
"Devi!!" teriak Mami dari luar rumah yang sibuk menyiapkan dagangan.
"Bapak berangkat kerja dulu." Pamit Bapak berjalan mendekati Mami.
Mami mencoba mencium punggung tangan Bapak dengan lembut, pria itu membelai rambut istrinya yang sudah mulai memutih sebagian, walaupun kenyataannya dialah yang paling terbanyak. Namun itu tidak membuat keduanya berpaling satu sama lain. Itulah pentingnya memilih seseorang yang dicintai untuk sehidup semati.
Devi mencoba melangkah keluar dari kamar. Terdiam beberapa saat melihat hal yang berbau romantis di depannya.
"Astaga mataku!!" teriak Devi mencoba meledek kemesraan orang tuanya. Tentu saja orang tuanya terkejut, niat ingin berciuman seperti masa muda harus sirna karena anak perempuan mereka.
"Ya sudah hati-hati di jalan Pa." Mami mencoba menyibak tangan di atas dada Bapak, seperti menghilangkan debu pada kemeja suaminya.
"Assalamualaikum." Pamit Bapak.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Balas Mami melihat kepergian Bapak.
Devi melangkah mendekati Mami. Melihat Bapak yang sedang stater motor tua dan barulah pergi meninggalkan rumah.
"Wah, pasti masa muda Mami dan Bapak sangat so sweet banget ya?" tanya Devi.
Mami tersipu malu. "Kelihatannya?" tanya Mami membalikkan pertanyaan Devi.
Mendapat reaksi seperti itu Devi memoyongkan bibirnya, karena ia tidak begitu suka sebuah rahasia, apalagi yang membuatnya penasaran tingkat akut.
"Kamu mau ke mana?" tanya Mami saat Devi melangkahkan kaki meninggalkan wilayah lapak dagangannya.
"Mau olahraga." jawab Devi, melebarkan ujung jaket olahraga di depan Mami.
"Wah, neng Devi olahraga pagi?" tanya ibu pembeli.
"Ya. Assalamualaikum." Pamit Devi bergegas meninggalkan tempat tersebut. Karena Devi tau apa yang akan terjadi jika ia berlama-lama dengan para ibu-ibu itu, tentu saja mereka akan menyampaikan sebuah pertanyaan layaknya seorang wartawan yang sedang mengumpulkan informasi untuk bahan olok-olok mereka nanti.
Langkah Devi terhenti saat melihat sosok pria yang ia kenal tersenyum pada sekelompok ibu-ibu paruh baya yang sedang berjemur di lapangan basket kompleks. Jika boleh jujur, senyuman Jaka tidak kalah dengan senyuman anak atasannya, Riki.
Saat Devi memalingkan wajah, bersiap untuk meninggalkan tempat tersebut. Tanpa diketahui oleh Devi. Jaka menoleh melihat kepergian Devi, pria itu pun berpamitan pada ibu-ibu di sana untuk meninggalkan tempat tersebut. Tentu saja itu membuat ibu-ibu kompleks berdecak kecewa. Jaka hanya tersenyum semanis yang ia bisa.
~*~
Devi terus berlari memutari lapangan futsal. Sebenarnya ia tidak terkenal, tapi banyak sekali orang melihat dirinya lalu tertawa. Entah apa yang mereka tertawa-kan.
__ADS_1
"Hai." Sapa Jaka yang tiba-tiba muncul di depan Devi dengan berlari mundur.
Tentu saja itu membuat Devi terkejut. "Kau!"
Jaka pun bergabung dengan Devi berdiri di samping wanita itu agar mereka bisa berlari bersama. Tentu saja mata jahat memandang mereka belum berhenti di situ, banyak bisik-bisikan orang-orang julid pada Devi tentunya. Itu membuat Devi tidak nyaman, ia berusaha menjauh dari Jaka untuk menjaga jarak tapi tetap saja pria itu terus mendekat pada Devi.
"Tumben olahraga?" tanya Jaka membuka suara.
"Ya, ingin saja." jawab Devi mencoba duduk pada pinggiran lapangan untuk beristirahat, diluruskannya kaki agar tedak terlalu tegang.
Devi melihat Jaka melangkah mendekati salah satu penjual keliling. Saat kembali, Devi hanya melihat Jaka hanya membawa satu botol saja. Devi mengangguk mengerti, pria itu hanya membelikan untuk dirinya sendiri.
