Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Melarikan diri dari perjodohan


__ADS_3

Langkah Devi kembali terhenti saat dirinya melihat sosok punggung seorang pria, Devi kenal siapa dia.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Devi pada pria itu.


Pria tersebut menundukkan kepala, seperti memikirkan kata apa yang pantas diucapkan.


"Orang tua kita yang memaksaku untuk menjemputmu." jawab Pria itu.


Kalian ingat Pria dingin milik Bu RT? Ya, dia adalah Bagas, putra tunggal dari keluarga saudara tiri Bapak, itu sebabnya mereka berusaha mendekati Devi dengan Bagas, agar memberikan yang terbaik untuk putra mereka, karena mereka tahu bagaimana kehidupan Devi dari lahir sampai menjadi wanita secantik sekarang.


Mereka berjalan bersama, hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Devi mulai kesal dengan keheningan ini, dilihatnya pria itu, bibirnya memang terkantup sangat rapat, Devi menjadi ragu untuk memulai pembicaraan. Tapi Devi harus melakukannya.


"Bagaimana pekerjaan mu?" tanya Devi membuka pembicaraan.


"Lancar." jawab Bagas singkat.


Itu membuat Devi kehabisan kata-kata seketika. "Astaga, suaranya mahal sekali." batin Devi.


Langkah Devi melambat, melihat begitu ramai di depan rumah, Devi tau apa yang akan terjadi nanti. Entah apa yang akan dilakukan keluarganya nanti, ia biarkan Bagas berjalan mendahului agar tidak ada pemikiran buruk tentang mereka, tetap saja, walaupun Devi berusaha menghindar, keluarganya tetap menginginkan hal itu.


"Wah, neng Devi sudah pulang?" tanya Bu RT sedang berbincang dengan Mami dan Bapak.


Oh ya, Bu RT adalah janda, membesarkan Bagas sendiri, tidak ada pihak keluarga lain, karena keluarga mereka adalah keluarga Bapak juga, walaupun Bapak adalah anak angkat dari keluarga Bu RT.


"Uuhh ... Dedekku yang imut apa kabar." Mbak Nisa kakak pertama Devi, mencubit gemas pipi Devi yang sudah tidak lagi chubby seperti dulu, tapi tetap saja mbak Nisa melakukan itu pada Devi


"Wah, Devi yang tembem sudah berubah ya?" tanya mbak Dian kakak kedua basa-basi.


Devi adalah anak terakhir dari dua bersaudara, dilihatnya mbak Nisa sudah memiliki anak kembar, mbak Dian sedang mengandung anak pertamanya dan Devi, berdiri di antara mereka yang masih berusaha mencari yang terbaik karena perubahan ini. Dulu saat masih gemuk dan belum glow up, Devi bisa saja memilih pasangan tanpa harus melihat bibit, bobot si pria karena ia sudah memiliki segalanya dari hasil keringatnya sendiri. Tapi sekarang, ia senggang.


"Mam, apa lagi ini?" tanya Devi menemui Mami di dapur.

__ADS_1


"Kali ini bukan Mami, tapi Bapak. Kau kan tau sendiri, Bapak tidak bisa menolak, karena kau tau sendiri kan apa yang sudah mereka lakukan pada keluarga kita." jelas Mami.


"Tapi Devi tetap tidak mau menerima lamaran ini." Bantah Devi keluar dari pintu belakang.


"Devi! Kau mau ke mana!?" panggil Mami.


Devi menoleh menatap tajam Mami, Mami yang ini mencoba menyeret Devi pun tidak berani. " Devi tidak mau!" ucapnya pergi begitu saja.


"Bapak!!" teriak Mami masuk ke dalam rumah.


...~*~...


Devi berusaha menghubungi Ajeng, agar wanita itu menemani dirinya untuk menjauh dari perjodohan ini. Tapi sayangnya Ajeng tidak bisa, karena ada urusan keluarga, Devi pun memilih luntang-lantung menyusuri kota Jakarta sendiri yang saat ini ingin beranjak malam.


