Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Kembalinya Musuh di Masa Lalu


__ADS_3

BRUKKK!


Terdengar jelas suara benturan keras tubuh Raka beradu dengan mobil tersebut, membuat pria itu terpelanting ke belakang. Devi yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam syok. Seluruh pejalan kaki berusaha untuk mengejar mobil tersebut, namun mereka tidak bisa menandingi kecepatan dari mobil.


Devi berusaha untuk berdiri tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Raka berjalan tertatih-tati menghampiri Devi, jika itu orang lain mungkin sudah tidak sadarkan diri.


Tapi Raka, masih kuat untuk berjalan , Devi bisa lihat darah segar mengalir membasahi kening Raka dengan napas berat tubuhnya sedikit gemetar.


"Aku butuh air." ucap Raka lirih.


Devi mulai panik, ia pun berlari menuju warung pinggir jalan terdekat, Raka tidak kuat lagi untuk berdiri memilih untuk duduk di pinggir trotoar. Banyak pejalan kaki yang peduli dengannya, namun semua tawaran dari mereka ditolak dengan alasan Raka tidak begitu ingin menerima sesuatu dari orang asing.


"Ini airnya." Devi memberikan air kemasan berukuran 1liter pada Raka. Benar saja dugaannya, Raka mengunakan air itu untuk minum dan membasuh wajah yang berlumuran darah. Devi yang melihat itu sangat terkejut. "Apa kita tidak ke rumah sakit saja?" tanya Devi.


"Tidak perlu." Tolak Raka tegas.


Devi melihat seorang bapak-bapak menghampiri mereka.


"Dengan bapak Jaka?" tanya bapak-bapak itu.


Ternyata dia adalah supir taksi online yang dipesan Raka.


"Astaga saya lupa." Raka berusaha untuk berdiri, dengan sigap Devi memapah Raka menuju mobil.


"Jadi yang kecelakaan anda?" tanya si supir yang ikut membantu.


"Ya." jawab Raka singkat.


Dengan pelan-pelan Devi dan si supir mencoba mendudukkan Raka di jok penumpang, Raka berusaha mengangkat kaki ke dalam.


"Terima kasih." ucap Raka.


BLAM!


Dengan keras Devi menutup pintu mobil, Devi jalan memutar untuk naik dan si supir sudah menunggu di dalam.


BLAM!


Untuk kedua kalinya Devi menutup keras pintu mobil tersebut dan barulah si supir menjalankan mobilnya.


"Apa tidak mau ke rumah sakit dulu?" Tawar si supir, melihat Raka yang sedari tadi memegangi kening.


Devi melihat Raka, berharap pria itu mau.


"Tidak perlu, antarkan saja kami." ucap Raka masih kekeh tidak mau ke rumah sakit.


Devi menatap Raka, dengan inisiatif sendiri ia mencoba memberikan sapu tangannya untuk menahan darah yang sedari tadi mengalir, Raka menerima sapu tangan berwarna putih itu tanpa ragu.


"Apa itu sakit?" tanya Devi khawatir.


"Tentu saja, kalau orang biasa pasti sudah mati. Tapi untungnya stamina ku kuat untuk menahan semuanya." ucap Raka membanggakan diri.

__ADS_1


"Pulang ke rumahku, aku akan mengobati lukanya." Pinta Devi.


Raka menatap Devi. "Apa boleh?" tanya Raka.


"Siapa yang bilang nggak boleh?" tanya Devi kesal.


Raka terkekeh tertawa kecil.


"Kalau kau tidak mau ke rumah sakit, aku akan memanggil tukang urut langganan."


"Tukang urut? Apa itu sama dengan messenger?" tanya Raka menebak.


"Hampir sama tapi jauh beda." jawab Devi.


Raka mengkerutkan alisnya tanda tidak tahu yang diucapkan Devi.


......~*~......


AAKK!!


Teriak Raka saat Devi berusaha membersihkan lukanya dengan alkohol.


"Bagaimana sih! Tadi ketabrak tidak apa-apa, kenapa ini teriak histeris!?" tanya Devi kesal karena kaget.


Raka tertawa kecil. "Maaf. Silakan lanjutkan."


Devi melanjutkannya dengan hati-hati. Ia masih berpikir, bagaimana bisa Raka bisa menahan ini semua, kalau pun memang ada kebanyakan memiliki masa lalu yang begitu menyakitkan dan akhirnya si penderita sudah terbiasa dengan ini semua, bagi mereka ini sudah menjadi makanan sehari-hari.


