi." Melangkah masuk kembali ke rumah.

__ADS_1


Devi terdiam berbalik kembali melihat rumah Bu RT yang memang terlihat sepi. Entah kenapa Devi sangat memikirkan keluarga tiri bapaknya.


"Jadi gimana?" tanya Ajeng dengan tangan bersedekap menunggu jawaban dari Devi.


__ADS_2