Tanpa ragu Devi masuk ke dalam Transjakarta tanpa tujuan, memilih kursi dekat jendela, menikmati pemandangan suasana malam kota Jakarta. Pandangannya teralihkan pada sepasang kekasih yang berdiri bercanda mesra, itu membuat Devi iri. Dialihkannya pandangan agar tidak melihat hal seperti itu, Lampu kota mulai menerangi setiap jalan, ada rasa rindu namun entah punya siapa. Devi mencoba melihat ponselnya yang berdering, namun dengan segera ia mematikan ponsel tersebut karena kesal.


"Aku tidak akan mau menikah dengan pria yang hanya melihat perubahan ku saja!" Gumam Devi kesal.


"Eh, neng Devi ada keperluan apa di sini?" tanya Satpam yang berjaga.


"Saya mau ambil beberapa dokumen di kantor, sekalian mau selesaikan beberapa dokumen buat besok." jelas Devi memberi alasan agar pak Satpam memberikan ijin untuknya.


"Ya sudah, tapi jam 10 harus selesai ya." Pintah pak Satpam seraya membukakan pintu untuk Devi.


"Siap." Devi pun masuk ke dalam gedung kantornya, berjalan menyusuri lorong yang masih setengah terang menuju lift. Sebenarnya Devi ingin bermalam di atas gedung, karena besok hari Minggu dan sepertinya pak Satpam tidak mengetahui itu.


Devi mulai menekan tombol lantai paling atas gedung, namun entah kenapa ia begitu penasaran dengan lantai di mana ia bekerja.


"Coba deh, mungkin ada seseorang yang masih lembur." Devi pun menekan angka lantai tempat ia bekerja.


TING!

__ADS_1


Pintu lift terbuka, kaki kanan Devi melangkah lebih dahulu keluar dari lift, lalu kaki kiri menyusul dan Devi pun berjalan tanpa ada rasa takut sedikitpun walaupun lampu lorong menuju kantornya sudah mati, namun Devi bisa melihat kantornya masih terang seperti ada kehidupan di sana, dengan penasaran Devi jalan menuju kantor tersebut. Lampu kantor benar-benar menyala, samar-samar Devi mendengar suara seseorang mengetik, tapi Devi tidak menemukan seseorang di setiap meja karyawan. Ia mulai menemukan di man sumber suara tersebut, di ruang pribadi Raka.


Devi mulai takut, tanpa basa-basi ia mulai membuka pintu tersebut.


"Sedang apa kau?" tanya seorang Pria yang ternyata sudah berdiri di belakang Devi.


"Akh!" Devi berteriak histeris dengan menampar Pria tersebut.


Plak!


Suara tamparan itu terdengar jelas terdengar hingga memenuhi ruangan. Devi terdiam melihat Pria itu yang sama diamnya,. mungkin ia terkejut karena memdapat tamparan keras mendadak.


"Raka! Maafkan aku!" Devi memohon pada Raka agar pria itu tidak marah padanya.


"Lupakan saja, aku sudah terbiasa dengan tamparan. Sedang apa kau di sini?" tanya Raka, mencoba mengusap pipi kanannya yang memerah, Devi bisa lihat dengan jelas tanda tangannya tertinggal di sana.


"Apa itu sakit?" tanya Devi.


Raka menoleh melihat Devi. "Sedang apa kau di sini?" tanya Raka kembali.


"Aku ingin mengambil beberapa dokumen." jawab Devi berbohong.


"Kalau begitu cepatlah, karena aku tidak mau ada orang lain saat aku sedang bekerja." jelas Raka berjalan menuju kursinya.


Devi tetap tidak beranjak dari tempatnya berdiri, ia masih terdiam seperti menunggu sesuatu, yang nyatanya ia sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya sesuatu.


"Kenapa kau masih berdiri di sana?" tanya Raka.


"Maukah ... Kau menemani aku?" tanya Devi seperti wanita manja yang ingin mengajak kekasihnya untuk berkencan.


Raka terdiam, menatap lekat Devi.

__ADS_1


__ADS_2