
Dengan cepat Ajeng menerima paper bag tersebut, lalu mengandeng tangan Devi untuk meninggalkan tempat tersebut.
Devi mencoba menoleh kebelakang melihat kedua pria itu. Saat mereka sampai di toilet, Ajeng mencoba memeriksa semua barang yang ia minta.
"Aku akuin dia begitu bertanggung jawab." ucap Ajeng menunjukkan isi dari paper bag tersebut pada Devi. "Dan dia benar-benar membelikan boba macha." Ajeng kegirangan menempelkan boba macha tersebut pada pipinya yang tirus.
"Dasar kau ini, tidak boleh seperti itu." ucap Devi memperingati Ajeng.
"Biarin, sekali-kali mencari keuntungan dengan bos sendiri." ucap Ajeng membela diri.
Devi mencoba masuk ke WC untuk mengganti celana, diangkatnya celana tersebut tinggi-tinggi, senyuman Devi terlukis saat tau kalau celana itu pas dengan warna blezer kantornya, namun Devi sedikit penasaran dengan harga celana tersebut dan begitu terkejut saat tahu harga celana itu. Memang menurut Raka mungkin itu sangat murah, tapi untuk Devi tidak, walaupun ia sudah menjadi Manajer tetap saja ia harus menghemat uang gajiannya untuk tidak membeli banyak pakaian kantor.
Devi membuka pintu WC.
"Wah, itu cocok dengan blezer mu. Pria itu memang luar biasa." ucap Ajeng, menyedot boba macha nya.
Kedua alis Devi berkerut. "Ajeng ini toilet!" Bentak Devi.
"Maaf, abis nggak bisa nolak sih, lagian nih udah habis. heheheh ...."
Devi menghembuskan napas panjang.
"Dia juga membelikan minuman pereda nyeri haid, padahal gua kagak nyuruh beli." Ajeng menunjukkan minuman tersebut yang terbuat dari botol kaca.
Devi terdiam menerima benda itu, sambil melangkah keluar dari toilet. Semua mata pekerja melihat mereka, tapi kedua wanita itu tidak begitu peduli, Ajeng pun memilih kembali ke meja kerjanya dan Devi masih berdiri memandangi pintu ruangan masih tertutup rapat.
"Apa pak Riki masih di dalam?" tanya Devi berbicara sendiri.
Dengan perlahan Devi membuka pintu ruangan tersebut. Saat ia mencoba mengintip kedua mata pria itu memandang tajam ke arahnya
"Maaf." Dengan cepat Devi menutup kembali karena takut.
Tidak lama kejadian itu pintu pun terbuka, dilihatnya Riki keluar dari sana dengan cepat Devi membungkukkan badannya.
"Bukankah kau wanita gemuk yang merusak jas ku?" tanya Riki.
"Iya pak, anda benar." jawab Devi tanpa ragu.
Pria itu tertawa kecil. "Bagaimana bisa? Kau melakukan diet ketat sampai langsing seperti ini? Program apa yang kau ikuti?" tanya Riki penasaran namun bagi Devi itu seperti merendahkan dirinya dan Devi tidak suka ada orang membicarakan tentang dirinya di masa lalu.
Devi berniat ingin menjawab, namun.
__ADS_1
"Devi!!" teriak Raka dari dalam ruangan.
"Saya permisi dulu pak." Pamit Devi masuk ke dalam.
Riki menyeringai. "Begitu rupanya."
~*~
Devi bergegas menemui Raka. Pria itu berdiri membelakangi dirinya.
"Ya pak?" tanya Devi.
"Sedang apa kau di luar, kau tidak tau banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan!?" tanya Raka kesal.
Devi menunduk. "Maafkan saya pak."
"Kembali bekerja." Pintah Raka.
Devi pun melangkah menuju ruang kerjanya.
"Dan jangan kau dekat-dekat dengannya." tambah Raka menghindari pandangan dari mata Devi yang seperti bertanya. Namun wanita itu menahan untuk tidak bertanya.
Devi meletakkan paper bag tersebut yang sedari tadi tergantung di tangan dan mulai kembali menyelesaikan pekerjaannya.
~*~
"Lu yakin kagak mau pulang bareng gua?" tanya Ajeng kecewa saat Devi menolak untuk pulang bersama.
