
Semua mata tertuju pada seorang Pria yang baru saja masuk ke dalam kantor mereka. Bahkan Ajeng yang sedari tadi berisik berjulid pun terdiam saat melihat kedatangan Pria tersebut.
"Apa itu Tuan Raka?" tanya salah satu karyawan wanita.
"Hah! Benarkah?" tanya rekan kerjanya tidak percaya. "Dia lebih tampan daripada Tuan Riki."
"Iya dia kelihatan dewasa."
Ajeng yang membelakangi pun menoleh untuk melihat seperti apa wajah anak pertama dari keluarga Pratama itu. Saat mengetahui siapa, mulut Ajeng terbuka lebar membentuk huruf o, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Bukankah itu Jaka!" Batinnya tidak percaya.
Pria itu berjalan masuk ke dalam ruangan Bu Rita, namun langkahnya terhenti, menatap meja kosong diantara mereka yang sedang memandangi dirinya.
Ajeng bisa melihat alis Jaka berkerut seperti kesal. "Di mana Manajer baru kalian?" tanyanya.
Ajeng dan karyawan lain melihat meja kerja Devi. "Anu Pak, sebentar lagi dia pasti datang ko." ucap Ajeng mencoba membela teman kerjanya itu.
Jaka menatap tajam Ajeng, sebelum akhirnya berjalan menuju ruangan Bu Rita, Manajer mereka yang lama. Setidaknya ruangan itu memang milik ibunya jadi ia memilik hak.
"Ada apa kalian kumpul-kumpul seperti ini?" tanya Rita yang baru saja sampai.
"Bu Rita! Selamat pagi!" Semua karyawan terkejut dengan kedatangannya dengan gerak cepat semua kembali ke meja kerja masing-masing.
"Ajeng di mana Devi?" tanya Bu Rita pada Ajeng, saat wanita itu beranjak berdiri dari kursi yang ia duduki.
Tiba-tiba mereka mendengar suara ketukan sepatu heels yang seperti berlari mendekati pintu, semua mata tertuju pada pintu,
"Selamat pagi Bu." Sapa Devi yang baru sampai. Ia kebingungan kenapa semua menatap dirinya dengan seperti itu.
"Hai manajer baru sudah datang, ko datangnya terlambat?" tanya salah satu karyawan.
"Maafkan saya Bu." ucap Devi menundukkan kepala mendekat pada Rita.
"Hari ini kau sudah mengantikan saya, Tuan Raka pun sudah mulai bekerja, jadi jangan membuat dirinya kesal dengan keterlambatan mu ini." Jelas Rita.
"Baik Bu."
__ADS_1
Rita menatap seluruh karyawan. "Dan kau, jaga mulutmu itu!" Memperingatkan karyawan yang bicara barusan, melangkah masuk ke dalam ruang pribadinya.
Saat Bu Rita sudah benar-benar masuk, Ajeng mencoba mendekati Devi, mencoba memberitahu siapa Jaka yang sebenarnya.
"Devi kau tau Jaka itu siapa?" tanya Ajeng.
Devi terdiam, berpikir kalau Ajeng sudah tau masalah Jaka bertanggung jawab atas kematian Jaka yang sesungguhnya. Tapi Devi belum tahu Jaka yang ia kenal ini siapa.
Devi mengangguk pelan. "Tidak." ucapnya.
"Jaka ada di dalam dan ternyata dia adalah Raka putra pertama Bu Rita," jelas Ajeng.
Mendengar ucapan Ajeng membuat Devi menatap tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Pantas waktu itu dia dekat dengan Bu Rita." Tambah Ajeng.
"Sekarang dia di mana?" tanya Devi.
"Ada di dalam." Ajeng melangkah menuju meja kerjanya.
Devi pun mencoba membawa dokumen yang sudah ia siapkan untuk rapat, berjalan menuju ruangan tersebut. Baru sampai di pintu, seorang pria sudah menutup pintu masuk ke ruangan tersebut, Devi mencoba mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang berani menghalangi.
"Apa kau tau pekerjaan mu!?" tanyanya tegas.
Seluruh karyawan berpura-pura tidak melihat kejadian yang sebenarnya mereka lihat, namun sesekali mereka melirik untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Jika di sini aku atasan mu dan jangan pernah panggil aku Jaka." ucapnya kembali.
