Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Menikmati promo Diet


__ADS_3

Mami terus membangunkan Devi. Karena selesai shalat subuh, wanita itu tidak kuat menahan kantuk karena semalam Devi bergadang untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, itu artinya hanya 3 jam Devi tidur sampai akhirnya harus bangun untuk shalat subuh.


Dengan menahan rasa kantuk, Devi berusaha melihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul setengah enam.


"Jadi olahraga, tidak?" tanya Mami.


Devi mengangguk pelan. Rasa kantuknya masih menguasai dirinya, berusaha bangun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membasuh wajah agar rasa kantuk hilang saat air menyentuh wajah Devi nanti dan benar saja, itu sangat ampuh untuk memberikan stamina pada matanya.


Selesai menganti piyama dengan baju olahraga, Devi berusaha untuk memakai sepatu sport-nya.


"Mam, Devi pamit olahraga ya!!"


"Tunggu sebentar!"


Devi menoleh melihat Mami membawa tas seperti kemarin. Perasaan Devi sudah tidak enak. Jika dugaannya benar, itu artinya ia harus bertemu dengan Pria dingin itu lagi, Devi memutar bola matanya dengan cepat tanda tidak menyukai hal itu.


"Kenapa tidak Bapak saja." Tunjuk Devi melihat Bapaknya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Bapak ada urusan di pabrik neng." ucap Bapak sambil menggosok rambutnya dengan handuk.


Bibir Devi berkerut. "Baiklah, berikan padaku." Memberikan tangan pada Mami untuk menerima tas jinjing tersebut.


Mami tersenyum senang.


"Assalamualaikum ... Devi!!" teriak seorang wanita di depan pintu.


"Waalaikumsalam ... Tunggu sebentar!" balas Devi.


"Itu Ajeng?" tanya Mami.


"Iya, kami ada janji mau olahraga bersama."


"Kalau begitu hati-hati ya." Mami kembali masuk ke dapur untuk menyiapkan dagangan.


Memang untuk hari Minggu, Mami berdagang jam 7 lewat, sebenarnya bisa saja jam 6, namun ia lebih mementingkan pesanan terlebih dahulu karena mereka yang memesan sudah membayar dengan uang mukanya.


"Mami nggak jualan?" tanya Ajeng saat Devi menemuinya.


"Lagi siap-siap."


Ajeng memunculkan kepalanya untuk melihat ke dalam rumah.


"Tante Ajeng pinjam Devi dulu ya!!" teriak Ajeng.

__ADS_1


"Ya, hati-hati ya!!" balas Mami dari dapur.


Ajeng tersenyum pada Devi. "Yuk." Ajaknya.


Mereka menyusuri kompleks dengan berlari kecil menuju lapangan. Devi tidak melihat ada Jaka hadir untuk mengganggu dirinya dan Ajeng. Bukan hanya hari ini, kemarin pun ia tidak melihat sosok Jaka, entah kenapa Devi begitu peduli dengan pria itu. Padahal sejak awal ia sudah bersumpah tidak akan pernah berubah perasaannya. Tapi kali ini, jujur ia merindukan sosok Pria berisik itu.


"Devi!" Panggil Ajeng memegang pundak Devi.


Wanita itu terkejut saat pundaknya ditepuk.


"Ya?" tanya Devi.


"Astaga! Kau melamun?" tanya Ajeng.


"Maafkan aku."


"Sudah ayo kita ke GYM saja, aku yakin mereka sudah buka." Berjalan mendahului.


"Astaga nggak bisa, gua harus kesih titipan ini dulu." Menunjuk tangan kanannya yang membawa tas jinjing.


"Ke?" tanya Ajeng.


"Kgak tau, tapi di sini alamatnya warung Bu Tuti." balas Devi.


Devi mencoba mencari alamat tersebut, yang ternyata berhenti di sebuah warung yang ternyata tekat dengan sebuah kost putra.


"Wow, aku yakin yang punya warung orang kaya." Bisik Ajeng


"Bagaimana kau tau?" tanya Devi tidak mengerti.


"Lihat saja, rumah, warung dan kost!" jelas Ajeng menunjukkan pemandangan tersebut tepat di depan mereka.


Devi mencoba mendekati warung tersebut.


"Permisi! Assalamualaikum!" Devi memberi salam.


"Ya!! Waalaikumsalam!!" teriak seorang wanita dari dalam. "Eh, Neng Devi ya?" tanya ibu tersebut.


