Harta, Tahta, Glow Up

Harta, Tahta, Glow Up
Tidak Mau Kalah


__ADS_3

"Jadi kau Manajer baru itu?" tanya si pengantin wanita.


"Ya Nona." jawab Devi menunduk.


"Siapa namamu?" tanya si pengantin wanita kembali.


"Devi Aldiva nona." jawab Devi.


"Adellia Mega." Pengantin wanita itu memberikan tangan kanannya, dengan senang hati Devi pun menerima jabatan tangan tersebut. "Dan aku kekasih mereka." ucapnya, membuat Devi menatap binggung Adellia.


"Maksud anda?" tanya Devi.


"Raka dan Riki, kau sudah bertemu dengan mereka bukan?" tanya Adellia.


Devi mengangguk pelan.


"Ya! Mereka semua, aku harap kau tidak mendekati salah satu dari mereka, oke?" Menepuk pipi kanan Devi tanda memperingati.


Wanita itu beranjak mendekati Raka yang sibuk dengan pegawai toko, memeluknya dari belakang, namun sepertinya Raka risih dengan perlakuan Adellia padanya, dengan segera Raka mencoba melepas pelukan tersebut.


Entah apa yang dipikiran Raka, ia melihat Devi yang sedang melihat dirinya, mata mereka saling bertemu dengan cepat Devi memalingkan pandangannya tersebut.


"Kenapa kau baru datang menemui ku?" tanya Adellia manja mencoba memeluk lengan Raka yang sedikit berisi.


Raka sangat tidak nyaman, ia mencoba melepas pelukan pada lengan wanita itu.


"Jangan lakukan itu, sekarang aku kakak ipar mu jadi jaga sopan santun mu." jelas Raka memperingati.


"Oh ya? Tapi saham keluarga kami lebih tinggi, aku akan minta ibu mu menikahkan kalian berdua denganku." Adellia tersenyum manis pada Raka.


Jujur itu membuat Raka muak. "Jangan harap aku akan jatuh ke dalam genggaman mu!" Raka melangkah menjauh dari Adellia, bertepatan dengan Riki yang sudah sampai di sana.


Melihat kedatangan Raka mendekat, dengan cepat Devi berdiri menyambut pria itu.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Riki yang berpapasan dengan mereka.


"Memperingati wanita mu agar tidak terlalu genit dengan pria lain." ucap Raka tanpa berpikir, namun memang kenyataan.


Mendengar itu membuat Riki geram, dengan keras sebuah tinju mendarat pada wajah Raka. Devi yang ada di sana begitu terkejut. Mencoba melindungi Raka dari pukulan Riki lagi.


"Hentikan!!" teriak Adellia yang melihat itu semua.


Devi mencoba membantu Raka untuk bangun, melihat itu Adellia mencoba mendorong Devi dengan kasar.

__ADS_1


"Aku sudah bilang padamu jangan sentuh Raka!" ucap Adellia kesal.


"Adell apa yang kau lakukan!?" tanya Raka mencoba membantu Devi.


"Terima kasih."


"Lebih baik kita pergi dari sini." Menarik tangan Devi untuk segera keluar dari tempat itu.


"Raka! Raka!!" teriak Adellia tidak terima dengan perlakuan Raka padanya dengan cepat Riki menahan Adellia untuk tidak mengikuti Raka.


"Apa yang kau lakukan!" Cegah Riki.


Dengan kasar Adellia menyingkirkan tangan Riki dari lengannya. "Ingat baik-baik Riki, kita tidak benar-benar menikah!" jelas Adellia menoyor dada Riki yang bidang.


Mendengar itu membuat hati Riki sakit, sudah lama ia menyukai Adellia Mega, bahkan saat wanita itu berpacaran dengan kakaknya, Raka.


Adellia melihat Raka dengan Devi yang berdiri menunggu taksi, wanita bernama Adellia sangat tidak suka dengan kedekatan Devi dengan mantan kekasihnya.


"Wanita tidak tau diri!" Gertaknya dalam hati.


...~*~...


