Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Perjodohan


__ADS_3

"Assalamualaikum." Salam Devi, namun langkahnya terhenti saat melihat keluarga tengah kumpul duduk di karpet daun pandan, bukan hanya ada keluarganya saja, tapi ia juga melihat keluarga pria yang pernah menolak lamaran Bapak. Devi terdiam, walaupun tatapan semua orang yang ada di sana menatapnya.


"Devi." Panggil Mami memegang pundak Devi, wanita itu sedikit terkejut.


"Wah ... Ini neng Devi? Ayu tenan." Puji ibu dari si Pria.


Devi hanya bisa tersenyum tipis. "Saya permisi dulu." Devi mencoba melangkah menuju kamar, namun niatnya dicegah Mami untuk tidak meninggalkan tamu mereka. Devi melihat Bapak berharap beliau membela dirinya.


"Biarkan saja Mam, mungkin Devi lelah, dia harus beristirahat." Bela Bapak.


Dengan pelan Devi melepas genggaman tangan Mami, menatap tajam Mami, agar Mami tahu kalau Devi tidak menyukai perjodohan ini.


Hening sejenak, itu yang dirasakan semua orang di sana.


"Kalau begitu kami pamit saja, sepertinya waktunya kurang mendukung." ucap kepala keluarga si Pria.


Devi mencoba memberanikan diri, membuka pintu kamar melihat mereka semua. "Bukan waktunya yang tidak mendukung, tapi kalianlah yang salah." ucap Devi.


"Devi!-" Panggil Mami terpotong karena sudah didahului Devi.


"Kenapa kalian datang lagi? Bukankah kalian sudah menolak Devi Aldiva si gendut jelek itu? Kenapa kalian datang saat Devi Aldiva sudah berubah menjadi wanita cantik dan langsing, tanpa malu kalian memberikan senyuman busuk itu padaku!!" teriak Devi mengeluarkan semua kemarahannya.


"Devi!!" teriak Mami.


"Diam!!" balas Devi tidak terima. "Aku tidak mau menerima lamaran dengan pria yang sudah menjelekkan diriku di masa lalu! Apa Mami tega memberikan putrinya sendiri pada keluarga yang hanya egois pada dirinya sendiri!? Ya! Sekarang aku cantik! Tapi Mami tidak tau saat Devi bersama dengan pria itu, mungkin anakmu ini akan dibuang di jalanan!" Devi mulai menangis, mempertemukan kedua telapak tangannya tanda memohon. "Aku mohon, jangan lakukan itu lagi." ucapnya.


"Kurang ajar!! Kau tidak tau kalau ibu mu ini berhutang pada kami!" Bentak si Pria.


"Apa? Hutang?" Devi melihat Mami. "Berapa hutangnya Mam? Berapa!!" teriak Devi mulai kesal.


Itu membuat Mami terkejut, mungkin sikap Devi terlihat durhaka pada ibunya, tapi Devi sudah lama menyimpan rasa kesal ini, itu sebabnya ini lah kesempatan ia mengeluarkan semua emosinya, Devi tahu ini tidak baik.


"10 juta, apa kau bisa melunasinya?" tanya si Pria membanggakan diri.


Devi pun berjalan masuk ke dalam kamar dan keluar membawa selembar kertas, beserta buku cek.


"Tanda tanda di sini." Suruh Devi. Saat Pria itu menanda tangani kontrak tersebut, Devi tidak lupa untuk mengambil foto untuk barang bukti.


"Aku akan berikan kau 20 juta. Jangan lagi kalian usik keluargaku dengan iming-iming lamaran!" Memberikan lembar cek tersebut.


Si Pria pun menerima lembar cek tersebut, kembali Devi memfotonya. "Pergilah dan jangan tunjukkan wajahmu lagi di wilayah sini." ucap Devi sedikit bergetar.

__ADS_1


Si Pria dan keluarga pun keluar meninggalkan rumah Devi. Saat Mami ingin memegang pundak Devi, ia mencoba menghindar berjalan menuju kamar. Mami dan Bapak bisa dengar jelas suara kunci dari kamar tersebut.


Mami menunduk menangis memikirkan kesalahannya.


"Bapak sudah bilang Bu, Devi bisa membantu ibu, jangan disimpan sendiri." jelas Bapak.