"Baik Pak, maafkan saya." Devi tidak berani menatap matanya.
"Beritahu pada mereka untuk ke ruang rapat." Merebut dokumen yang Devi pegang dan berlalu dari pandangan wanita itu.
Devi mencoba melangkah menuju meja semua karyawan untuk memberitahu akan ada rapat dalam 5 menit lagi. Namun tindakannya itu membuat Raka kesal.
"Mau sampai kapan kau berkeliling!!" teriak Raka, membuat Devi yang sudah sampai di meja Ajeng terkejut.
Devi menatap Raka, mencoba menahan diri untuk tidak menangisi dari perubahan sifat pria itu. Ajeng pun mencoba berdiri memegang pundak temannya.
__ADS_1
"5 menit lagi kita kumpul di ruang rapat!!" teriak Ajeng.
"Kenapa kau yang mengatakan itu!" Protes Raka. "Kenapa tidak kau saja yang menjadi Manajer!?" Pinta Raka kembali meledek Devi. Pria itu berjalan menuju ruang rapat, karena keributan ini sudah melebihi 5 menit yang dijanjikan. Seluruh karyawan pun bersiap untuk mengambil dokumen yang mereka perlukan dan menyusul atasan mereka.
Ajeng kembali mencoba menenangkan hati Devi untuk tidak terpengaruh oleh sikap perubahan Jaka yang ternyata Raka. Dengan pelan Devi memegang tangan Ajeng pada pundaknya tersebut, memberikan senyuman palsu, tanda kalau dia baik-baik saja. Devi mencoba masuk ke dalam ruangan rapat, di sana Bu Rita dan Raka sudah menunggu kedatangannya.
Devi mengikuti Ajeng untuk duduk di samping.
"Nona Devi bukankah kau Manajer yang baru?" tanya Bu Rita.
"Ya?" jawab Devi yang sebenarnya tidak tahu apa-apa soal materi rapat ini.
"Berdirilah, perkenalkan dirimu." tambah Bu Rita.
Devi pun mencoba melangkah menuju depan, ia begitu gugup. Ternyata tahta jabatan yang ia inginkan tidak seindah yang ia bayangkan. Namun suasana tegang berubah hilang seketika saat pintu ruang rapat terbuka. Semua mata tertuju pada pintu tersebut, yang ternyata itu adalah Robin.
"Maaf saya terlambat." ucapnya, mendekati Devi dan berdiri di samping wanita itu.
Devi menatap Robin dengan tatapan binggung. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Devi.
"Aku sekretaris pribadi Tuan Raka dan aku juga membantu mu." Ungkap Robin. "Mulailah dengan perkenalkan jabatan baru mu." Bisik-nya.
Devi menatap seluruh karyawan yang sudah menunggu dirinya untuk bicara. Dengan berani Devi mulai melakukan apa yang Robin katakan, bahkan ia mendapat jempol dari Ajeng di kejauhan.
Tanpa Devi sadari, Raka mencoba menyembunyikan senyuman dengan menutup mulut saat tangan itu menumpu kepalanya.
~*~
"Devi selamat ya, perkenalan mu luar biasa." ucap salah satu karyawan mencoba menjabat tangan kanan Devi. Tentu saja Devi memberikan senyuman pada orang itu.
"Terima kasih." Satu persatu Devi selalu mengucapkan kalimat itu saat ada yang memberinya semangat dan selamat, begitu juga Ajeng.
Tapi tidak semua memberikan selamat, ada beberapa orang yang sepertinya tidak peduli dengan keberhasilannya, Devi tetap mencoba memberikan senyuman pada mereka.
"Devi! Masuk ke ruangan saya!" Suruh Bu Rita saat Devi ingin beranjak duduk ke meja kerjanya. Dengan cepat Devi mengikuti wanita itu masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Sekarang saya sudah tidak akan ada di sini, karena Raka sudah kembali menjadi atasan mu, kau akan menempati ruangan saya." jelas Bu Rita menunjuk ruangan tepat di samping Devi. "Jangan buat Raka kecewa." tambahnya.
__ADS_1
Devi menunduk. "Baik Bu."
"Saya akan menyuruh OB untuk membantumu memindahkan semua barang." Bu Rita mencoba menguncir rambutnya, selesai ia pun mencoba mengangkat tas jinjing yang terbuat dari kulit, entah apa itu.