
"Devi berhak mengubah takdir Devi sendiri!"
"Pak." Panggil Mami meletakkan gelas berisi kopi hitam untuk suaminya. "Sudahlah Pak, jangan dipikirkan." ucap Mami.
"Di mana Devi?" tanya Bapak.
"Keluar. Tapi Bapak tidak perlu khawatir, Bagas bersamanya." jelas Mami.
Bapak kembali terdiam, merenungkan bagaimana caranya agar putri ketiganya segera menikah, karena sudah waktunya Devi melepas masa lajangnya. Tapi yang diucapkan Devi ada benarnya juga.
...~*~...
Devi sangat kesal dengan pemikiran kolot orang tuanya. Lagi pula tidak masalahkan kalau dirinya memilih pria yang ia mau. Ya, memang dulu Devi begitu menerima dirinya untuk dijodohkan dengan pilihan mereka, itu saat dirinya masih gemuk dan jelek. Sekarang, oke masih jelek, tapi itu bisa Devi akal-kan dengan makeup.
Merasa dirinya diikut, Devi berbalik ke belakang, melihat orang yang mengikutinya.
"Jangan ikutin aku terus!!" teriak Devi kesal.
"Kalau aku punya salah, tolong maafkan aku." ucap Bagas.
"Aku tidak peduli kau salah atau tidak. Pergilah!" Usir Devi kesal.
Walaupun Devi sudah sekuat tenaga untuk mengusir Bagas dengan berbagai cara, tetap saja Bagas membututi dirinya.
Sampai akhirnya Devi menyerah, memilih membiarkan Bagas mengikuti dirinya.
"Kau mau ke mana?" tanya Bagas.
"Kepo!"
"Tentu saja, setiap langkah pasti ada tujuan."
"Kalau begitu jangan ikuti aku, karena aku tidak punya tujuan." Devi melangkah mendahului.
Dengan cepat Bagas pun mengikut Devi agar ia tidak tertinggal jauh dari wanita itu. Padahal saat mereka kecil, Devi yang selalu mengejarnya, tapi sekarang dialah yang mengejar Devi. Ini adalah sebuah karma.
Karena risih Devi pun memilih untuk berlari meninggalkan Bagas.
"Devi." Panggil Bagas, ia pun harus mengejar kembali Devi.
...~*~...
"Hahaha ..." Ajeng terus tertawa terbahak-bahak, saat Devi menceritakan apa yang ia alami kemarin.
"Lalu bagaimana?" tanya Ajeng.
"Apa?"
__ADS_1
"Ya, lalu bagaimana soal perjodohanmu itu?" tanya Ajeng penasaran dengan masalah yang dialami Devi.
"Sepertinya takdirku sudah tertulis untuk Bagas."
Dari kejauhan Raka melihat mereka.
"Apa ada masalah Pak?" tanya Robin saat Bos-nya berhenti melangkah. Robin menyadari, kalau Raka sedang memperhatikan Devi.
"Mau gabung?" tanya Robin menawarkan.
"Urus saja urusan mu." balas Raka.
Selesai mengambil beberapa menu, mereka melihat sekeliling untuk mencari meja kosong, tapi tidak ada satu pun meja yang tersedia untuk dua orang. Tanpa perintah dari Raka, Robin memilih untuk bergabung dengan dua wanita itu.
"Boleh aku gabung?" tanya Robin, membuat Ajeng yang sedang bicara terkejut.
Devi tersenyum. "Ya, silakan."
Dari kejauhan Raka mengambil napas panjang, rasa jual mahalnya kini tidak berlaku dengan berat ia pun duduk di samping Devi. Itu membuat Devi terkejut. Kedua wanita itu pun melihat sekeliling, saat tahu ternyata tidak ada kursi kosong, mereka pun diam memperhatikan kedua pria itu.
"Sepertinya aku harus menambah kursi di kantin ini." ucap Raka.
"Ya itu harus." balas Robin dengan mulut penuh. Tentu saja Raka tidak menyukai perilaku Robin.
"Kalau mulutmu penuh jangan ngomong! Makanan mu loncat ke nampan ku!" ucap Raka kesal.
"Maaf Pak, biar saya ambil." Memungut nasi tersebut dan memakannya. Perilaku Robin pun membuat kedua wanita yang bergabung dengan mereka merasa jijik.
"Kalau iya kenapa?" balas Robin.
"Itu jorok! Pantas kau itu jomblo!"