Devi mengangguk pelan. Ibu tersebut mendekati mereka.


"Ini pesanannya." Devi meletakkan benda tersebut di atas etalase warung tepat di depan ibu tersebut.


"Wah terima kasih. Ini uang tip buat kamu." Ibu tersebut memberikan selembar uang 5ribu pada Devi. Devi terdiam, sebenarnya ia tidak membutuhkan uang tip itu karena uang jajannya malah lebih besar.

__ADS_1


"Tidak usah Bu terima kasih." Tolak Devi.


"Biar aku saja." Dengan cepat Ajeng menerima uang 5ribu tersebut.


Ibu itu pun tersenyum. Kedua wanita itu berpamitan, melangkah meninggalkan warung tersebut.


"Kamu buat aku malu saja. Kalau ibu itu gosip tentang kita bagaimana?" tanya Devi.


"Apapun tindakan kita tetap salah di mata ibu-ibu yang tukang gosip." Balas Ajeng. "Benarkan?" Tanyanya membenarkan pendapatnya. Dengan polosnya Devi hanya bisa mengangguk pelan.


Dengan langkah tanpa semangat, Devi mencoba mengikuti langkah Ajeng menunjuk GYM yang katanya bisa menurunkan berat badan lebih cepat dan praktis. Devi sebenarnya tidak ingin begitu percaya, tapi demi mengubah penampilannya, ia pun menyetujui ajakan Ajeng.


Ajeng membukakan pintu untuk Devi. Wanita gemuk itu melihat keadaan dalam GYM yang seluruh Pria dan wanita hanya beberapa saja. Di tambah dengan mereka itu artinya 5 wanita.


Seorang pria berbadan kekar menghampiri kami. "Selamat datang." Sambutnya.


"Apa promo ini masih ada?" tanya Ajeng begitu semangat kalau sudah mengenai promo apa pun itu.


Pemandu GYM pun mencoba melihat lembaran brosur tersebut dan kemudian memberikan senyuman.


"Ya, tentu, kami ada pelatihan selama sebulan lamanya, ada kalian berminat?" tanyanya.


"Ya tentu, aku ingin kalian menurunkan berat badan temanku ini." Ajeng memeluk lengan Devi yang berisi lemak.


Tentu saja itu membuat Devi sangat malu sekali, bukan main. Bagaimana tidak, mereka sedang membicarakan tentang berat badannya, itu sangat sensitif sekali dengan dirinya.


"Kalau begitu tolong isi formulir pendaftaran ini dulu ya." Pemandu GYM memberikan beberapa kertas untuk kedua wanita baru tersebut.


Ajeng dan Devi menerima lembaran tersebut dari tangan pemandu GYM.


"Kalian isi dulu data diri kalian, sementara saya tinggalkan ada urusan lain, oke."


Mereka melihat kepergian Pria berotot tersebut. Tanpa sadar Ajeng ternyata memiliki sifat meledek seseorang dari belakang, itu terbukti saat si pemandu GYM itu melangkah pergi yang pasti membelakangi mereka, dengan spontan Ajeng mencoba menggoda dengan tangannya, seakan-akan ia memegang bokong si pemandu tersebut. Tentu saja itu membuat Devi tertawa kecil, ia berusaha memukul pelan Ajeng untuk menghentikan perilakunya, walaupun sebenarnya ia menikmati lelucon itu.


"Seksi beb." Bisik Ajeng yang sepertinya meledek bokong pemandu tersebut.


Devi hanya menahan tawanya, karena tingkah laku Ajeng bukan menertawakan bokong si pemandu, karena Devi tau dirinya juga tidak sempurna.


"Kalau aku menikah dengan pemandu itu mungkin setiap hari di gendong olehnya." jelas Ajeng.


"Ya, dan kau akan hidup sehat sepanjang hari." Komentar Devi.


Mereka masih mengisi lembaran tersebut, namun masih dalam keadaan becanda agar tidak begitu hening di sekitar mereka. Walaupun mereka tau GYM ini begitu ramai dengan suara alat berat yang dibanting, bagi mereka itu hanya untuk sekitar ruangan tidak untuk mereka sendiri. Lagipula Ajeng begitu bosan jika tidak ada pembahasan, itu sebabnya ia terus berbicara apapun temanya.

__ADS_1


__ADS_2