Saat Devi berusaha untuk berdiri, niat untuk mengakhiri olahraga pagi ini. Mungkin karena dirinya tidak pernah berlari itu membuat bagian bawah perut terasa sakit.
Namun Jaka menghentikan langkah Devi. Devi melihat dengan kecut. "Mau apa lagi!?" tanya Devi.
Jaka mengangkat tangan kanan yang memegang botol kemasan tersebut. Devi memandang penuh keheranan.
"Ini untuk ku?" tanya Devi ragu-ragu.
"Ya, aku tau kau pasti capek setelah selesai berolahraga." ucap Jaka.
Jaka tersenyum kecil. "Mau pulang?" tanyanya.
Devi menggeleng. "Mungkin sepuluh putaran lagi." Mulai berlari meninggalkan Jaka.
Mata Pria itu terus melihat gerak Devi, di mana pun posisinya. Entah kenapa Jaka begitu antusias olahraga bersama wanita gemuk itu.
Tidak seperti Pria lain, Jaka tidak begitu risih dengan kegemukan Devi, baginya itu tidak menjadi masalah. Namun senyumannya berangsur menghilang saat tau Devi lebih memilih mengubah takdir dirinya.
Napas Wanita itu terputus-putus, dengan cepat meminum air pemberian Jaka. Bahkan Jaka tidak lupa memberikan handuk kecilnya, karena ia tau handuk milik Devi sudah basah.
"Serius tidak apa-apa?" tanyanya. Mencoba melebarkan handuk tersebut.
"Pakai saja, aku tidak masalah. Lagi pula di kost masih banyak handuk kecil seperti itu, jadi itu untuk mu." ucap Jaka memberi alasan agar Devi menerima handuk pemberiannya.
"Baiklah, jadi ini untukku ya?" tanya Devi.
Jaka mengangguk.
__ADS_1
~*~
Devi mencoba mencegah Jaka untuk tidak mengantarnya sampai rumah. Karena ia tau, jika ia semua tetangga melihat itu akan menjadi bahan gunjangan mereka.
"Sampai sini aja." Suruh Devi.
"Serius tidak apa-apa?" tanya Jaka. "Kalau begitu aku pamit."
Devi mengangguk pelan. Pria yang ada di depannya pun tersenyum mencoba melangkah mundur dan perlahan pergi meninggalkan dirinya.
~*~
Mami dan Bapak tercengang melihat putri ketiga mereka, biasanya Devi akan mengambil menu sebanyak mungkin untuk menghilangkan rasa lapar. Tapi sekarang menu dengan porsi kecil, ditambah ia tidak mengambil menu yang digoreng Mami.
"Bukannya kamu suka terong tepung?" tanya Mami heran.
"Hari ini Devi diet, besok Devi cuti. Jadi sarapannya Devi mau roti saja." Sibuk memakan makanannya.
Mami dan Bapak masih melihat Devi yang masih menikmati hidangan, walaupun sebenarnya ia sangat sulit menahan untuk makan menu yang menggugah selera. Karena saat itu Mami membuat menu penuh dengan goreng. Ia lebih memilih sup ayam yang masih aman untuk program dietnya.
"Alhamdulillah. Devi selesai, terima kasih makanannya." Devi membawa piring bekas untuk ia cuci.
Mami dan Bapak hanya bisa melihat kepergian Devi saat melangkah masuk ke dalam kamar.
"Apa kau mendapat kabar dari pak Yanto?" tanya Mami pada Bapak.
"Mereka menolak saat anaknya melihat sosok Devi yang gemuk." jawab Bapak.
Mami menunduk kecewa. Ini yang terakhir kalinya lamaran mereka ditolak.
"Setidaknya Devi ada kemauan untuk mengubah diri." ucap Bapak.
Mami hanya tersenyum tipis.
~*~
PING!
Dengan segera Devi membuka pesan dari seseorang yang ternyata sekretaris dari Bu Rita, memberitahu untuk membuka email. Tentu saja Devi melakukan hal tersebut, yang ternyata itu adalah pekerjaannya selama di rumah. Bagi Devi ini tidak sulit. Ia sudah mahir untuk melakukan hal ini.
__ADS_1
Dengan cekatan ia mencoba mengecek satu persatu dokumen yang akan ia kerjakan.