
Devi mencoba melihat dirinya di depan cermin, terdiam dalam waktu yang cukup lama. Dilihatnya satu persatu alat makeup nya yang selama ini membantunya membuat wajah palsu. Entah kenapa Devi begitu berat untuk memoleskan wajahnya, ia pun memilih untuk tidak berdandan.
Diikatkannya rambut dengan gaya kuncir kuda dan tidak lupa dengan kacamata tebal yang Devi simpan cukup lama, karena saat ia mengubah dirinya menjadi Glow Up ia memakai kacamata dengan harga 200ribu, bagi Devi itu sudah cukup mahal, namun membuat semua orang kagum berpikir itu adalah kacamata mahal. Padahal yang jauh lebih mahal adalah kacamata minusnya yang dulu.
"Selamat pagi." Sapa Devi duduk di kursi untuk sarapan.
Orang tua Devi dan Bagas memandangi Devi dengan serius.
"Devi apa ini?" tanya Mami.
"Kenapa? Jelek ya? Aku ingin lari pagi, jadi tidak masalahkan kalau tidak dandan. iyakan?" tanya Devi menyenggol lengan Bagas.
"Tapi aku lebih suka kau mengubah penampilan menjadi baru." Celetuk Bagas tanpa berpikir panjang.
Devi tersenyum masam. "Begitu rupanya. Hah! Sudahlah! Aku harus olahraga." Devi bangun dari tempat duduknya.
"Bagaimana kalau nak Bagas ikut olahraga juga? Biar tambah akrab, benarkan Pak?" tanya Mami meminta pendapat
"Ya, benar."
Devi melihat Bagas menunggu reaksi pria itu.
"Maaf Pak, saya sedang sibuk Minggu ini, masih banyak berkas kantor yang harus saya selesaikan." jelas Bagas menghindar.
Bapak dan Mami melihat Devi
Wanita itu hanya mengangkat setengah kedua tangannya, tanda tidak tau apa-apa dan tidak melakukan apapun pada Bagas.
"Oke kalau begitu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." balas orang tua Devi bersamaan. Mereka melihat Bagas.
"Apa kau tidak suka jika Devi tidak berdandan?" tanya Bapak.
Bagas menggeleng. "Bukan itu Pak."
"Lalu apa?" tanya Mami yang sama gemasnya dengan sikap Bagas yang tiba-tiba berubah.
"Nanti kalian juga akan tau jika sudah waktunya." ucap Bagas, beranjak dari meja makan.
Mami dan Bapak saling melihat tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ucapan Bagas.
...~*~...
__ADS_1
"Jaka." Panggil Devi membelai lembut batu nisan bertuliskan nama Jaka, mencoba menaburkan bunga pada gundukkan makam tersebut.
"Kenapa rasanya aku penasaran denganmu, aku hanya tau kalau Raka itu adalah kau. Tapi nyatanya bukan, betapa bodohnya aku saat itu tidak tau kalau itu kau." Devi melepas kacamatanya untuk mengusap air matanya.
"Kak Devi?" Panggil seseorang.
Devi menoleh melihat Joko, adik Jaka sudah berdiri di belakangnya.
"Joko, hai." Sapa Devi begitu canggung. "Kau sendirian ke sini?" tanya Devi mencari sosok yang menemaninya, saat Devi tau siapa orang itu, ia kembali menunduk melihat batu nisan Jaka.
"Sekarang Joko tinggal dengan kak Raka." ucap Joko terdengar senang.
Devi menoleh memberikan senyuman pada remaja laki-laki itu.
Namun kesedihan Devi atas kesalahannya tetap tidak bisa ia lupakan, kalau saja saat itu ia sudah kenal Jaka lebih awal.
Devi tidak akan ijinkan Jaka terlibat tawuran antar sekolah mungkin mereka sampai sekarang akan menjadi pasangan yang romantis.
...~*~...
Devi melihat remaja laki-laki di depannya, Joko begitu makan dengan lahap. Jika Joko bersama Raka, itu artinya remaja ini tinggal bersama Raka di rumahnya.
"Kak Devi tidak mau makan sisa ayamnya?" tanya Joko.
"Joko, jangan. Kalau kau mau beli saja." ucap Raka.
