
Sudah cukup Devi cuti. Sudah 2 Minggu ia tidak tidak bekerja, ya walaupun ia masih bisa kerja di rumah, tapi itu sangat tidak nyaman. Apalagi Devi tipe orang yang tidak suka makan gaji buta.
Selesai shalat subuh, Devi mencoba bersiap untuk lari pagi. Ia semakin merasakan perubahan pada dirinya, luar biasa sebulan lebih Devi menjalani diet dan olahraga untuk bisa menurunkan berat badan.
"Wah, Neng Devi mau olahraga?" tanya ibu-ibu yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Iya Bu." jawab Devi dengan senang hati dan melanjutkan lari paginya.
Karena hari ini hari Senin tentu saja tidak begitu banyak yang berolahraga ke lapangan kompleks, Devi bisa dengan nyaman berolahraga tanpa harus menerima tatapan jahat dari mata mereka.
Tapi Devi tidak bisa mengelak karena saat ini lapangan sedang dipakai untuk futsal. Tapi sepertinya para pria itu tidak akan merusak batin Devi dengan mulut mereka, karena mereka tau perjuangan Devi.
"Awas!!" teriak seorang pria.
Buk!
Hantaman keras tepat mengenai kepala Devi membuat kacamata yang ia pakai terlepas dari tempat persinggahan, terjatuh membentur aspal jalanan. Sakit? Tentu saja itu sangat sakit, pingsan? Sepertinya Devi tidak bisa melakukan hal itu, ia sempat terjatuh dan memilih duduk. Berusaha untuk tidak menangis.
"Mbak tidak apa-apa?" tanya salah satu dari mereka.
"Matamu tidak apa-apa!" ucap Devi kesal namun pelan. Devi begitu terkejut, saat sesuatu menutupi dirinya.
Ia mencoba melihat dengan jelas itu adalah sebuah jaket seseorang, jaket seorang pria. Devi kenal jaket siapa itu.
"Jaka." batinnya, menyebut salah satu nama.
"Siapa yang tendang bolanya?" tanya Jaka melihat seluruh pemain futsal tersebut dengan tatapan beringas.
Mereka pun mendorong salah satu seorang remaja yang sepertinya sangat ketakutan saat berhadapan dengan Jaka.
"Kau yang melakukannya?" tanya Jaka dingin.
Remaja itu seperti mencari jawaban diantara para seniornya. Jaka tidak mau ambil pusing, ia begitu benci menunggu, apalagi menunggu jawaban dari seseorang. Ia pun merebut bola dari tangan salah satu pria.
"Berdirilah di sana." tunjuk Jaka pada lapangan.
"Anda mau apa?" tanya remaja mulai takut.
"Melakukan yang kau lakukan pada temanku." balas Jaka.
Devi melebarkan mata terkejut saat mendengar itu dari balik jaket yang menutupi kepalanya.
"Tidak Jaka! Jangan!!" teriak Devi menyingkirkan jaket yang ada di kepala.
Seluruh mata pria itu melihat Devi dengan tatapan serius, itu membuat Devi takut. Sampai akhirnya ia menangkap sosok Jaka yang sama sedang memandangi dirinya. Tangan Jaka sudah memegang erat lengan atas pria tersebut.
__ADS_1
"Jaka lepaskan, jangan lakukan hal yang sama." ucap Devi.
"Kenapa? Bukankah dia sudah melukaimu?" tanya Jaka. "Aku yakin itu pasti sakit." tambahnya.
Devi terdiam, kepalanya memang sangat sakit, tapi ia bisa menahan untuk tidak menunjukkan di depan Jaka.
"Tidak apa-apa, aku sudah baikan kok." ucap Devi berbohong.
"Baiklah, aku antar kau pulang." Jaka mencoba mendekati Devi. Namun saat ia mencoba menjauhi tempat tersebut, ia bisa mendengar salah satu pria membicarakan kejelekan Devi, itu membuat Jaka kesal.
"Oh ya! Bola kalian!" Jaka mencoba melempar bola tersebut ke salah satu tiang gawang, membuat bola itu terpelanting keberbagai arah, seluruh pemain futsal mulai panik mencoba menghindar.
Tentu saja satu persatu bola keras tersebut mengenai mereka yang berlarian panik, saat semua habis tidak ada tumpuan untuk dirinya melambung lagi, bola tersebut menggelinding menuju kaki Jaka.
"Lain kali jaga mulut kalian! Kalian tidak tau sedang berurusan siapa!" ucap Jaka berwibawa namun dingin dan tegas.