~*~


"Hah! serius!?" tanya Ajeng saat ia selesai mendengar cerita Devi.


Devi melahap makan siangnya sambil mengangguk.


"Aku harap kau mendapat jodoh yang menerima mu apa adanya." Doa Ajeng untuk Devi.


Devi menghela napas.


"Boleh saya bergabung?" tanya Robin yang tiba-tiba muncul, membuat kedua wanita itu terkejut.


Robin tertawa kecil melihat kekagetan mereka. "Maaf." ucap Robin.


"Duduklah." ucap Devi mempersilakan Robin untuk bergabung. Dengan senang Robin pun menerima tawaran tersebut.


Karena kejadian semalam Ajeng tidak berani menatap langsung Robin, itu membuat Devi kebingungan dan terasa sangat canggung.


"Ajeng, Robin ada di depan mu, kenapa kau melihat ke arah lain?" tanya Devi.


"Oh iya maaf." jawab Ajeng melanjutkan makan siangnya.


"Tidak apa-apa, mungkin ini pertama kalinya Ajeng makan di depan seorang pria. Tuan Raka tidak pernah makan siang di kantin kantor ia lebih memilih makan siang di ruang pribadinya." jelas Robin.


Devi terdiam.


~*~


Devi meletakkan kotak makan siang di meja Raka tepat pria itu sedang sibuk bekerja, ia mengangkat kepala melihat Devi.


"Apa-apaan ini?" tanya Raka.


"Makan siang dulu, jangan dipaksa kerja." jawab Devi.


Raka menyingkirkan kotak makan tersebut, meletakkan benda itu bersamaan dengan tumpukan kertas bekas. "Saya tidak lapar."

__ADS_1


"Baiklah setidaknya nanti pasti anda lapar." Mencoba melangkah pergi.


"Devi." Panggil Raka.


"Ya pak?"


~*~


Devi tidak tau apa yang direncanakan Raka, ia begitu kesal dengan pria itu, bagaimana tidak bekal makan siang yang ia beli untuknya harus diberikan pada pengemis dekat lampu merah tepat di depan matanya dan sekarang ia harus menemaninya keluar dari kantor.


"Bapak sebenarnya mau apa sih?" tanya Devi.


"Kalau di luar kantor, panggil saja dengan nama."


"Kita mau ke mana?" tanya Devi kembali.


Bahkan yang lebih parahnya, mereka tidak mengendarai mobil pribadi kantor, melainkan taksi online. Lalu untuk apa mobil itu dibeli kalau dia tidak memakainya secara pribadi.


"Bertemu dengan seseorang." ucap Raka.


Devi melihat sorotan mata dari pria itu, begitu terlihat serius. Devi pun memilih diam, sampai Raka menyuruhnya.


Butuh sejam lebih untuk sampai di tempat yang mereka tuju, sebuah toko yang menjual berbagai peralatan untuk menikah. Mata Devi terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya. Papan nama toko itu terpampang jelas di depannya.


"Ma-Mau apa kita di sini?" tanya Devi sedikit gugup.


"Aku kan sudah bilang, menemui seseorang. Jadi tolong jangan buat masalah, oke." jelas Raka mulai kesal dengan pertanyaan Devi.


"Maafkan saya." Devi menundukkan kepala tanda bersalah.


Cring!


Suara lonceng toko berbunyi seperti menyambut mereka.


"Selamat datang." Sambut para pegawai toko.


Devi pun memberikan anggukkan kepala saja pada pegawai toko tersebut. Sambil mengikuti ke mana Raka melangkah. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan pintu ruangan. Seperti ruang ganti. Devi bisa melihat pria itu menarik napas dan menghembuskannya kembali, seperti mengeluarkan semua beban yang selama ini ia pendam.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Cahaya terang membuat mata Devi silau, saat Raka membuka pintu ruangan tersebut, dengan penuh rasa penasaran pada ruangan itu, perlahan Devi membuka mata, melihat pemandangan yang sangat indah. Di sana berdiri seorang wanita yang sedang mencoba gaun pengantin putih model kerajaan Eropa, indah sekali dan jujur pengantin wanita itu juga sangat cantik.

__ADS_1


"Raka, kau datang?" tanya si pengantin wanita.


Mereka begitu akrab, itu membuat Devi terkejut dan sedikit cemburu dengan keakraban mereka.


__ADS_2