"Halo Nona! Jangan bawa-bawa jabatan jomblo ku ya!" Bantah Robin.
Raka dan Devi terdiam melihat pertengkaran mereka.
"Astaga." Komentar Raka.
Devi hanya bisa menahan tawanya, saat melihat reaksi Raka yang sepertinya terganggu dengan tingkah kedua orang itu. Namun keributan itu tidak berlangsung lama, saat Ajeng menerima sebuah pesan, entah dari siapa yang membuat raut wajah Ajeng mulai terlihat bete dan menahan kesal.
"Ada apa Ajeng? Apa ada masalah?" tanya Devi penasaran.
Ajeng menggeleng cepat. "Tidak apa-apa, lupakan saja."
Hening seketika, mungkin itu tidak membuat Raka penasaran, tapi Devi dan Robin itu membuat mereka tanda tanya pada wanita itu.
...~*~...
__ADS_1
"Nanti pulang nongkrong yuk." Ajak Ajeng saat Devi keluar dari WC. Selesai makan siang Devi meminta untuk mampir ke toilet sebelum ke dalam kantor, tentu saja Ajeng menurut untuk menemani Devi.
"Tumben, emang lagi nggak ada urusan?" tanya Devi.
"Ada sih, tapi gua jenuh aja harus gitu terus tiap hari." ucap Ajeng, membuat Devi melihatnya.
"Gitu gimana?" tanya Devi binggung.
"Lupakan saja, bagi gua itu nggak bagus buat di ceritakan." jawab Ajeng, mencoba Devi untuk tidak ikut campur.
"Baiklah kalau ada masalah ceritakan saja ke aku ya." Pintah Devi.
Ajeng tersenyum kecil.
Mereka pun kembali ke kantor untuk meneruskan pekerjaan, jika mereka telat Bos mereka akan mengamuk seperti bayangan mereka dan itu sangat menakutkan. Ajeng melambaikan tangan pada Devi yang akan masuk ke ruangan.
Entah kenapa perasaan Ajeng tidak nyaman saat melewati beberapa teman rekan kerjanya, Ajeng bisa merasakan mereka membicarakan sesuatu tentang dirinya.
"Ajeng, aku pernah liat kamu di karaoke Blue, apa kamu bermain ke sana?" tanya salah satu rekan kerja.
"Tidak, aku tidak suka tempat karaoke." jawab Ajeng tenang sambil sibuk mengetik.
"Masa sih? Tapi aku lihat kamu loh dan aku ada buktinya." balas wanita itu.
Ajeng berusaha untuk tetap profesional dalam pekerjaan, tidak menggubris semua ucapan karyawan wanita itu yang entah itu benar atau salah, yang pasti Ajeng tetap menyembunyikan kenyataan tentang hidupnya.
"Sedang apa kalian?" tanya Robin yang melihat meja Ajeng dikelilingi beberapa wanita. "Apa kalian tidak bekerja?" tanya Robin kembali.
"Maaf Pak." Mereka pun bubar kembali ke meja kerja masing-masing.
Robin melihat Ajeng, memberikan sebuah kartu nama yang ia letakkan di atas meja kerja Ajeng. Ajeng mendongak melihat Robin.
Pria berkacamata itu memberikan senyuman pada Ajeng, sebelum akhirnya pergi meninggalkan meja kerja Ajeng. Ajeng mencoba mengecek belakang kartu nama tersebut.
"Ini nomerku, jika kau ada masalah hubungi aku. Jangan kau simpan sendiri masalahmu."
Ajeng melihat Robin yang masuk ke dalam ruangan Bos.
...~*~...
Tuk. Tuk. Tuk.
Devi mengetuk meja tepat di depan Ajeng yang sedang melamun. Sesuai janji, mereka nongkrong di sebuah Kafe dekat kantor. Namun Devi sangat tidak menikmati karena perubahan sikap Ajeng yang tiba-tiba.
"Ajeng, are you okay?" tanya Devi memastikan.
Dengan cepat Ajeng menggeleng. "Aku tidak apa-apa, kau tenang saja." jawab Ajeng berusaha tenang.
__ADS_1
Tidak ada angin, tidak ada badai. Tiba-tiba seorang pria berkacamata menarik kursi duduk di samping Ajeng, begitu juga pria lain yang bergabung di samping Devi. Itu membuat kedua wanita itu kebingungan dan berpikir bagaimana kedua pria itu tahu kalau mereka ada di Kafe ini.
"Wah, kita ketemu lagi." ucap Robin terlihat senang.