Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Harta, Tahta, Glow Up


__ADS_3

Sudah sebulan lebih Devi menjalani program diet. Wanita itu berdiri termenung melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Rasanya seakan-akan air matanya ingin menetes dari pelupuk mata, namun bahagia.


"Apa itu aku?" tanya dirinya menunjuk pantulan dirinya pada cermin.


Devi tidak bisa menahan air mata kebahagiaannya, ia mencoba menahan tapi tetap saja tidak bisa. Sampai akhirnya air mata kebahagiaan itu terbebas dari mata indahnya. Mungkin bagi sebagian orang berat badan 70kg bukan masalah untuk mereka yang sudah memiliki kekasih dan teman yang setia.


Tapi tidak untuk Devi yang kesepian di luar sana, walaupun keluarganya selalu mendukung dirinya, tetap saja ia masih tersakiti dengan omongan orang-orang di luar sana. Itu sebabnya Devi berani untuk mengubah takdir dirinya untuk membuktikan jika dirinya mampu.


"Devi!! Ajeng datang." teriak Mami pada saat memanggil namanya.


Wanita itu berjalan menjauhi cermin untuk keluar dari kamar menemui orang yang bernama Ajeng.


"Kau siap?" tanya Ajeng saat melihat sosok Devi yang menghampiri dirinya.


"Tentu saja." jawab Devi percaya diri.


Mami mendekati mereka membawakan sebuah tas makanan untuk masing-masing.


Kedua wanita itu pun menerima. Tentu saja Ajeng dengan senang hati akan menerima bingkisan tersebut.


"Apa ini Mam?" tanya Devi.


"Makan siang kalian. Semoga kamu terpilih ya sayang." Mami membelai ubun-ubun kepala Devi dengan bangga.


"Wah ... Aku jadi iri. Ibu ku mana pernah membelai rambut ku." Curhat Ajeng.


"Ya sudah sini Tante belai kepala mu."


Dengan cepat Ajeng menurunkan badannya agar Mami lebih mudah meraih kepalanya. Ajeng bisa merasakan belaian lembut pada telapak tangan Mami, nyaman, itu yang Ajeng rasakan. Devi tersenyum bahagia.


"Sudah sana berangkat!" Mami mendorong punggung kedua wanita tersebut untuk keluar dari rumahnya.


"Assalamualaikum." Pamit mereka.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." balas Mami melihat kepergian mereka, senyuman kebahagiaan pun terlukis pada wanita dewasa itu.


~*~


Devi berusaha membenarkan pakaian kantornya, ia tidak sabar untuk mendapatkan tahta jabatan sebagai Manager perusahaan yang baru.


"Gila! Itu si gendut Devi?" bisik rekan kerja di belakangnya.


"Wah, parah! Dia kagak main-main sama jabatan ini."

__ADS_1


"Gila dia jadi Glow Up gitu."


Devi menunduk, tidak masalah seberapa banyak ucapan kotor yang akan menghujani dirinya. Ajeng yang baru bergabung karena dari toilet, menyadari hal itu melemparkan tatapan mata sinis pada orang-orang yang membicarakan Devi.


"Apa kalian keberatan untuk menutup mulut kalian selama acara ini berlangsung?" tanya Ajeng pada mereka.


Orang-orang itu membuang pandangan pada Ajeng.


"Ya, bagus." Ajeng pun memilih duduk bergabung dengan Devi di samping.


"Kau ini, biarkan saja." ucap Devi.


"Tidak akan ku biarkan! Tidak akan ku biarkan mereka menghina mu. Mengerti! Jadi jangan suruh aku untuk diam, orang-orang itu mang membuat aku terbakar!" balas Ajeng penuh dengan amarah.


Mendengar itu membuat Devi tersenyum tanpa Ajeng ketahui, ia sangat bahagia. Walaupun ia tidak mendapatkan jabatan ini nanti, mungkin ia akan tetap bahagia karena kehadiran Ajeng.


Suara sirene terdengar tanda acara sudah dimulai. Mata belo Devi terbuka lebar, saat ia melihat Pria misterius yang sebulan lalu ia temui di lift berjalan menaiki panggung.


"Masih tetap dia ya MC nya." bisik orang lain.


"Dia siapa?" tanya Devi berbisik pada Ajeng.


"Kau tidak tau?"


"Dia sekretaris pribadi anak pertama Bu Rita. Robin."


Devi mencoba melihat Pria bernama Robin tersebut, seakan-akan kacamata yang ia kenakan bersinar seperti didalam film anime saja saat kacamata si pemeran mengenai pantulan cahaya.


