Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Pembalut


__ADS_3

Tok! Tok!


Raka mencoba mengangkat kepala melihat siapa yang berani datang ke kantor tanpa seijin dirinya. Ternyata itu adalah Ajeng, dengan tatapan dingin Raka tidak mempedulikan wanita itu.


"Permisi Pak." Sapa-nya.


"Ada apa?" tanya Raka tanpa melihat Ajeng.


"Ini sudah jam makan siang, saya ingin mengajak Devi." Ijin Ajeng.


Devi yang ada di ruangannya, melihat bagaimana reaksi Raka saat itu. Pria itu benar-benar dingin, benar-benar berubah tidak seperti dulu saat menjadi Jaka. Tidak ada jawaban dari Raka, Ajeng terus menunggu jawaban dari Pria itu yang ternyata atasannya sendiri.


Ajeng memberi isyarat pada Devi, kalau Raka tidak mempedulikan dirinya. Begitu juga Devi menyuruh Ajeng untuk pergi duluan saja.


Ajeng sangat kecewa. "Baiklah kalau begitu." Ia pun melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Devi kembali duduk, mencoba melupakan kekecewaan yang baru saja ia rasakan karena sikap egois Raka. Jujur Devi sangat tidak suka dengan perubahan Jaka ke Raka. Entah kenapa ia begitu sangat merindukan sosok Jaka yang ada di dalam hati Raka.


Tok! Tok!


Devi mengangkat kepalanya dari layar monitor, melihat Raka sudah berdiri bersandar pada pintu melihat Devi dengan tatapan mata yang tajam. Devi berusaha untuk tidak menatap langsung pada mata Pria itu, tajam namun indah itu yang bisa Devi ungkapkan.


"Kau tidak pergi istirahat makan siang?" tanya Raka.


"Tidak, pekerjaan ku belum selesai." jawab Devi yang sebenarnya menahan lapar.


"Pembohong." Raka beranjak dari tempatnya berdiri, meninggalkan Devi yang pura-pura sibuk.


Sebenarnya bukan rasa lapar yang Devi tahan saat ini, tapi rasa nyeri pada tubuh. Entah sejak kapan rasa sakit ini menghampiri dirinya, perlahan Devi berusaha untuk berdiri dari duduk, mencoba mengecek ponsel menuju aplikasi khusus wanita. Devi berusaha memegangi perut yang tiba-tiba kram, sangat tidak nyaman.


"Lebih awal sehari. Astaga." Devi sangat terkejut saat melihat kalender bulanan, seperti yang ia katakan, sepertinya Wanita itu melebihi sehari sebelum hari H.


Dengan pelan Devi mencoba bejalan menuju lemari untuk mencari harta berharga wanita jika mendapatkan bulan dadakan, karena Devi sendiri tidak membawanya, karena ia pikir masih ada hari besok, tapi kenyataannya sekarang.


Tok! Tok!


Devi menoleh melihat arah pintu, ternyata Ajeng datang membawakannya nasi kotak untuk makan siang.


"Devi, gua bawa lu makan siang nih." Ajeng meletakan kotak makan tersebut di meja kerja Devi. "Lu, kenapa sih?" tanya Ajeng saat melihat Devi sepertinya begitu tidak nyaman.


Devi mendekati Ajeng dengan memegangi bagian belakang. "Jeng, lu liat nembus nggak." Suruh Devi sedikit takut.


"Hah! Lu mens?" tanya Ajeng.


"Nggak tau tapi kgak enak aja."


Ajeng pun mencoba melihat belakang Devi, benar saja, ia melihat sedikit titik merah yang sudah menembus celana kerja Devi.


"Ada sedikit." ucap Ajeng.


"Lu bawa pembalut nggak?" tanya Devi berharap.

__ADS_1


Ajeng menggeleng. Devi pun kecewa.


"Sedang apa kalian!?" tanya Raka yang sudah kembali dari jam istirahat makan siang. "Ajeng kembali kerja kerja mu." Suruh-nya.


"Itu anu, Pak. Devi."


"Kenapa dengannya?" tanya Raka melipat kedua tangan dan menatap serius Ajeng.


"Jeng, gua kgak apa-apa ko, lu balik aja ke meja." Pinta Devi menahan sakit pada perutnya.


"Tapi Dev, serius pasti itu sakit banget,. mendingan lu ijin aja."


"Kembali ke kerjaan! Sekarang!!" teriak Raka yang sudah kesal dengan kedua wanita itu.


Kedua wanita itu begitu terkejut dengan teriakkan Raka. Tapi itu adalah kesempatan Ajeng untuk membela diri.


"Bapak!!" teriak Ajeng, saat Raka hendak melangkah pergi dari tempatnya berdiri.


Devi berusaha agar Ajeng untuk tidak melewati batas, namun karena kekesalan Ajeng sudah mulai naik ke ubun-ubun, percuma saja Devi memperingatinya. Raka yang mendapat bentakan seperti itu, ia menoleh melihat Ajeng dengan tatapan mata yang tajam.


