Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Orang Tua Asuh


__ADS_3

BLAM!


Dengan keras Joko menutup pintu mobil. Remaja laki-laki itu melambaikan tangan pada Raka dan Robin di dalam mobil, namun saat mereka ingin beranjak pergi dari tempat tersebut ada seorang wanita paruh baya memakai kacamata tebal dengan pakaian Eropa kuno mengetuk jendela mobil. Robin pun mencoba menekan tombol agar kaca jendela turun.


"Selamat pagi Tuan, apa anda orang tua atau wali Joko?" tanya wanita tersebut.


"Ya?" jawab Raka.


"Bisa bicara sebentar?"


Raka melihat Robin berpikir sejenak untuk memilih ya atau tidak. Sebenarnya ini bukan kali pertamanya wanita tua itu memintanya untuk berbicara mengenai Joko, setiap wanita tua itu menghampiri mereka pasti akan melarikan diri darinya. Namun hari mereka tidak bisa lari lagi dengan terpaksa Raka keluar dari mobil yang sudah ditunggu wanita tua itu.


"Cepatlah, saya harus menghadiri rapat penting." ucap Raka.


"Mari ikuti saya." Ajaknya.


Raka menoleh melihat Robin, pria berkacamata itu melambaikan tangan selayaknya seperti banci yang ingin berkenalan pada pria tampan yang diinginkan, Raka memasang wajah cemberut tidak menerima ini semua.


Sebenarnya ini tidak menjadi masalah untuknya, karena ia tahu Joko adalah tanggung jawabnya sekarang, ia harus menerima semua kenakalan anak itu bagaimana pun cara ia melakukannya pada teman-teman sekolahnya. Raka tahu ini tidak mudah. Senior High School ya, saat ini remaja itu sudah memasuki tahap akhir untuk mengecam pendidikan, sedikit lagi. Sedikit lagi tugas Raka selesai saat Joko sudah beranjak dewasa untuk kuliah.


"Maaf sebelumnya kami meminta anda kemari, tapi ini serius. Saya-"


"Cepat ke intinya saja, saya sibuk." ucap Raka memotong ucapan Wanita tua yang duduk di depannya.


"Sebentar lagi akan ada Class Mett, saya harap anda hadir untuk mendukung nak Joko. Karena saya perhatikan anda tidak pernah mendukung anak itu, apa ada masalah pribadi?" tanya Wanita tua itu.


Raka memandanginya cukup lama, berpikir untuk menjawab semua pertanyaan dari Wanita tua di depannya.


...~*~...


BLAM!


Robin menoleh melihat kedatangan Raka.


"Bagaimana?" tanya Robin penasaran.


Raka menarik napas panjang. "Bisakah kau carikan seseorang untuk menemaninya class mett?" tanya Raka.


"Wah, sepertinya sudah mulai kelulusan."


"Ya, dan aku tidak suka menghadiri."


"Kenapa tidak, kau harus bertanggung jawab penuh terhadap anak itu, wali sekaligus orang tua asuhnya." jelas Robin.

__ADS_1


Raka mencoba melihat keluar dari balik jendela mobil, mendengarkan setiap ocehan Robin walaupun ia sebenarnya tidak memperhatikan pria berkacamata itu. Memang begitu berat menjadi orang tua asuh untuk Joko, apalagi dirinya belum pernah merasakan memiliki seorang anak atau pun menjadi seorang ayah.


...~*~...


Devi mencoba merapikan semua dokumen yang tersusun tidak berurutan dengan cermat ia mencoba mengecek satu persatu tahun dokumen tersebut. Namun pandangannya teralihkan saat mendengar suara pintu terbuka, Devi menoleh, melihat jelas Raka dengan raut wajahnya yang sedikit asam.


"Sepertinya ada masalah dengannya?" Batin Devi, ia pun melanjutkan pekerjaannya.


Raka menyadari itu.


"Baiklah." Dengan berat ia mencoba bangkit dari sandaran nyamannya, berjalan menuju ruang pribadi Devi.


Tok! Tok!


Devi membenarkan kacamatanya, mencoba melihat siapa yang berani mengganggu dirinya yang sedang sibuk bekerja, saat mengetahui siapa, Devi hanya bisa diam memandang Raka cukup lama.


"Apa bapak perlu sesuatu?" tanya Devi.