"Dan aku menaruh hati padanya." ucap Ajeng asal ceplos, itu membuat Devi terkejut.


"Serius! Pria mana yang mau kau jadikan kekasih?!" tanya Devi kesal dengan sifat genit Ajeng.


"Aku tidak tau. Kan tidak apa-apa menaruh harapan, siapa tau yang diharapkan menyadari itu." jelas Ajeng merasa bangga.


"Astaga, bagaimana kabar kekasihmu yang dulu?" tanya Devi penasaran.


"Kau sendiri bagaimana hubungan mu dengan pria kompleks bernama Jaka itu?" tanya Ajeng membalikkan pertanyaan.


Benar, sudah sebulan lebih ia tidak mendengar tentang Jaka. Semenjak kejadian itu. Devi merasa tidak nyaman, ia pun mencoba berdiri dari tempat duduknya.


"Kau mau ke mana?" tanya Ajeng saat Devi ingin beranjak pergi.


"Aku ingin ke toilet sebentar, kau di sini saja dan beritahu aku nanti siapa yang terpilih."

__ADS_1


"Oke." Ajeng melihat kepergian Devi keluar dari aula.


"Nona Devi! Anda mau ke mana?" tanya Bu Rita yang sepertinya melihat kepergian Devi.


Seluruh mata para tamu acara melihat ke arah Devi.


Devi berbalik melihat atasannya itu. Devi bisa melihat senyuman pada atasannya itu, penuh dengan tanda tanya.


Apa yang dipikirkan Bu Rita?


Batin Devi terus bertanya.


"Semua! Berikan tepuk tangan pada Manager perusahaan kalian yang baru." ucap Bu Rita, kelima jarinya menunjuk ke arah Devi.


Tentu saja itu membuat mata Devi yang belo semakin terlihat jelas. Ia begitu tidak percaya dengan ucapan Bu Rita barusan. Semua orang yang mendukung Devi bersorak dan bertepuk tangan, sedangkan mereka yang tidak menerima semua ini. Mereka tersenyum masam, sinis pun ada.


Ajeng mencoba menghampiri Devi untuk naik ke atas panggung. Dengan malu-malu dan menangis bahagia Ajeng menuntunnya ke atas panggung.


"Ini visi dan misi yang kau buat, kau boleh membacanya." Robin memberikan sebuah dokumen pada Devi.


"Terima kasih." Devi pun mencoba membaca, dengan air mata kebahagiaan.


~*~


Devi mencoba melihat dirinya pada cermin. Sebenarnya ia sangat menginginkan ini, tapi jika dipikir kembali, ia melakukan hal ini hanya untuk membalas dendam kepada mereka yang sudah meledeknya. Ia juga kini bisa bersikap jual mahal pada pria-pria yang dulu pernah menolak lamaran Bapak.


Ya, seminggu yang lalu, mereka kembali di hari yang sama, memperebutkan Devi untuk menjadi calon istri, bahkan kedua orang tua pria itu selalu merayu dengan kata-kata maut. Tapi itu tidak terpengaruh untuk Devi.


Senyuman penuh kemenangan pada bibir tipis terlukis di bibir tipis Devi, terlihat indah.


Harta, Tahta, Glow Up kini ia sudah menyelesaikan semuanya. Dengan perlahan Devi mencoba membuat pintu toilet, dilihatnya seorang pria yang tidak asing untuknya berdiri melihat dirinya.


"Jaka?" panggil Devi.


"Selamat ya, kau berhasil." ucap Jaka memberikan senyuman.


Devi tersenyum membalas senyuman Jaka, saat Devi ingin mendekati pria itu, segerombolan wartawan sudah mengerubungi dirinya, bertanya banyak hal pada Devi. Tentu saja itu membuat Devi tidak nyaman. Devi berusaha mencari sosok Jaka, tapi pria itu sudah tidak ada di sana. Raut wajah Devi mulai berubah menjadi sedih.


"Tolong berikan jalan untuknya." ucap Ajeng, mencoba menyingkirkan para wartawan untuk tidak mengerubungi Devi.


Wanita itu masih terdiam, matanya kembali melihat sosok Jaka berdiri memperhatikan dirinya bersama dengan Robin. Devi bisa melihat pria bernama Robin itu seperti mengajak bicara Jaka, entah apa yang dibicarakan Robin sehingga membuat Jaka pergi meninggalkan tempatnya berdiri.


"Jaka! Jaka!!" teriak Devi.

__ADS_1


__ADS_2