Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Bingkisan.


__ADS_3

"Hah! Cuti! Bu Rita kasih lu cuti!?" tanya Ajeng tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Devi mengangguk pelan.


Sepulang kerja Ajeng mengirim pesan pada Devi ingin berkunjung ke rumah, ingin mencari tahu kenapa Devi tidak masuk kerja hari ini. Sesampai di sana, tentu saja Mami menyambut Ajeng dengan senang, apalagi dia adalah teman Devi satu-satunya.


"Gila. Tapi nggak salah juga sih, apalagi lu kan jarang ambil cuti pas libur." ucap Ajeng.


"Tapi sebenarnya gua malas." Bantah Devi.


"Wajar sih lu kan si penggila kerja."


Tok! Tok!


Mereka menoleh bersamaan ke arah pintu, yang ternyata Mami membawakan cemilan untuk Ajeng. Dengan senang hati Ajeng pun menerima cemilan tersebut.


"Wah ... Tante terima kasih banyak. Maaf ngerepotin." ucap Ajeng tidak enak hati.


Bolu kukus pandan buatan Mami, itu yang mami hidangkan untuk mereka. Sebenarnya bisa saja beliau memberikan kue sisa dagangannya, tapi sikap Mami itu orangnya tidak enakkan. Selalu perasa jika melakukan sedikit kesalahan. Pernah Mami tidak sengaja membuang pulpen Bapak, tentu saja ia sampai nangis-nangis meminta maaf, mungkin ada 100 kali lebih meminta maaf pada Bapak.


"Gimana enak?" tanya Mami yang kebetulan lewat di depan kamar Devi.


"Enak Tante. Ajeng boleh bawa pulang?" tanya Ajeng tanpa malu-malu.


"Habiskan saja yang di piring, buat bawa pulang masih ada kok." ucap Mami senang, ia pun melangkah pergi dari pandangan mereka.


Devi terus memperhatikan Ajeng yang begitu lahap memakan bolu tersebut. Sebenarnya Devi ingin sekali mengambil satu atau dua bolu, tapi tekadnya untuk mengubah diri tentu saja harus terlaksana.


"Kau mau?" tanya Ajeng menujukkan bolu yang ia pegang saat itu.


Devi menggeleng tanda menolak tawaran tersebut. Ajeng pun mencoba meraih sebuah paper bag yang sejak tadi berdiri gagah di bawah kasur bersandar pada kaki ranjang, sepertinya penantian panjang dari paper bag itu pun akhirnya sirna saat Ajeng, si pemilik mengangkat dirinya.


Devi melihat tindakan Ajeng yang meletakkan paper bag tersebut di pangkuan.


"Apa itu?" tanya Devi penasaran mencoba mengintip apa isi dari paper bag tersebut.


"Aku membawakan titipan Bu Rita. Sepertinya dia sudah tau kalau aku ingin mampir ke rumahmu." jelas Ajeng yang sepertinya juga penasaran dengan isi paper bag tersebut. "Coba dong buka." Pintahnya seperti anak kecil.


Devi tersenyum geli karena melihat sikap temannya yang seperti anak kecil itu. Devi juga sebenarnya penasaran dengan isi dari paper bag tersebut. Dengan pelan-pelan, ia membuka paper bag tersebut dan melihat apa isi dalamnya.


Karena belum puas mengintip dari atas, ia pun mencoba mengambilnya, itu membuat Ajeng sangat antusias, sampai-sampai ia mencoba memaksa matanya yang sipit agar tetap terbuka. Lagi-lagi Devi dibuat geli oleh sikap Ajeng.


"Kenapa kau tertawa, ayo cepat angkat isinya!" Suruh Ajeng semangat.

__ADS_1


Devi pun menurut mencoba memasukkan tangannya ke dalam paper bag. Perlahan benda itu diangkatnya. Ajeng dan Devi tercengang.


"Wah ... Minuman pelangsing. Mantap satu box." ucap Ajeng senang. Walaupun bukan dia yang mendapatkan bingkisan tersebut.


"Aku tidak tau cara pakainya?" Devi mencoba melihat belakang kemasan produk tersebut.


"Kau lihat petunjuk penggunaannya." Menunjukkan pada belakang kemasan tersebut.


"Apa kau mau?" Tawar Devi.


"Apa kau ingin membuatku tinggal tulang?" tanya Ajeng seraya memajukan bibirnya.


Devi melihat seluruh tubuh Ajeng yang memang langsing dan terawat, menyadari itu barulah Devi tertawa geli. "Maafkan aku."


