
Langkah Devi begitu berat, dilihatnya sepatu yang ia pakai ternyata sudah melewati batas. Pantas saja sedari pagi ia merasakan sakit dan perih pada jari-jari kakinya.
"Uh..." Rintih Devi.
Ia pun mencoba berhenti sejenak, dengan tangan bersandar pada tiang di depannya. Dengan usaha penuh Devi berusaha keras untuk melepas sepatu tersebut.
"Ayolah!" Paksa Devi.
Devi pun mencari cara lain, yaitu dengan gerakan mentendang - tendangkan kaki bertujuan sepatu heels tersebut terlepas dari kaki gempal-nya.
"Sedikit lagi. Ini tendangan terakhir!" Dengan kuatnya Devi mengayunkan kakinya ke depan. "Yes!" Soraknya senang saat sepatu itu melayang jauh.
Namun matanya yang belo semakin belo saat tau sepatu heels tersebut melayang dan mendarat di tempat yang salah.
Dengan sangat menyesal Devi harus merelakan sepatu itu menjadi korban amuk masa bapak-bapak yang sedang kumpul. Bukan bapak-bapak, ternyata mereka adalah preman pasar yang sedang bermain kartu di bawah halte Busway.
"Hai!!" teriak pria korban dari sepatu heels milik Devi. Menunjuk Devi penuh amarah.
"Gawat!" Devi pun memilih berlari menyelamatkan diri.
Devi terpaksa harus berlari dengan satu sepatu heels yang masih ia pakai, karena tidak nyaman barulah ia melepas sepatu heels tersebut dan membuang di sembarang tempat.
Buk!
Tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Remaja laki-laki itu mencoba berdiri dibantu Devi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Devi. "Udah ya!" Devi melanjutkan melarikan dirinya.
Remaja laki-laki itu masih memperhatikan Devi dan beberapa preman yang mengejar. Tidak ada satupun warga yang membantu, karena mereka sudah tau siapa para preman itu. Sepertinya Devi salah masuk wilayah. Itu juga baru ia sadari.
~*~
"Jadi semua berapa?" tanya seorang pria paruh baya saat seorang pemuda meletakkan sekarung beras di mobil miliknya.
"250 pak." ucap pemuda tersebut.
Pria paruh baya tersebut memberikan bayaran dan upah untuk pemuda tersebut. Pemuda itu tersenyum, membungkukkan badannya.
"Abang!!" teriak remaja laki-laki berlari mendekati pemuda itu dengan napas tersengal-sengal.
"Eh Joko, ada apa?" tanyanya.
"Bang Jaka! Teman Abang yang cewek gemuk tuh lagi dikejar-kejar preman pasar." Jelas Joko.
__ADS_1
"Kejar-kejar? Emang dia ngapain sampe dikejar-kejar?" tanya Jaka.
"Mana Joko tau, coba aja bang Jaka samperin!" Suruh Joko.
"Ya udah kasih tau jalannya."
Joko pun berjalan mendahului Jaka.
~*~
Devi terpojok, tidak ada jalan lagi untuk dirinya. Dilihatnya para preman itu sudah mengepung dirinya. Devi bisa mengingat wajah ketiga preman itu jika mereka berbuat macam-macam, ia sudah berencana akan melaporkan mereka ke kantor polisi. Benar saja dugaannya. Salah satu dari mereka sudah memeluk dirinya dari belakang.
"Aaakkh!!" Devi berteriak histeris, mencoba menolak paksaan mereka.
Namun sepertinya percuma saja. Badannya yang gemuk tidak menjamin untuk tenaga yang Devi miliki.
"Lepaskan dia!!" teriak seorang pria di belakang mereka.
Seluruh preman itu menoleh, siapa yang berani mengganggu kesenangan mereka.
"Jaka!!" Teriak Devi.
Karena tidak suka dengan kedatangan Jaka, mereka pun mencoba menghajar Jaka, namun tidak ada satupun tinju mengenai dirinya.
Jaka mencoba mendorong salah satu dari mereka, tentu saja itu membuat semua terjatuh karena posisi mereka yang terlalu berdekatan, itu memudahkan Jaka menjalankan aksinya. Devi melongo, sedari tadi pria bernama Jaka itu seperti tidak niat berkelahi, ia hanya mendorong dan mendorong saja. Hingga membuat ketiga preman itu lelah.
"Selesai, ayo kita pulang." Ajak Jaka menggandeng tangan Devi.
Devi melihat para preman itu, tidak ada luka lebam pada mereka, melainkan hanya kelelahan.
