
"Kak Jaka." Panggil Joko, mencoba membangunkan Raka dari tidurnya.
"Ada apa Joko?" tanya Raka.
"Joko tidak bisa tidur, takut tidur sendiri juga." ucap Joko.
Dengan berat Raka terbangun dari tidurnya, dilihat jam meja menunjukkan pukul 3 malam, dilihatnya remaja itu. Raka ingat sekali ia harus bertanggung jawab sepenuhnya atas kematian Jaka, kakaknya Joko, ini sangat tidak mudah. Dengan setengah sadar Raka mencoba bangun dari tidur memilih untuk duduk, sekilas ia melihat Joko yang berdiri di depannya, menunggu Raka sadar dari rasa kantuknya.
"Mau pergi shalat tahajud?" Tawar Raka pada Joko.
"Aku tidak bisa tidur, apa hubungannya dengan shalat?" tanya Joko.
"Kau akan tenang setelah melakukannya. Ayo." Ajak Raka berdiri dan berjalan memegangi pundak Joko menuju ruang ibadah.
Mereka melewati dapur yang sudah penuh dengan pelayan menyiapkan sarapan, bahkan tempat ibadah khusus pun hampir penuh. Para pekerja akan menundukkan kelapa jika berpapasan dengan mereka.
"Apa Robin sudah pulang?" tanya Raka pada pengawal pribadi.
"Belum Tuan." jawab pengawal pribadi tersebut.
Raka sangat kecewa. Ia pun memilih melanjutkan ke ruang ibadah. Melaksanakan shalat tahajud bersama-sama dengan pekerja rumah. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan Raka dari jauh, tersenyum lebar saat tahu targetnya.
...~*~...
Belum sampai shalat subuh, Joko sudah tertidur pulas di pangkuan Raka yang sedang melantunkan ayat suci Al-Quran.
"*S*hadaqallahul adzim." Dengan pelan Raka menutup Al-Qur'an mini tersebut, dilihatnya Joko dengan perlahan ia mencoba untuk membopong remaja berusia 15 tahun itu dengan susah payah.
"Biar saya saja Tuan." Tawar salah satu pelayan pria yang ada di sana.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja pekerjaan mu." Raka menolak secara lembut. Pelayan tersebut membungkuk , hingga Raka tidak terlihat dari pandangannya barulah ia akan kembali ke posisi semula.
Di tengah jalan menuju kamar Joko, Raka bertemu dengan Riki, saudaranya.
"Wow, apa dia tertidur?" tanya Riki.
Namun Raka tidak mempedulikan ucapan Riki, ia terus berjalan menghindarinya.
"Jadi jabatan adik sudah pindah padanya?" tanya Riki cemburu.
"Kau sudah besar, jangan membuatku malu!" balas Raka tegas.
Bibir Riki berkerut tanda tidak terima dengan ucapan tersebut.
"Tapi aku masih berhak, kan?" tanya Riki, namun Raka tidak mempedulikan dirinya.
...~*~...
__ADS_1
Raka membaringkan tubuh remaja laki-laki itu dengan perlahan, ditariknya selimut tebal mencoba menyelimuti remaja tersebut dan tidak lupa mengecilkan volume dingin pada AC karena Raka tahu Joko tidak begitu kuat dengan suhu dingin.
"Kakak, ibu Jangan pergi." Joko mengigau, sepertinya ia bertemu dengan keluarganya di dalam mimpi. Tangan Raka gemetar, mencoba kuat menerima itu, dadanya mulai terasa sesak dengan lemas ia berusaha duduk di bawah ranjang Joko mencoba bernapas. Raka mulai bisa merasakan keringat dingin membasahi keningnya, dengan cepat Raka berusaha meninggalkan kamar Joko untuk menenangkan pikirannya.
...~*~...
"Selamat pagi Bu." Sapa Riki mencium pipi Rita.
"Bagaimana tidurmu?" tanya Rita.
"luar biasa." jawab Riki.
"Tidak lupa shalat?" tanya Rita.
"Alhamdulillah, aku tidak shalat tahajud." Riki menyeringai lebar.
Rita membuat rambut putranya berantakan dengan belaian gemas. Kesenangan mereka menghilang saat Joko bergabung dengan mereka, mencoba duduk di kursi miliknya.
"Joko di mana kak Raka?" tanya Rita.
Joko menggeleng. "Tidak tau." jawab Joko polos.
