Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Sebulan yang lalu [ pamit ]


__ADS_3

...~* SEBULAN YANG LALU *~...


Sepulang dari GYM Devi sudah bersumpah untuk tidak makan malam sebelum tidur nanti. Devi mencoba menyekat keringatnya yang sedari tadi menetes dari kening melewati kelopak mata, sedikit terasa perih dan asin saat mereka melewati bibir Devi.


"Sudah mau pulang?" tanya Sari pelatih Devi.


"Iya." jawab Devi singkat.


"Temanmu yang kemarin ke mana?" tanya Sari.


Devi mengangkat kedua pundaknya tanda tidak tau apa-apa tentang Ajeng, karena sejak pagi wanita itu hanya janji saja yang katanya ingin GYM bareng kalau hari Minggu dan ternyata dia malah mengingkari janji tersebut. Itu membuat Devi sedikit kesal.


"Hah! Lu udahan?" tanya Ajeng yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Devi dan orang-orang di sana melihat kedatangan Ajeng dengan pandangan kebingungan. Bagaimana tidak, ada seorang wanita yang tiba-tiba masuk bertanya entah pada siapa, tentu saja itu membuat seluruh penghuni GYM melihat padanya.


Devi mencoba mendorong Ajeng untuk keluar dari GYM.


"Kenapa?" tanya Ajeng kebingungan.


Devi melihat Ajeng menunggu jawaban. Ajeng hanya bisa tersenyum cengengesan, Devi bersedekap menunggu jawaban.


"Oke, oke maaf aku telat datang. Aku kesiangan gara-gara semalam harus lembur, ada dokumen yang harus aku selesaikan." jelas Ajeng.


"Terus sekarang bagaimana? Kau masih mau olahraga?" tanya Devi.


Ajeng melihat GYM tersebut, lalu memberikan raut wajah yang sepertinya sangat berat. "Tidak, mendingan kita ke Kafe." Ajak Ajeng mencoba menarik tangan gemuk Devi.


Tangan gemuk Devi?


Ya, sepertinya wanita itu sudah ada sedikit perubahan pada dirinya. Sesampai di Kafe Devi mencari menu yang pembuatannya dengan cara goreng, karena minyak bisa membuat lemaknya datang kembali.


"Apa di sini ada menu salad?" tanya Devi pada pelayan Kafe.


"Ada Nona."


"Kalau begitu aku ingin itu dengan porsi besar dan minumnya air saja."


Si pelayan pun mencatat pesanan Devi, kemudian melihat Ajeng.


"Aku mau ayam geprek aja, minum es teh." ucap Ajeng pada pelayan Kafe, memberikan buku menu pada pelayan.


Selesai menyebutkan semua menu pesanan kedua wanita itu, si pelayan pun melangkah pergi meninggalkan meja mereka menuju sebuah jendela yang memisahkan ruangan Kafe dengan dapur.


"Devi, kau tau Jaka." ucap Ajeng membuka percakapan.


Devi yang sibuk main ponsel pun teralihkan saat mendengar nama Jaka disebut, ia pun mengangkat kepala untuk melihat Ajeng.

__ADS_1


"Ya, kenapa?" tanya Devi penasaran.


"Aku ke sini naik Busway, di jalan aku bertemu dengannya bersama dengan Bu Rita dan mereka bertengkar hebat."


"Bu Rita?" Devi mengingat saat Bu Rita menceritakan masalah dengan Jaka. Tapi Devi tidak tau pasti masalah apa yang mereka alami. Apakah yang Ajeng lihat itu adalah masalahnya.


"Lalu, apa yang mereka ributkan?" tanya Devi penasaran.


"Entahlah, aku hanya melihat sekilas."


"Silakan pesanan anda." Pelayan pria mencoba meletakkan pesanan mereka di atas meja. "Selamat menikmati." ucapnya sebelum pergi dari sana.


Devi mencoba melihat salad sayur yang dipesan, entah kenapa setelah mendengar tentang Jaka dan Bu Rita. Ajeng yang menyadari itu, mencoba menepuk punggung tangan Devi agar sadar. Devi terkejut.


"Kau melamun?" tanya Ajeng.


"Ya."


"Apa yang kau lamunkan? Jaka dan Bu Rita?" tanya Ajeng.