"Maaf, tapi Devi sepertinya harus ijin untuk mengganti celana atau ijinkan saya untuk keluar membeli pembalut." jelas Ajeng.


"Pembalut?" tanya Raka. "Apa itu?" tambahnya.


"Tuh, kan cowok mana tau masalah wanita." Bisik Ajeng kesal.


"Apa itu benda?" tanya Raka kembali.


Devi tetap diam memperhatikan mereka bicara dengan menahan rasa nyeri untuk menahan rasa sakit ia harus meremas lengan Ajeng, disaat itu juga wanita itu meringis untuk menahan sakit remasan Devi.


"Tuan, ini dokumen yang anda perlukan." ucap Robin yang tiba-tiba muncul memberikan dokumen pada Raka. Pria berkacamata itu melihat mereka. "Kalian sedang membicarakan apa sampai berkumpul seperti ini?" tanya Robin penasaran.


"Robin," panggil Raka, mencoba menelan ludah.


"Ya Tuan?"


"Apa kau tau pembalut?" tanya Raka.


Tanda tanya untuk Robin, pria berkacamata itu menoleh melihat kedua wanita itu.


"Apa diantara kalian ada yang datang bulan?" tanya Robin.


"Kau tau?" tanya Raka.


Robin tertawa kecil, ia berusaha untuk menahannya, namun tetap saja tidak bisa.


"Apanya yang lucu!!" teriak Ajeng dan Raka bersamaan.


"Maaf." Robin menoleh melihat Raka. "Tuan, apa anda tidak pernah mendapatkan pelajaran Biologi di sekolah?" tanya Robin.


"Lama! Kalau gitu biar saya saja yang membelinya!" ucap Ajeng kesal mencoba keluar dari ruangan, namun Raka menahan.

__ADS_1


"Kembali saja ke meja kerjamu!" jawab Raka sama kesalnya.


"Kalau gitu beli saja di DiMart! Apa susahnya sih!?" Pintah Ajeng.


"Bagaimana mau beli! Kalau saya sendiri tidak tau benda itu seperti apa bentuknya!?" tanya Raka berargumen.


"Saya tau." jawab Robin memberikan senyuman.


Raka menoleh melihat Robin tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Ajeng melipat kedua tangannya menatap kesal Raka.


~*~


Raka merasa direndahkan dengan sikap Ajeng, bahkan wanita itu berani memberikan dirinya catatan barang yang harus ia beli, yang paling parah adalah ia harus membeli barang tersebut dengan uangnya sendiri. Raka memijat keningnya, hancur sudah derajat dirinya sebagai bos.


"Kita sampai." ucap Robin.


Raka memberikan kertas tersebut pada Robin, Pria berkacamata itu pun menerima kertas tersebut dengan binggung.


"Tuan bukankah anda yang disuruh?" tanya Robin masih memegang kertas di depan Raka.


"Aku bos mu."


"Anda sudah berjanji Tuan."


Mendengar itu membuat Raka kesal, ia pun mengambil kembali kertas tersebut dengan kasar. Robin hanya bisa menyeringai senang, karena ia tahu Bos-nya tidak akan menuntut, karena yang ia ingat di sumpah keluarga Pratama adalah yang muda menghormati yang tua, itu terlihat saat almarhum Bos besarnya selalu menghormati para pekerja yang lebih tua darinya, namun sayang sikap egoisnya terlalu tinggi, bahkan Raka pun memiliki itu.


Cring!


"Selamat datang di DiMart." Sambut pekerja.


Raka berkeliling menyusuri lorong rak barang, mencari barang yang ada didaftar dari Ajeng, ia mengkerutkan alisnya tanda tidak mengerti dengan semua barang tersebut.


Karena sikap aneh Raka, salah satu karyawan memcoba menghampiri Raka.


"Maaf kak, boleh saya bantu?" tanya Pekerja tersebut.


Dengan ragu-ragu Raka memberikan kertas tersebut pada Pekerja. Pekerja tersebut menerima, mencoba membaca apa yang terdaftar.


"Oh, mari saya tunjukkan." Ajak Pekerja.


"Kalau kau saja bagaimana, saya akan memberikan uang tip untuk mu." ucap Raka menjanjikan sesuatu jika Pekerja itu membantunya.


"Baiklah. Kira-kira pembalutnya mau ukuran berapa?" tanya Pekerja tersebut.


"Ukuran?" tanya Raka seperti orang linglung, mencoba menggaruk kepalanya.


"Biasanya cewek pakai ukuran berapa?" tanya Raka polos.


Pekerja itu terkekeh menahan tawanya. "Baiklah, mau malam atau siang?" tanya Pekerja itu kembali.


"Berikan saja semuanya, oke!!" Raka mulai kesal.

__ADS_1


__ADS_2