Itu membuat Rita kesal, dengan cepat ia merebut roti panggang milik Joko.
"Cepat kau panggil kak Raka untuk sarapan." Rita menyuruhnya.
"Nyonya!! Tu-Tuan Raka!" ucap Pelayan tersebut terlihat panik.
Dengan kasar Rita melepas kerah seragam Joko, membuat remaja itu yang berdiri kembali ke posisi duduk.
Rita mencoba berjalan menuju kamar Raka dengan beberapa pelayan yang sudah menyiapkan beberapa barang yang biasa digunakan saat demam, sesampai di sana Rita berdiri terdiam melihat putra pertamanya sudah berdiri memakai kemeja putih. Raka menyadari kehadiran ibunya, menoleh melihat wanita itu.
"Ada apa ini?" tanya Raka heran.
Rita menoleh melihat pelayan wanita yang mendatangi dirinya dengan melototi wanita itu, dengan rasa bersalah pelayanan wanita tersebut menundukkan kepala karena takut.
"Keluar kalian semua!" Usir Rita.
Semua pelayan pun berbalik pergi dari tempat mereka berdiri meninggalkan kamar Raka.
"Raka kau tidak apa-apa?" tanya Rita menghampiri putranya.
"Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir." ucap Raka mencoba memasang satu persatu kancing kemeja putihnya. Rita pun mencoba memasangkan dasi pada leher Raka.
"Bagaimana Devi, apa dia bekerja dengan baik?" tanya Rita.
"Lumayan, walaupun membuatku kesal." ucap Raka.
__ADS_1
"Kau harus terbiasa dengannya. Bukankah kau menyukainya?" tanya Rita.
Raka menatap ibunya dengan tatapan kurang suka. Wanita itu begitu sedikit takut, ia mencoba memilih untuk keluar dari kamar Raka. Saat ia berbalik di depan pintu sudah berdiri Robin menundukkan kepala.
"Dari mana saja kau, baru menampakan diri?" tanya Rita.
"Maafkan saja Nyonya, ada urusan mendadak yang harus saya selesaikan." Jelas Robin.
"Robin!" Panggil Raka.
Robin membungkuk pergi meninggalkan Rita, wanita itu sangat kesal karena putra pertamanya itu tidak begitu menghormatinya, dilihatnya Raka dan Robin dengan napas menahan emosi, ia pun memilih pergi dari tempat tersebut.
"Sepertinya anda belum cukup akur dengannya?" tanya Robin.
"Aku sedang berusaha." jawab Raka.
"Bagaimana masalah Ajeng? Apa kau sudah menyelesaikannya?" tanya Raka.
"Ya, sepertinya hari ini dia ijin." ucap Robin, namun pandangannya teralihkan oleh goresan tangan pada Raka dengan paksa ia mencoba membuka kerah lengan kemeja Raka mencoba melihat goresan luka tersebut.
"Pak, apa ini?" tanya Robin. "Kau terluka?" Dengan lancang Robin menyibak poni Raka, benar saja dugaannya ada beberapa jahitan di kening Bos-nya itu.
"Katakan apa yang terjadi selama saya pergi?" tanya Robin khawatir.
"Lupakan saja, aku bisa mengurusnya sendiri." Raka menepuk pundak Robin dan berjalan meninggalkannya. Dengan langkah gagah Robin pun mengikutinya dari belakang.
Sesampai di sana Raka melihat Riki mencoba menganggu Joko yang sedang menunggu dirinya, dengan iseng Riki merebut topi sekolah yang Joko pakai.
"Riki!!" teriak Raka tidak menerima Joko diperlakukan seperti itu.
Semua orang yang ada di sana terkejut, begitu juga Rita ibu mereka.
"Raka apa yang kau lakukan?" tanya Rita.
"Jangan pernah mengganggunya." ucap Raka tegas.
"Ayolah kak, Joko adikku juga kan?" tanya Riki.
"Milik ku untukku dan kau bukan siapa-siapa." jawab Raka.
"Raka!!" teriak Rita.
Teriakkan Rita membuat Joko takut, ia pun bersembunyi di balik badan Raka. Tanpa mempedulikan ocehan ibunya, Raka memilih untuk meninggalkan mereka, Rita berusaha menarik napas, menyesali apa yang sudah terjadi.
"Ibu kau tidak apa-apa?" tanya Riki khawatir.
Rita memberikan senyuman.
__ADS_1