Apa seperti itu cara Jaka berkelahi?
Devi melihat pria yang menggandeng dirinya. Ia mulai teringat dengan tangan, dengan cepat Devi menarik tangannya.
"Bagaimana bisa kau sampai ke kampung sebelah?" tanya Jaka. Pria itu melihat kaki gempal Devi yang tidak memakai alas kaki.
"Di mana sepatu mu?" tanya Jaka.
"Itu awal masalahnya." ucap Devi malu jika mengingat kejadian itu lagi.
Jaka hanya bisa cekikikan menahan tawanya.
"Kau sudah makan?" tanya Jaka berusaha mengalihkan perhatian agar Devi tidak terlalu malu.
__ADS_1
"Tidak, aku sedang diet." Tolak Devi berjalan menjauhi Jaka.
Jaka tersenyum kecil, ia pun memilih jalan yang lain. Saat Devi menoleh pria itu sudah tidak ada di belakang, Devi tidak mau ambil pusing, ia melanjutkan langkahnya dengan bertelanjang kaki.
Seluruh warga di sana memperhatikan dirinya, Devi tau apa maksud tatapan itu. Devi pikir Jaka sudah meninggalkan dirinya, ternyata ia kembali lagi membawa sandal yang baru saja ia beli.
"Pakailah, agar kaki mu tidak lecet." ucap Jaka.
"Tidak apa-apa, aku bisa beli sendiri, nanti."
"Pakai." Pintah Jaka
Devi pun menurut untuk memakai sandal tersebut, begitu nyaman pada kaki. Tidak longgar dan tidak juga sempit.
"Di mana kau lempar sepatu mu?" tanya Jaka.
"Pasti sudah hilang." Langkah Devi terhenti saat ia melihat penjual cumi bakar dan itu membuat hidung jambu miliknya kembang kempis karena aroma dari cumi tersebut.
Sesekali Devi melihat Jaka yang sudah mendahului, sepertinya pria itu tidak menyadari kalau Devi berhenti mengikuti dirinya. Melainkan memilih menghampiri penjual cumi bakar tersebut.
"Berapa mas?" tanya Devi menunjuk cumi yang dipajang di dekat pembakaran.
"Utuh 30ribu, kalau sate cumi 15ribu." jelas si penjual.
Devi mencoba memilih mana yang akan ia beli. "Kalau begitu saya mau yang 30ribu 2 ya mas." Menunjuk cumi utuh pilihannya.
Penjual tersebut membungkus cumi yang dipilih Devi. "Terima kasih." Memberikan bungkusan tersebut.
Devi menerima bungkusan tersebut dengan senyuman mengembang pada bibir. Namun senyuman itu berangsur menghilang saat ia melihat sosok Jaka berdiri dengan bertolak pinggang, melihat padanya dengan tatapan mata yang tajam.
Devi cengar-cengir pada Jaka. Mencoba menyembunyikan bungkusan yang ia pegang sedari tadi.
"Katanya diet?" tanya Jaka dengan nada menggoda.
"Aku memang diet kok, ini untuk Mami!" Tepis Devi merasa kesal dengan pertanyaan Jaka.
Mereka pun berjalan bersama menuju rumah. Devi ingat kalau Jaka itu begitu sangat rahasia soal identitas diri. Rasa ingin bertanya namun tidak ada keberanian. Dilihatnya pria bermata coklat itu dengan kumis tipis dan kulit sawo matang yang begitu membuatnya eksotis seperti model pria di dalam majalah. Bahkan tanpa permisi Devi berani membayangkan postur tubuh Jaka jika tanpa busana. Seketika pipi Devi kembali memerah.
"Devi? Kau tidak apa-apa?" tanya Jaka yang panik saat melihat Devi tiba-tiba berjongkok.
Dengan cepat Devi menyembunyikan wajah dari dunia, ia sangat malu sekali. Berjongkok untuk beberapa menit, mungkin sampai rona pada pipinya menghilang. Devi masih bisa melihat sepasang kaki Jaka yang menunggu, ia bisa melihat ada beberapa urat kaki Jaka yang gagah terbentuk sempurna. Pria itu memang membuat Devi bergairah untuk cepat-cepat mendapatkan seorang kekasih.
Devi mengangkat kepalanya dari persembunyian. Lagi-lagi Devi terkejut, karena Jaka sudah dengan posisi jongkok memperhatikan dirinya. Mata mereka saling bertemu.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Jaka.
Tanpa jeda Devi menelan ludahnya.