
"Terima kasih atas kunjungannya!"
Cring!
Robin memberikan senyuman pada Raka. Sepertinya pria bernama Raka begitu trauma dengan apa yang ia alami barusan di dalam, bagaimana tidak si Pekerja DiMart itu terus mengeluarkan ilmu seputar siklus wanita, bahkan ia sempat diceramahi agar tidak bermain dengan wanita jika si wanita sedang mengalami mens.
"Ya kali gua main campur darah!" ucap Raka menceritakan semua pada Robin.
Robin hanya bisa tertawa kecil mendengar semua keluh kesah Bos kecilnya. "Tapi kita belum selesai." Mencoba meninggalkan tempat tersebut.
Raka menghembuskan napas frustasi dengan semua ini. Robin menyadari itu.
"Apa anda baik-baik saja?" tanya Robin.
"Apa menurutmu aku berubah?" tanya Raka.
"Menurut ku tidak," jawab Robin tenang.
"Tapi aku tidak tau menurut Nona Devi." tambahnya.
Raka mulai terdiam. Tanpa sepengetahuan Raka, Robin melihat dirinya melalui spion mobil dalam, Pria berkacamata itu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedikit tawa kecil, entah apa yang menurutnya lucu. Mereka pun sampai di sebuah Mall pusat kota Jakarta untuk membeli celana.
"Kau harus ikut!" ucap Raka saat keluar dari mobil.
"Baiklah." Robin menurut, dengan berat keluar dari mobil.
BLAM!
Suara keras pada pintu mobil saat kedua pria itu menutupnya.
Seluruh mata wanita memperhatikan mereka, mungkin karena penampilan mereka yang begitu formal dengan style orang kantoran. Tapi sepertinya itu tidak menjadi masalah untuk mereka, mereka terus berjalan menuju toko pakaian untuk wanita.
"Selamat datang di toko kami." Sambut salah satu pegawai, mencoba mendekati mereka.
"Boleh saya bantu?" tanya si pegawai toko.
"Saya mencari celana kantor untuk wanita." ucap Raka tidak begitu minat dengan ini semua. Tapi mau bagaimana lagi ia sudah berjanji akan membelikan semua keperluan yang ada di daftar.
"Ukuran berapa?" tanya Pegawai toko, membuat Raka semakin binggung, sesekali ia melihat ke arah Robin yang selalu menertawakan dirinya.
"Berat badannya 50kg, kalau tidak salah." Ungkap Raka mulai setres dengan semua ini. "Cepatlah saya sibuk. Berikan warna hitam." Pinta Raka menyuruh pegawai toko untuk bergerak cepat.
__ADS_1
Para pegawai toko pun mencoba memberikan pelayanan terbaik mereka untuk satu pelanggan saja.
"Semua jadi 150ribu." ucap kasir.
Raka memberikan uang 200ribu untuk kasir tersebut, mengambil barang dan segera meninggalkan toko tersebut. Tentu saja dengan langkah cepat Robin mengikuti Bos-nya itu. Pegawai toko mencoba berteriak untuk mengembalikan kembalian, namun Raka tidak mempedulikan teriakkan para pegawai toko tersebut, karena kasihan Robin berbalik dengan posisi jalan mundur.
"Ambil saja!" balas Robin. Setidaknya itu membuat mereka tenang.
~*~
"Maaf Ajeng, tapi sekarang gua beneran tidak bawa celana lebih." ucap seorang wanita saat Ajeng meminta dirinya meminjamkan celana kantornya yang lain, karena Ajeng tahu siapa saja yang ada di kantor ini yang biasanya membawa celana lebih. Bukan tanpa alasan biasanya mereka melakukan itu karena sering melakukan kesalahan atau bencana yang melibatkan celana mereka, bahkan baju pun mereka siap sedia.
Ini adalah orang terakhir yang Ajeng meminta tolong, wanita itu pun mencoba berdiri saat lututnya sudah tidak kuat menahan tubuh.
"Baiklah terima kasih." Ajeng pun mencoba menerima kegagalan tersebut.
"Gua heran sama dia, kenapa peduli amat sama tuh cewek?" tanya teman wanita tersebut yang duduk di samping.
