Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Flashback [ Mengubah Takdir ] Diary Jaka


__ADS_3

Jakarta, 5 July 2017.


Hari ini aku melihatnya berdiri menunggu kedatangan bus Transjakarta, perempuan gemuk itu aku sebut Nona gemes, mungkin jika kami berteman ia akan menolak panggilan itu dan kami akan bercanda ria. Devi Aldiva, tetaplah seperti itu, aku suka kamu apa adanya.


Remaja laki-laki mencoba memberanikan diri memandangi seorang remaja perempuan dengan seragam SMA Negeri menunggu bus Transjakarta. Rasa ingin mendekati, namun remaja laki-laki itu tidak ada keberanian.


"Hai, aku Jaka, siapa namamu?" tanya remaja laki-laki tersebut mencoba belajar saat menghadapi remaja perempuan itu.


Tapi tetap saja Jaka tidak bisa. Sampai akhirnya ia harus kehilangan sosok remaja perempuan tersebut yang sudah masuk ke dalam Busway, dengan cepat Jaka pun berlari menuju parkiran untuk mengendarai motor tua peninggalan ayahnya. Dengan susah payah kaki kurusnya mengengkel motor tersebut. Jaka memukul kesal kepala motor tua tersebut, gara-gara motornya ia tidak bisa mengejar wanita yang ia suka.


"Jaka!!" teriak remaja laki-laki mendekati dirinya. "Motor lu kumat lagi?" tanyanya.


"Ya gitulah, mana gua kehilangan dia lagi." ucap Jaka kesal.


Teman Jaka tertawa terbahak-bahak saat mendengar itu.


"Kenapa lu ketawa!?" tanya Jaka semakin kesal.


"Lu itu gimana sih, dia kan sekolahnya satu blok sama kita."


"Hah! Serius, boong lu!"


"Ye, pacar gua sekolah di sana, pas jemput gua liat tuh cewek. Ya udah ayo Bateng sama gua!"


Jakarta, 10 July 2017.


Hari ini tidak begitu sibuk, kami sudah melaksanakan ujian kelulusan. Apa kau juga sama? Jika iya, kita akan lulus bersama.


Bahkan aku berusaha mencari tau di mana kau kuliah nanti. Walaupun mata kuliah yang aku tidak suka, tetap saja melihat dirimu aku selalu bersemangat. Dan sepertinya semesta sedang mendukung ku untuk bertemu dengan mu. Saat itu, di sebrang sana, kau berdiri menunggu giliran membeli sepiring somay.


"Jaka lu mau ke mana?!" tanya teman Jaka yang melihat Jaka menyebrang jalan.


"Bentar!!" Balas Jaka berlari mendekati pedagang somay.


Jaka berdiri tepat di belakang wanita yang ia suka. Tidak ada yang menarik dari wanita itu. Ia bertubuh gemuk dengan tinggi 160cm dan memakai kacamata.


"Maaf apa kau punya masalah denganku?" tanya wanita itu.


"Apa kau punya recehan?" tanya Jaka basa-basi.


Wanita itu melihat uang lembaran seratus ribu yang Jaka pegang. "Tidak ada, tuker aja ke Abang somay." Mencoba melangkah pergi.


"Tunggu!!" teriak Jaka.

__ADS_1


Wanita itu menoleh.


"Si-si-si-siapa namamu?" tanya Jaka terbata-bata.


"Dasar orang aneh!" balas wanita tersebut berjalan menjauh dari Jaka.


Jaka mendengus kecewa. Temannya datang merangkul Jaka, memberikan semangat pada pria itu.


Jakarta, 17 July 2017.


Bodohnya aku, menuruti hasrat untuk bergabung dengan mereka yang kotor. Aku bisa melihat mu dari kejauhan tampak ketakutan saat kedua pihak sekolah melempar batu dan berbagai benda. Kau berada di pihak lawan dengan gagah berani ku tarik tangan mu untuk menjauh dari tempat tersebut menuju tempat yang aman.


Matamu terlihat indah saat tidak mengenakan kacamata dengan rambut panjang terurai bebas. Tidak salah aku menatap mu. Dengan berat aku harus melepas tangannya demi keselamatan. Dan itu adalah hari terakhir kita bertemu.


Aku ingat ibu dan adik laki-laki menangis saat pihak kepolisian membawa ku ke dalam sel penjara. Ini terakhir kali aku menulis diary ini.


~*~


...~*6 BULAN KEMUDIAN*~...


"Selamat atas kebebasan mu. Jangan kau ulangi perbuatan itu lagi ya." Pintah seorang polisi menepuk pundak Jaka.


