Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Ada Setan apa sih, di Bab ini?


__ADS_3

Setiap Devi memperhatikan Ajeng, wanita itu tidak lepas dari ponsel dan yang Devi khawatirkan pun datang, Ajeng berdiri.


"Sepertinya aku harus pulang, Devi tidak apa-apa, kan?" tanya Ajeng.


"Aku juga mau pulang kok." Devi pun berdiri dari duduknya.


"Kalau begitu kau pulang naik busway-nya sendiri ya, aku mau naik taksi saja." ucap Ajeng seperti menghindar.


"Baiklah." balas Devi kecewa.


"Kalau begitu aku antar kau, daripada kau buang-buang uang, lebih baik menghemat-nya bukan?" Saran Robin.


"Tidak perlu, aku sedang ingin naik taksi." Ajeng menundukkan kepala lalu berlalu pergi begitu saja.


Robin pun mengikuti Ajeng. Saat Devi ingin menyusul mereka, Raka sudah menahannya dengan memegang pergelanggan Devi, membuat wanita itu terkejut menatap Raka.


"Biarkan saja Robin yang urus, kau tidak usah ikut campur." ucap Raka tenang sambil mengunyah potongan buah yang dipesannya barusan.


"Apa kau tau apa yang terjadi?" tanya Devi.


"Tidak. Tapi aku yakin ada alasan kenapa Ajeng tidak melibatkan mu." jawab Raka.


"Lalu? Kenapa kau libatkan Robin?" tanya Devi khawatir.


"Robin itu pria dan aku yakin dia tidak selemah yang dibayangkan." jelas Raka.


"Kalau begitu aku ingin pulang." Devi beranjak dari tempat duduknya. Namun Raka tidak akan membiarkan Devi untuk meninggalkannya, pria itu menggenggam tangan Devi.


"Apa yang kau lakukan!? Lepaskan aku!" Devi mencoba melepas genggaman tangan Raka. Pria itu hanya tersenyum senang dengan penolakan Devi yang menurutnya lucu. Tentu saja itu membuat semua pengunjung Kafe melihat mereka.


"Baiklah ayo pulang." Raka pun menyerah, mencoba berdiri.


Tapi yang Devi heran adalah Raka yang masih menggandeng tangannya, entah apa yang dipikirkan Raka, Devi sangat tidak merasa nyaman.


Jujur ini pertama kali tangannya digandeng seorang pria, tapi bukan Raka yang Devi harapkan, tapi Riki lah yang Devi harapkan dan sepertinya itu tidak mungkin, karena pria itu sebentar lagi akan bertunangan dengan Adellia.


"Mau lebih?" tanya Raka tiba-tiba.

__ADS_1


"Lebih? Apanya?" tanya Devi tidak tahu apa maksudnya.


Raka menggeser genggamannya ke bawah menuju telapak tangan Devi. Devi begitu terkejut saat telapak tangan mereka bertemu, rasanya jantung Devi ingin lepas dari tempatnya, siksaan itu belum sampai disitu, keadaan diperparah saat jari-jari kekar Raka mulai masuk selah-selah jari Devi. Devi hanya bisa memejamkan mata bernapas tidak karuan, namun sepertinya persediaan oksigen di bumi tidak cukup untuknya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Raka terdengar lembut di telinga Devi.


Devi menoleh, ia bisa lihat penuh wajah Raka pas sekali di depan wajahnya, dengan refleks mata Devi berkedip-kedip dengan cepat.


Mungkin ini akan berlanjut kalau saja bus jurusan mereka tidak datang begitu cepat. Ini kesempatan Devi untuk melarikan diri dari siksaan, namun sepertinya niat Devi tidak bisa terlaksana karena genggaman tangan Raka yang erat.


"Lebih baik kita lepas saja, kasihan penumpang lain." ucap Devi pelan namun jelas bagi Raka, dengan berat Raka pun melepas genggaman tangannya membebaskan tangan Devi yang lentik.


"Maafkan aku." ucap Raka merasa bersalah.


Devi akhirnya bisa bernapas lega, namun ini masih terasa canggung dengan Raka yang berdiri di belakangnya. Devi berusaha berpikir positif, karena di belakang Raka adalah wilayah khusus untuk laki-laki, mungkin itu sebabnya Raka berusaha untuk melindungi Devi dari senggolan pria lain dan akhirnya itu terjadi, saat seorang pria berusaha masuk dan bergabung dengan mereka, dengan inisiatif Raka melingkari tangannya mengelilingi Devi. Devi bisa merasakan hembusan napas Raka yang mengenai ubun-ubun. Lagi-lagi Devi harus menahan perasaan aneh ini.