"Gua yakin dia cuma ada maunya aja sama si Devi, apalagi kan sekarang dia udah jadi Manajer." jawab wanita tersebut. Mereka tertawa bersama dan Ajeng menyadari itu.
Ajeng kembali ke ruangan pribadi Devi. Wanita berkacamata melihat kedatangannya.
"Bagaimana?" tanya Devi.
"Itu pasti Jaka." ucap Ajeng.
"Raka, Ajeng bukan Jaka."
"Alah. Sama aja." Ajeng beranjak dari kantor pribadi Devi, namun sepertinya orang yang mereka harapkan belum berpihak pada mereka, ternyata itu adalah saudara Bos mereka dengan kata lain putra kedua dari Tuan Pratama. Riki.
"Jadi kau Manajer barunya?" tanya Riki.
Ajeng hanya bisa menundukkan kepala tidak berani langsung kontak mata dengan pria tersebut, entah kenapa Ajeng begitu tunduk dengan pria ini dibandingkan Raka, mungkin karena ia lebih kenal lama dengan Raka dibandingkan Riki.
"Kenapa kau masih duduk di sana? Di mana sikap sopan santun mu?" tanya Riki berkomentar tentang Devi yang masuk duduk di kursi kerjanya.
Kedua wanita itu saling kontak mata, tentu saja Devi tidak kehabisan akal ia mencoba mengambil cardigan-nya di dalam tas untuk menutupi bagian belakang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Riki.
"Itu model baru bos." jawab Ajeng membela.
__ADS_1
"Benarkah? Apa ada?" tanya Riki kembali.
"Tentu saja." Ajeng cengar-cengir menutup kegugupannya.
"Sedang apa kau di sini?" tanya seorang pria.
Semua mata tertuju pada suara pria tersebut. Riki menyeringai. "Hai kak." Sapa Riki saat melihat sosok Raka yang sudah berdiri di depan pintu.
"Aku tanya sedang apa kau di sini?" tanya Raka kembali.
"Menemui manajer baru kita." jawab Riki menunjuk Devi dengan tangannya.
"Bukan hanya ruangan ini, tapi perusahaan ini." ucap Raka memberikan tas paper bag berukuran besar pada Ajeng, namun mata masih melihat Riki.
Dengan cepat Ajeng menerima paper bag tersebut, lalu mengandeng tangan Devi untuk meninggalkan tempat tersebut.
Riki tersenyum, menunduk dan menatap kembali Raka. Kedua pria itu tidak begitu akur, padahal mereka kakak beradik dengan nama kembar, walaupun mereka sebenarnya bukan anak kembar.
"Apa kau tidak rindu dengan Adell?" tanya Riki membuat Raka melangkah mundur.
"Aku sudah tidak tertarik dengannya." balas Raka berjalan menuju ruang pribadinya, tentu saja Riki mengikuti dari belakang.
Saat Raka berhenti dan menoleh padanya, ia menunjukkan sebuah undangan dengan hiasan yang begitu indah. Raka melihat undangan tersebut, ia bisa melihat tertulis nama adiknya dan wanita bernama Adellia Mega.
"Jauhkan benda itu dari pandangan ku!" pintah Raka tegas.
Riki terkekeh menarik kembali undangan tersebut dari pandangan Raka. Meletakkan undangan tersebut di atas meja kerja Raka, tentu saja itu membuat Raka marah dengan perlakuan adiknya yang seenaknya saja.
"Aku tunggu kakak hadir di acara tunangan kami." ucap Riki beranjak dari sana.
"Apa kau yakin?" tanya Raka, membuat langkah Riki terhenti.
"Apa kau yakin ingin menikahi wanita itu yang bahkan kau tidak tau seperti apa dia?" tambahnya.
"Kata siapa aku belum tau, aku sudah cukup mengenalnya, bahkan lebih dari mengenalnya." jelas Riki membela.
"Kau tidak tau dia sepenuhnya." ucap Raka menatap serius adiknya.
"Kalau begitu beritahu aku." Membalas tatapan Raka.
Tanpa mengetuk pintu Devi membuka pintu ruangan tidak permisi terlebih dahulu. Membuat kedua pria itu menatap tajam padanya.
__ADS_1
"Maaf." Dengan cepat Devi menutup kembali karena takut.