"Bukannya kagak mau, masalahnya Raka masih kerja dan gua kagak enak buat ninggalin." jelas Devi.
Ajeng menoleh melihat Robin dan Raka sedang berbicara, seperti membicarakan hal yang sangat penting.
Ajeng memajukan bibirnya. "Baiklah kalau begitu, dahh ..." melambaikan tangan pada Devi.
Devi pun membalas lambaian tangan tersebut. Saat Ajeng sudah mulai dekat dengan pintu, Robin pun sama ingin beranjak, membuat pundak mereka berbenturan. Dengan segera Robin pun menyingkir, mempersilakan Ajeng untuk keluar lebih dulu. Tanpa ragu Ajeng pun keluar dari ruangan tersebut, melangkah menuju lift. Saat pintu mulai tertutup sebuah tangan menahan pintu lift tersebut, Ajeng bisa melihat jelas beberapa urat nadi pada tangan tersebut.
Robin memberikan senyuman saat Ajeng mengangkat kepala melihat dirinya. Dengan cepat Ajeng membuang pandangan tersebut ke arah lain.
"Pulang naik apa?" tanya Robin membuka percakapan di dalam keheningan lift tersebut.
"Transjakarta." jawab Ajeng singkat namun jelas.
__ADS_1
Robin mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Pria berkacamata itu melihat Ajeng, lalu tersenyum. Tentu saja Ajeng mengetahui itu.
"Apa ada sesuatu padaku?" tanya Ajeng sedikit takut.
Robin mengangguk. "Kau sangat cantik." Puji Robin.
Ajeng menoleh menatap Robin dengan alisnya yang berkerut karena tidak mengerti tujuan Robin dengan ucapan yang dilontarkannya itu.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka masih saling menatap, dengan cepat Ajeng mencoba sadar agar tidak terpengaruh dengan mata tajam Robin dan meninggalkan pria itu sendiri. Robin kembali tersenyum.
~*~
"Kau tidak pulang?" tanya Raka berdiri di depan pintu.
"Bukankah anda sendiri yang bilang, kalau pekerjaan belum selesai tidak boleh meninggalkan tempat duduk." jelas Devi.
"Ya memang, tapi aku yakin kau pasti sudah selesai dengan pekerjaan sekarang."
"Apa bapak sudah selesai?" tanya Devi.
"Apa kau membaca buku diary Jaka?" tanya Raka memberanikan diri.
DEG.
Dada Devi terasa sesak, ia menunduk melihat buku tersebut yang kebetulan ia sedang membacanya, kembali melihat Raka.
"Apa anda tau Jaka seperti apa?" tanya Devi penasaran.
"Bukankah kau pernah melihatnya?" tanya Raka berbalik bertanya.
Devi kembali menunduk melihat buku dengan sampul kulit berwarna cokelat tersebut. "Ya, tapi sayangnya saya tidak tau bagaimana dia memperlakukan wanita." Air mata Devi tiba-tiba menetes tepat di atas buku usang tersebut.
"Pulanglah ini sudah malam." Raka melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Devi Aldiva mencoba memasukkan buku usang tersebut ke dalam tasnya dan benar-benar meninggalkan kantor tersebut. Devi berjongkok mencoba untuk menenangkan dirinya, menangisi pria yang tidak ia ketahui sebelumnya. Tapi Devi tidak tau kalau Raka lah yang paling tersakiti.
Bagaimana tidak ia sudah membunuh pria yang sedang jatuh cinta dengan wanita itu apa adanya. Jujur Raka tidak begitu tertarik dengan Devi yang gemuk itu, tapi karena janjinya dan ia begitu bertanggung jawab atas kematian Jaka sebenarnya ia harus menerima itu. Kini Raka mulai tahu apa yang dilihat Jaka dari Devi.
~*~
__ADS_1
"Assalamualaikum." Salam Devi, namun langkahnya terhenti saat melihat keluarga tengah kumpul duduk di karpet daun pandan, bukan hanya ada keluarganya saja, tapi ia juga melihat keluarga pria yang pernah menolak lamaran Bapak. Devi terdiam, walaupun tatapan semua orang yang ada di sana menatapnya.