"Baik pak."


Penjaga gerbang pun membukakan pintu untuk Jaka. Dengan langkah pasti pria itu menatap bebas langit, senyumannya ia tebar pada dunia.


BRUK!


"Tuan."


Seorang pria terkejut, ia tersadar dari dunia mimpinya di masa lalu. Robin menyentuh pundak Tuanya agar tetap tenang, bahkan ia berikan segelas air untuk diminum.


"Terima kasih." Ia pun meminumnya.


"Apa anda memimpikan kejadian itu lagi?" tanya Robin.


"Sepertinya pria bernama Jaka itu belum merelakan aku untuk bebas." ucapnya.


"Tuan Raka. Anda memang luar biasa, jika orang lain mendapat musibah yang sama mereka pasti hanya akan memberikan uang santunan saja, tanpa ingin menjadi orang itu." jelas Robin.


Pria bernama Raka mencoba menyekat keringatnya. "Jika aku tidak mabuk saat itu, mungkin aku tidak akan menabrak mati dirinya."


...~*FLASHBACK*~...

__ADS_1


"Pembunuh!!" teriak seorang wanita di ruang pengadilan menunjuk ke arah Raka. Pria itu hanya diam menundukkan kepalanya, atas semua kesalahannya.


Sesekali ia melihat sosok keluarganya dengan penuh tatapan dingin. Ayahnya yang memiliki kekuasaan tentu saja mencoba meringankan beban putra pertama pewarisnya nanti. Namu sepertinya Raka tidak begitu menyukai takdir ini. Ia ingin tetap mengubah takdir menyedihkan ini.


Dengan berani Raka mengangkat kepalanya.


"Saya akan bertanggung jawab! Berikan saya kesempatan untuk merubah semua!" Raka menoleh ibu dari korban yang ia tabrak. "Ijinkan saya menjadi putra anda, selama hidup saya."


Mata seluruh keluarga besar Pratama terbuka lebar.


"Raka!!" teriak pria yang memiliki jabatan tertinggi di keluarga Pratama menatap tajam Raja Pratama.


Raka masih ingat benar pria yang disebut ayah itu begitu sangat marah, bahkan saat kepergiannya dari rumah untuk memenuhi hukumannya pria itu tidak ingin menatap kepergian dirinya. Sampai di hari kematian, Raka harus melepas tanggung jawab perusahaan pada adiknya Riki Pratama. Bahkan ia juga harus merelakan tunangan atas dua perusahaan juga pada adiknya.


Sekarang ia kembali, tentu saja perusahaan tetap diberikan pada Raka karena kesepakatan dalam sejarah keluarga yang tidak bisa dihapus.


"Kak Raka? Kalau kakak berat untuk semua ini, kakak boleh meninggalkan aku di panti asuhan." ucap Joko tiba-tiba.


"Tidak Joko, kau tetap tanggung jawab ku, kemarilah."


Raka mencoba memeluk Joko. "Kau juga boleh memanggil nama kakak mu padaku."


Remaja laki-laki itu membalas pelukan Raka dan menangis didalam pelukan Raka, memecah keheningan malam. Dari kejauhan Robin menyaksikan mereka membuat senyumannya mengembang.


~*~


Devi menutup buku diary yang baru saja ia selesai baca. Ia tidak tau kalau saat itu pria itu menyukai dirinya yang gemuk. Devi menangis mencoba berbaring memeluk buku usang tersebut.


"Maafkan aku Jaka."


Dari luar Mami mendengar suara isak tangis putrinya, ia pun mencoba memberanikan diri, namun itu dicegah oleh Bapak.


"Biarkan saja, dia begitu kuat menghadapi semua ini." ucap Bapak.


"Bagaimana kau tau kalau Devi bisa menghadapi semua ini?" tanya Mami.


"Bukankah kau sudah lihat sendiri?" tanya Bapak. Pertanyaan Bapak berhasil membuat Mami terdiam, wanita itu pun memilih untuk meninggalkan tempat ia berdiri.


~*~


Devi mencoba melipat semua alat shalat. Bapak memandangi Devi dengan senyuman, tentu saja itu membuat Devi tidak nyaman.


"Bapak kenapa sih? Liatin Devi terus."

__ADS_1


Bapak pun tertawa lepas. "Tidak apa-apa, Bapak hanya akan merindukan mu saat kau sudah berkeluarga nanti."


Ucapan Bapak membuat Debi terdiam, menunduk sedih jika membayangkan itu semua.


__ADS_2