Aakkh!!


Tiba-tiba busway yang mereka tumpangi mengalami mogok di tengah perjalanan, guncangan itu membuat seluruh penumpang terdorong ke depan dengan kuat Raka berusaha untuk menahan tubuh Devi agar tidak terjatuh dan menimpa penumpang lainnya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Raka khawatir.


Devi mengangguk. Seluruh penumpang mengeluh dan mengamuk, mempertanyakan apa yang terjadi dengan busway yang mereka kendarai. Sebenarnya Devi sering melihat busway mogok seperti ini dan sekarang ia merasakannya sendiri, lebih parahnya saat bersama Raka.


"Tunggu sebentar, bus lain akan menjemput kalian." ucap penjaga pintu.


Namun sepertinya ada sebagian penumpang yang tidak suka menunggu, begitu juga Devi. Tapi Devi tidak boleh egois, karena sekarang ini ia tidak sendiri, jika ia perhatikan Raka terlihat tidak begitu ambil pusing dengan musibah ini, bahkan ia mencoba mengecek ponsel.


"Kau mau naik taksi saja?" tanya Raka tiba-tiba.


"Hah? Apa?" tanya Devi tidak begitu jelas dengan ucapan Raka.


"Kau mau nunggu busnya atau pesan taksi online?" tanya Raka.


"Aku nurut kau, maunya gimana." jawab Devi plin-plan


"Baiklah, ayo kita turun." Ajak Raka untuk turun dari bus.

__ADS_1


"Tapi bukannya itu berbahaya?" tanya Devi sedikit takut.


"Tenang saja. Ayo." Ajak Raka mencoba menenangkan Devi agar mempercayai dirinya.


Devi tidak bisa menolak, seakan-akan Raka tahu soal ketidak sukanya tentang menunggu. Dengan pelan Devi menerima tangan Raka untuk turun dari bus.


"Pak, lebih baik jangan. Tunggu bus lain menjemput." ucap petugas.


Devi menjadi ragu untuk ikut dengan Raka, dilihatnya para penumpang lain tidak ragu untuk turun dan memilih transportasi lain. Raka sudah melompat keluar dari bus menunggu Devi untuk turun, tapi wanita itu begitu takut untuk melompat karena pijakannya yang begitu jauh. Dengan sabar Raka mencoba memberikan kedua tangannya bersiap menangkap tubuh Devi.


"Apa kau yakin?" tanya Devi sedikit ragu.


"Loncat-lah aku akan menangkap mu." ucap Raka.


"Mbak buruan, kita juga mau turun." Tegur penumpang lain.


Devi pun mencoba melompat, dengan sigap Raka menangkap tubuh Devi dengan cepat pria itu pun membawa Devi ke tempat yang lebih aman menyingkir dari depan pintu.


"Cepat turunkan aku." Pintah Devi begitu malu. Dengan pelan Raka pun menurunkan Devi dari gendongannya.


PING!


Ponsel Raka berbunyi, tanda ada pesan masuk. Dengan cepat Raka mengecek ponselnya.


"Dia ada di sebrang." ucap Raka.


"Siapa?" tanya Devi tidak mengerti.


"Taksi online. Ayo." Ajak Raka mengandeng tangan Devi, sekali lagi Devi terkejut dengan perlakuan Raka. Entah kenapa hari ini Raka begitu romantis padanya, entah ada setan apa yang merasukinya.


Tapi jujur Devi begitu menikmati perlakuan Raka padanya. Bahkan Devi bisa merasakan genggaman tangan pria itu begitu erat. Mereka pun mencoba untuk menyebrang jalan menuju sebrang, di mana letak taksi online menunggu.


Entah dari mana asalnya, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mendekati mereka. Raka menyadari itu dengan cepat ia mendorong Devi ke sebrang jalan, tubuh wanita itu tepat tersungkur mendarat di trotoar jalan.


BRUKKK!


Terdengar jelas suara benturan keras tubuh Raka beradu dengan mobil tersebut, membuat pria itu terpelanting ke belakang. Devi yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam syok.

__ADS_1


__ADS_2