"Tidak apa-apa, Joko sudah terbiasa bekas orang." Mencoba mengambil potongan ayam milik Devi, dengan cepat Raka menepis tangan Joko.
"Sudah ku bilang tidak boleh!" bantah Raka.
Remaja laki-laki itu terkejut, ia duduk terdiam dengan raut wajah sedih.
"Ka Raka ada benarnya, lain kali jangan makan bekas orang lain-"
"Kenapa?" tanya Joko memotong ucapan Devi.
"Karena, kita tidak tau penyakit apa yang diderita orang itu." jelas Devi.
"Kalau begitu aku mau ayam gorengannya saja dua." Pintah Joko.
Raka pun tersenyum, mencoba membelai rambut remaja laki-laki tersebut. Devi tentu saja ikut senang.
...~*~...
__ADS_1
"Apa tidak ada pihak keluarga dari Jaka?" tanya Devi, mencari jawaban.
Raka menghela napas panjang dan menghembuskannya kembali, rasanya seperti semua beban keluar begitu saja dari napas yang Raka keluarkan.
" Setahun setelah kematian Jaka, ibunya menyusul dan ayahnya sudah meninggal saat Joko masih di dalam kandungan. Itu juga aku tau dari beliau." jelas Raka.
Devi menunduk merasa bersalah sudah bertanya hal sensitif seperti itu. "Maafkan aku." ucap Devi.
Raka tersenyum. "It is ok. Santai saja. Aku juga turut senang dengan pertunangan mu, dia pria yang luar biasa." ucap Raka.
Devi melihat Raka. "Pertunangan siapa?" tanya Devi.
"Pria semalam, itu tunangan mu, kan?" tanya Raka untuk memastikan jika ia tidak salah bicara. Tapi tetap saja ucapan Raka tidak diterima oleh Devi.
"Bukan, aku tidak akan menikah dengan orang yang hanya tau diriku yang ini, mereka juga harus tau aku yang dulu." jelas Devi.
"Tapi sayangnya sosok nona gemes sudah hilang dari dirimu." ucap Raka.
"Kau tau Devi, hari ini aku melihat sosok mu yang lain. Apa hari ini kau tidak dandan?" tanya Raka mencoba memegang pipi Devi dengan ujung jari untuk mastikan jika ucapannya benar. Dengan cepat Devi menepis tangan Raka yang iseng tersebut.
"Jangan sentuh aku! Aku tidak suka!" Amuk Devi.
Raka tertawa kecil mencoba menahan tawanya, namun tidak mampu.
Mereka tidak tahu, dari kejauhan seseorang memantau. Entah siapa itu, yang jelas sepertinya mengincar salah satu dari mereka.
...~*~...
"Kau belum juga pulang!?" ucap Devi, melihat Bagas yang masih di rumahnya duduk bersama Mami di ruang TV.
"Devi, jangan seperti itu. Nak Bagas jangan diambil hati ya." Mami mencoba menyemangati Bagas. Pria itu pun memberi respon dengan menundukkan kepala. Itu membuat Devi kesal.
"Devi coba kau lihat foto kita waktu kecil." Bagas menunjukkan sebuah foto gadis kecil bertubuh gemuk bersama anak laki-laki memakai pakaian seperti seorang pengantin.
"Dan apa kau ingat, waktu kecil kau meminta di nikahkan." ucap Mami.
Bagas tertawa kecil. "Ya, aku ingat."
"Menjijikkan! Semua anak kecil pasti akan mengatakan hal itu, aku yakin banyak yang mengatakan itu pada Bagas saat kami kecil!"
"Devi!!" teriak Bapak yang sudah berdiri di pintu luar bersama kakak tirinya, yaitu ibunda Bagas sendiri, Bu Windi namanya.
"Yo, jangan kasar begitu sama Devi." Windi mengingatkan Bapak untuk tetap tenang.
__ADS_1
"Devi harus memberitahu berapa kali! Devi tidak mau di jodohkan! Devi punya pilihan sendiri Pak! Mam!" Devi melihat orang tuanya bergantian. "Dan bukannya bapak sudah berjanji dengan Jaka akan mendukungnya!? Kenapa sekarang berubah? Pokonya Devi tidak mau menikah dengan pilihan kalian, Devi tetap akan memilih, karena Devi sudah bukan Devi yang dulu, Devi berhak mengubah takdir Devi sendiri!"