"Devi." Panggil Bapak yang masuk ke dalam rumah membawa seorang wanita paruh baya.


"Hah? Apa?" tanya Raka tidak tahu apa-apa.


Nek Asih mencoba memeriksa pergelangan tangan Raka, tentu saja itu pasti sangat menyakitkan, namun dengan keras kepalanya ia menahan itu semua.


"Ada apa denganmu?" tanya nek Asih.


"Dia korban tabrak lari." jawab Devi.


"Apa kau sudah ke rumah sakit untuk memeriksanya?" tanya nek Asih.


Raka menggeleng. "Aku tidak akan ke sana apapun yang terjadi."


"Nak Jaka jangan keras kepala, mungkin tidak sekarang tidak apa-apa, tapi-"


"Saya tidak akan ke sana!!" teriak Raka memotong ucapan Bapak.


Mungkin karena kesal, Raka beranjak pergi meninggalkan mereka.


"Raka!!" teriak Devi mencoba mengejar Raka.


Alis Bapak berkerut saat mendengar Devi memanggil Jaka dengan nama Raka.

__ADS_1


...~*~...


"Raka, ayolah." Ajak Devi.


Tapi sepertinya Raka tidak memperdulikan dirinya dengan berpura-pura menghubungi seseorang. Devi tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan ia tidak berhak untuk melarang Raka.


"Pulanglah." Usir Raka.


"Apa Robin akan menjemput mu?" tanya Devi.


Raka menggeleng. "Sopir ku yang lain." jawab Raka.


"Baiklah, hati-hati." Devi melangkah mundur mencoba untuk meninggalkan Raka dengan berat hati.


Mata Raka tidak pernah lepas dari Devi yang melangkah meninggalkan dirinya. Tiba-tiba ponselnya berdering, dilihatnya layar ponsel bertuliskan nama Robin.


"Di mana kau?" tanya Raka.


[ Sepertinya akan ada cerita versi Ajeng dan Robin. Tunggu ya🤗]


...~*~...


Rak keluar dari mobil, karena Robin tidak bisa menjemputnya ia terpaksa memesan taksi online kembali. Entah kenapa apa alasannya Raka tidak pernah ingin menaiki mobil pribadinya sendiri. Melihat majikannya pulang seluruh pekerja di sana menyambut kedatangan Raka, mereka sangat terkejut dengan kondisi Raka yang tidak karuan, kemeja, celana yang ia pakai sobek dan ada beberapa luka lecet dibeberapa area tubuhnya.


"Raka, apa yang terjadi padamu?" tanya Rita yang mengetahui dari salah satu pembantunya.


Wanita itu mencoba memeriksa setiap luka Raka. "Apa ini sakit?" tanya Rita.


"Aku tidak apa-apa ibu, kau tenang saja." ucap Raka tenang, berjalan masuk ke dalam rumah.


"Di mana Robin?" tanya Rita saat dirinya tidak melihat sosok pria itu.


"Ada urusan yang harus ia selesaikan." ucap Raka membela Robin.


"Jika ibu bertemu dengannya, ibu akan memberinya pelajaran." jelas Rita.


"Sudahlah Bu, jangan ikut campur! Aku bisa menyelesaikannya sendiri." Raka mulai risih dengan sikap khawatir ibunya itu.


Rita melihat kepergian putranya itu dengan tatapan kasihan.


...~*~...


Seorang wanita memberikan sebuah amplop pada seseorang Pria. Pria itu pun menerima amplop tersebut dengan senyum lebar saat tahu jumlah uang tersebut.


"Mengapa kau tidak membunuhnya saja?" tanya Wanita tersebut.


"Maaf, beda tingkat beda jumlahnya juga." ucap Pria itu.


"Berapa?" tanya si Wanita memberikan tatapan mata yang tajam. Pria tersebut menyeringai lebar.


...~*~...

__ADS_1


Perawat dan Dokter pribadi di rumah itu mencoba memeriksa semua luka Raka. Pria itu hanya diam sambil memegang suatu benda yang sepertinya sangat penting untuknya.


"Sepertinya orang yang membunuhmu sudah mulai bermain dalam permainannya yang baru dan targetnya sekarang adalah aku." ucap Raka berbicara sendiri.


__ADS_2