"Bahkan pacarku juga bilang begitu." Curhat Ajeng.


"Bilang apa?" tanya Devi.


"Bilang kalau aku seperti wayang yang sedang berjalan!"


Mendengar itu Devi tersenyum geli mencoba untuk menahan tawanya. Namun sepertinya kesenangan mereka tidak berlangsung lama, saat panggilan pada ponsel Ajeng berbunyi nyaring.


"Ibu ku." Dengan cepat Ajeng mengangkat panggilan tersebut. "Iya ibu? Ya, baiklah Ajeng pulang!" Menutup panggilan tersebut.


"Kalau begitu aku antar kau sampai halte Busway." Devi menyusul Ajeng yang sudah berjalan dan berhenti di depan pintu.


"Oke." ucapnya menyetujui hal itu.


Mereka pun berjalan mendekati Mami yang sibuk menyiapkan dagangan besok.


"Bapak belum pulang Mam?" tanya Devi meraih tangan Mami untuk mencium punggung tangan.


"Belum, mungkin lembur," jawab Mami.


"Mau ke mana?" tanya Mami pada Ajeng saat wanita itu mencium punggung tangannya.


"Pamit pulang Tante, tapi sebelum itu boleh ya Ajeng ajak Devi main keluar?" tanya Ajeng meminta ijin.


"Oh ya silakan. Pulangnya jangan malam-malam ya?" Pinta Mami.


"Siap." balas Ajeng.


"Kalau begitu hati-hati ya." Pesan Mami.

__ADS_1


"Ya Mam!" ucap kedua wanita itu berjalan menuju pintu keluar dari rumah, dengan segera mereka memakaikan alas kaki masing-masing.


~*~


"Iya Ibu, aku sedang di jalan. Kalau nggak aku suruh Bang Kek buat antar kuncinya ya!? Oke, kalau gitu aku suruh Bang Kek aja!" Ajeng menutup obrolan teleponnya, langsung meluncur ke aplikasi Bang Kek untuk mengantarkan kunci rumah.


Devi melihat Ajeng yang sibuk. Kembali matanya memperhatikan sekitar. Baru kali ini ia keluar malam bersama teman. Dari kejauhan ia melihat sosok seorang pria yang ia kenal, Jaka.


Dengan siapa dia?


Kenapa dia marah-marah dengan seorang pria. Devi bisa melihat pria itu menunduk mendengarkan setiap amarah Jaka.


"Devi!" Panggil Ajeng menepuk pundak Devi, membuat wanita gemuk itu terkejut bukan main.


Devi pun melihat Ajeng. "Ya?" tanya Devi kebingungan.


"Astaga! Kau melamun?" tanya Ajeng khawatir.


"Gimana?" tanya Devi mengalikan perhatian Ajeng.


"Kita tunggu di cafe aja yuk. Berdiri Mulu juga capek." Ajeng mengandeng tangan Devi.


Devi masih melihat Jaka dari kejauhan. Raut wajah pria itu seperti kesal sekali pada pria di depannya. Apa yang terjadi?


"Kau mau pesan apa?" tanya Ajeng, sibuk melihat daftar menu yang ia pegang. "Astaga kau melamun lagi?!" tanya Ajeng kembali.


Saat Devi mencoba menjawab, Ajeng sudah sibuk dengan pesan dari Bang Jek.


"Bentar, aku menemui Bang Jek dulu." Melangkah meninggalkan Devi.


Devi melihat kepergian Ajeng. Kembali ia membalikkan kepala pada posisi semula. Ia sangat terkejut saat di depannya sudah duduk Jaka memberikan senyuman pada Devi.


"Hai." sapa Jaka seraya memberikan senyuman terkeren-nya.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Devi.


"Yang seharusnya bertanya itu harusnya aku. Sedang apa kau di sini?" tanya Jaka mengembalikan pertanyaan Devi. Pria itu mencoba melihat daftar menu. "Kau mau pesan sesuatu?" tanya Jaka.


"Tidak, aku sedang menunggu Ajeng." Tolak Devi.


Jaka memalingkan wajah, melihat keluar Kafe. "Hai Ajeng." Sapanya saat melihat Ajeng berjalan menuju meja mereka.


Ajeng menunjuk Jaka. "Lah? Ko lu ada di sini?" tanya Ajeng kebingungan.

__ADS_1


Jaka tersenyum pada kedua wanita itu.


__ADS_2