"Apa kau ada acara akhir bulan?" tanya Raka sedikit ragu untuk menanyakan hal sensitif seperti ini. "Tidak? Baiklah kalau begitu." Ingin beranjak dari tempat tersebut.


"Saya belum menjawab pak." ucap Devi sedikit kesal.


Raka kembali membalikkan badan. "Katakan cepat." Melipat kedua tangannya berlagak tidak membutuhkan bantuan Devi.


Tapi Devi tidak seperti dulu yang bodoh dengan hal itu, ia sekarang sudah mengubah dirinya cukup baik ia mengerti sedikit gerakan pria seperti Raka ini. "Tapi sepertinya Anda tidak membutuhkan bantuan saya, saya juga tidak bisa menawarkan diri begitu saja." ucap Devi tidak kalah pintar.


"Lalu kenapa anda kemari?" tanya Devi memotong ucapan Raka.


"Aku ingin kau yang datang." tambah Raka bergegas berjalan menuju meja kerjanya.


Devi terdiam sejenak untuk mencerna ucapan Raka barusan dan saat ia sabar. "What!!" Menoleh melihat Raka. Pria itu melambai-lambaikan jari-jari tangannya. Dengan berani Devi mencoba menemui Raka.


"Apa maksudnya?" tanya Devi tidak setuju dengan keputusan Raka yang tiba-tiba seperti itu.


"Apa saya kurang jelas memberitahu mu?" tanya Raka balik.


"Tapi itu bukan bagian dari pekerjaan?" tanya Devi.


"Memang, tapi saya akan anggap itu bagian dari pekerjaan, kau tenang saja. Semua sudah saya urus dengan baik-baik." jelas Raka bangga.


Devi cemberut. "Baiklah kalau itu mau anda, saya akan lakukan,"


"Oke." jawab Raka.

__ADS_1


"Dengan Robin."


Raka melihat Devi. "Kenapa harus dengan dia?" tanya Raka.


"Karena saya yakin para orang tua akan datang dan tidak mungkin saya sendirian mengurus anak itu." jelas Devi.


"Baiklah nanti aku beritahu dia." ucap Raka.


Devi berdecak binggung, kenapa Raka kembali memanggil dirinya "Aku" bukan "Saya" lagi. Devi tersenyum. "Baiklah." Kembali ke ruang kerjanya.


Tanpa diketahui Devi, Raka diam-diam memperhatikan Devi yang sibuk mengecek sebuah laporan pada dokumen, pria itu menghela napas berat.


......~*~......


Devi mencoba melihat jam dinding, menunjukkan pukul 12 siang pertanda saatnya istirahat makan siang, tapi orang yang Devi tunggu tidak kunjung datang untuk menjemput dengan inisiatif sendiri Devi mencoba menemui Ajeng.


Sesampainya di sana Devi sangat kecewa karena hari ini Ajeng tidak masuk kerja.


"Mencari seseorang?" tanya seorang wanita.


"Wah, sepertinya yang digosipkan orang tentangnya benar." ucap karyawan wanita lainnya.


Devi tidak begitu ingin mencari masalah, ia memilih untuk meninggalkan mereka tentu saja itu menjadi pembicaraan mereka saat Devi benar-benar meninggalkan tempatnya berdiri.


Langkahnya terhenti saat Raka dan Robin keluar dari ruangan kerja. 2 pria itu melihat kedatangan Devi.


"Kenapa muka mu seperti itu?" tanya Robin.


"Ajeng tidak masuk kerja." ucap Devi.


"Mau bicara." ucap Robin.


Tanda tanya untuk Devi tidak mengerti apa maksud dari ucapan Robin.


"Ayo, makan siang dengan kami." Ajak Robin.


Melihat keberanian Robin membuat Raka tidak nyaman.


"Robin apa kau di suruh ke class mett?" tanya Devi saat mereka berbaris untuk mengambil nampan.


Robin mengerti apa yang Devi katakan, ternyata Bos mudanya tidak punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada Devi, ia pun tersenyum tipis.


"Ya, apa kau mau menemani?" tanya Robin.

__ADS_1


"Kalau tidak bisa, tidak usah!" protes Raka yang tiba-tiba ada di sana. Robin yang seharusnya membuka suara ia pun menutup kembali bibirnya.


Devi melihat Robin bertanya apa yang terjadi dengan Raka, pria itu hanya mendelik kan wajahnya tanda tidak tahu apapun.


__ADS_2