DEG!
Dengan cepat Devi memegangi dadanya yang terdapat detak-kan tersebut. Itu membuat Devi sesak. Wanita itu bisa melihat Pria bernama Jaka itu memungut kacamata tebal miliknya.
"Kacanya retak, sepertinya kau harus beli yang baru." ucap Jaka pelan.
"Tidak apa-apa. Terima kasih." Devi merebut kacamatanya lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut.
"Kalian pria, bisa kalah dengan seorang wanita!" Ledeknya sebelum meninggalkan mereka.
~*~
"Devi." Panggil Ajeng.
Sontak wanita itu terkejut saat namanya dipanggil. Itu membuat Ajeng binggung dan merasa bersalah. Binggung, sepertinya ia tidak memanggil Devi dengan nada yang tinggi, tapi kenapa wanita itu terkejut.
"Apa kau sedang melamun?" tanya Ajeng kebingungan.
"Maaf, ada perlu apa?" tanya Devi.
"Bu Rita memanggil mu, sepertinya ia bertanya soal ramuan dan promo GYM itu." Bisik Ajeng.
Devi mencoba bangkit dari duduk, mendekati ruangan yang pintunya masih tertutup rapat, dengan hati-hati Devi mencoba mengetuk pintu tersebut. Seorang pria bertubuh besar membukakan pintu tersebut.
"Masuklah Devi." Mendekati kursi kerjanya.
"Ibu memanggil saya?" tanya Devi.
"Ya, tentu, boleh saya meminta bantuan pada mu?" tanya Bu Rita berharap.
__ADS_1
"Jika saya bisa, saya akan membantu anda dengan senang hati, Bu." jawab Devi sesuai kemampuan.
"Baiklah, apa kau kenal pria ini?" tanya Bu Rita memberikan selembar foto pada Devi.
Tanpa ragu Devi pun menerima foto tersebut, mencoba melihat foto siapa yang Bu Rita bicarakan, saat mengetahui siapa di foto tersebut, itu membuat Devi terkejut.
"Jaka? Anda kenal dengan Jaka Bu Rita?" tanya Devi.
"Ya, saya harap dia tidak menggangu proses diet mu."
Devi menggeleng. "Tidak Bu, Jaka pria yang baik, dia tidak akan berbuat seperti itu, lagipula dia tau kalau ini kemauan saya sendiri tidak ada paksaan sama sekali." jelas Devi.
"Ya, baguslah. Saya harap dia juga tidak membuat masalah selama di dekatmu."
"Kalau boleh tau. Ada hubungan apa anda dengan Jaka?" tanya Devi penasaran.
"Pria bernama Jaka itu sudah merampas hidup putraku."
Devi bisa melihat mata wanita dewasa itu bersinar dalam sekejap, seperti menaruh harapan yang begitu besar pada pria bernama Jaka itu.
~*~
"Bagaimana?" tanya Ajeng mendekati meja Devi yang sepertinya ingin segera tahu tentang apa saja Devi bahas dengan Bu Rita di ruangan yang begitu pribadi.
"Sesuai dugaan mu, dia menanyakan minuman itu lalu brosur promosi GYM juga." jelas Devi.
"Astaga, benarkan dugaan gua."
"Udah sana kerja!" Devi mencoba mendorong pelan tubuh Ajeng untuk kembali ke tempat meja kerjanya.
Ajeng pun menurut. Senyuman Devi terlukis, ia pun memutar kembali kursinya kembali untuk mengerjakan semua pekerjaannya
"Lihat tuh, si gendut itu sepertinya di modalkan sama Bu manager." Bisik rekan kerja pada temannya.
"Enak amat." balas temannya.
Devi terdiam mencoba menahan amarah untuk tidak membalas perbuatan mereka dengan mengepal kuat telapak tangan membuat sebuah tinju. Dengan cepat Devi mencoba menghela napas agar pikirannya menjadi baik dan sepertinya Devi bisa menguasai ketenangan, tapi tetap saja mulut mereka tidak pernah lelah untuk mencari kejelekan orang lain.
"Permisi." Ajeng memasang airport pada telinga Devi. Wanita bernama Devi itu menoleh melihat Ajeng.
"Lagunya bagus, kan? Aku baru download barusan, kau harus tau." ucap Ajeng mencoba menghibur Devi.
Devi tersenyum. "Terima kasih." ucapnya pelan.
"Sama-sama." Bisik Ajeng.
__ADS_1