Devi mengangguk pelan.


"Astaga Devi, sudahlah, lupakan saja. Mungkin saat itu Jaka tidak sengaja menyenggol mobil Bu Rita dan beliau meminta ganti rugi."


"Mungkin." Devi lanjut makan.


~*~


Namun langkahnya terhenti saat ia melihat seorang remaja laki-laki yang ia kenal.


"Joko!" Panggil Devi.


Remaja laki-laki itu tidak mendengar panggilan Devi, ia terus berjalan memasuki pasar, karena penasaran Devi pun terus mengikuti remaja laki-laki itu sampai ke suatu tempat, kuburan. Devi sangat terkejut, tapi rasa penasarannya tetap mendorong diri untuk tahu apa yang dilakukan Joko, sendirian di kuburan?


Butuh 5 menit untuk Devi menunggu, hingga remaja itu meninggalkan makam seseorang. Merasa sudah aman barulah Devi mencoba mendekati makam tersebut. Mata Devi terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Devi sangat terkejut, melihat nama pada nisan itu.


~*~


"Joko! Joko tunggu!" Devi terus memanggil dan mengikuti remaja bernama Joko itu.


Entah Joko tidak mendengar panggilan Devi atau memang ia sengaja menghindari Devi. Wanita itu mulai kesal, ia pun mencoba meraih kerah belakang baju Joko dengan kasar. Tentu saja itu membuat Joko jatuh tersungkur, membuat semua yang ada di sana tersentak kaget dengan perlakuan Devi.


"Mbak Devi? Ada apa? Kenapa Mbak mendorong aku?" tanya Joko dengan tatapan sedih.


"Hai gendut! apa yang kau lakukan! Apa kau punya masalah dengannya!?" tanya seorang pria, kata 'gendut' membuat dada Devi terasa sesak, ia pun memilih untuk mundur saja, meninggalkan tempat tersebut.


"Mbak Devi!!" teriak Joko.

__ADS_1


~*~


Tok! Tok!


"Ya!" Mami membuka pintu, terkejut saat melihat sosok seorang pria berdiri di depannya. Mami kenal dengan sosok pria itu, ia pun menunjuk pria tersebut.


"Kau, ada apa ya?" tanya Mami.


"Apa ada Devi di rumah?" tanya pria itu.


"Kau yang menangisinya lagi! Kenapa kau suka sekali membuat putri saya menangis!!" Mami membentak pria tersebut.


Devi yang ada di kamar mendengar suara ribut-ribut Mami membuatnya penasaran.


"Mam ... Kenapa sih?" tanya Devi. Langkah Devi terhenti, melihat siapa yang Mami bentak. "Jaka."


~*~


"Jadi untuk apa kau ke sini?" tanya Devi.


"Aku meminta maaf untuk perbuatan Joko padamu tadi siang. Tolong maafkan dia."


Devi menunduk, ia bimbang ingin rasanya memberitahu apa yang ia lihat saat melihat batu nisan itu. Devi mencoba melihat Jaka dengan tatapan serius. " Jaka." Panggil Devi


"Ya?"


"Aku dengar kau tidak mendukung ku untuk menurunkan berat badan.?"


"Ya, tentu. Aku lebih suka kau apa adanya."


"Tapi tidak dengan semua. Aku akan tetap mengubah takdir ku sendiri."


Jaka tersenyum. " Tentu, aku tidak ada hak untuk melarang mu."


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Devi mencoba mengumpulkan keberanian.


"Aku tau apa yang ingin kau tanyakan padaku." jawab Jaka mengerti apa yang Devi pikirkan.


Devi melihat Jaka. "Siapa kau sebenarnya Jaka?" tanya Devi.


"Kau akan tau nanti dan aku akan menceritakannya semua padamu." ucap Jaka berjanji.


Malam ini begitu ramai, tapi bagi Devi ini begitu sepi untuknya.


"Dalam sebulan ini aku tidak akan menemui mu," ucap Jaka tiba-tiba.


Devi melihat Jaka dengan tatapan tidak mengerti.

__ADS_1


"Aku akan menjauh darimu, sampai kau mencapai semua yang kau impikan itu." tambahnya.


"Apa maksudmu!" Devi tidak mengerti dengan pemikiran Jaka, ia kesal.


__ADS_2