Adellia Mega adalah putri satu-satunya dari keluarga Mega yang memiliki berbagai saham di seluruh dunia, bukan hanya milik orang tuanya, ia juga memiliki saham pribadi itu sebabnya ia begitu membanggakan diri di setiap pertemuan. Orang lain selalu menyebutnya sebagai ratu drama, karena caranya merebut apa yang ia inginkan selalu membuat keributan yang membuat orang lain menderita, sampai apa yang ia inginkan tercapai.


"Raka." Panggil Adellia memberikan senyuman pada mereka.


"Mau apa lagi?" tanya Raka mulai risih.


Adellia memberikan sebuah amplop yang sepertinya itu sebuah undangan.


"Aku tidak tertarik!" tolak Raka.


"Ini untuk Devi," Bantah Adellia.


Dengan ragu-ragu Devi menerima undangan tersebut.


"Aku mengundang mu, jangan lupa datang ya." ucap Adellia seraya melempar senyuman.


"Ya." jawab Devi singkat namun ragu.


Sebuah mobil menepi, menunggu seseorang, tentu saja siapa lagi kalau Adellia.


"Dia sangat cantik." Puji Devi pelan.

__ADS_1


Raka yang mendengar itu melirik Devi, lalu terkekeh geli. Itu membuat Devi tidak nyaman.


"Apa yang salah?" tanya Devi kesal.


"Kau lebih cantik dibandingkan diam." ucap Raka pelan, mencoba naik ke dalam taksi yang ia pesan.


Lagi-lagi Devi merasakan degupan aneh itu lagi, rasa yang membuatnya tidak tenang.


"Hai! Apa kau tidak mau pulang!?" tanya Raka dari dalam mobil.


"Hah! Tunggu aku!" Devi berlari menyusul.


Mereka tidak tahu jika sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari dalam mobil, itu terpantul jelas dari spion mobil si pengintai tersebut. Saat targetnya sudah mulai meninggalkan tempat, barulah ia meninggal tempat tersebut.


~*~


"Apa kau kenal dengan Adellia Mega?" tanya Devi pada Ajeng saat menunggu bus Transjakarta.


"Adellia Mega? sepertinya gua pernah denger dah, tapi gua lupa di mana dan kapan," ucap Ajeng. "Emang kenapa?" tanya Ajeng mulai penasaran.


"Tadi siang kita menemuinya, wanita itu sangat menyeramkan." jelas Devi.


"Benarkah?" tanya Ajeng.


"Kau pasti akan melihatnya sendiri." ucap Devi.


Kedua wanita tersebut mengambil langkah masuk ke dalam bus, jam pulang kerja bus begitu ramai, itu membuat sesak para penumpang yang memaksa masuk untuk segera pulang ke rumah masing-masing dan tidak mau meninggalkan kesempatan sedikit pun. Itu sebabnya bus pagi dan sore selalu penuh oleh mereka yang berjuang, mungkin bukan hanya TransJakarta ini saja yang terlihat penuh oleh mereka para pekerja keras, masih banyak transportasi yang membawa para pejuang itu.


Devi mencoba berpegangan pada tiang di dekatnya untuk menahan dirinya jika ada guncangan pada bus dan Devi harus menerima kalau ia berada di tengah antara wilayah wanita dan pria. Begitu juga Ajeng selalu mencoba melihat sekitar agar tidak ada yang berbuat nakal.


Butuh 15 menit untuk sampai di tempat pemberhentian Devi.


"Dah...." Devi berpamitan pada Ajeng, wanita itu hanya melambaikan tangan pada Devi dengan raut wajah yang kecewa karena harus berpisah dengan teman kantornya.


Dengan hati-hati Devi melangkah keluar dari bus, dilihatnya Ajeng untuk terakhir kali sebelum pintu bus menutup dan memisahkan mereka.


Saat bus sudah pergi dari jalur, Devi pun melangkah keluar dari halte. Langkahnya terhenti, sekarang tidak ada lagi Jaka yang menunggunya dan meledeknya dengan panggilan "Nona gemes." Entah kenapa Devi begitu merindukan sosok Jaka itu, tapi Devi sadar itu bukanlah Jaka.


Langkah Devi kembali terhenti saat dirinya melihat sosok punggung seorang pria, Devi kenal siapa dia.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Devi pada pria itu.


Pria tersebut menundukkan kepala, seperti memikirkan kata apa yang pantas diucapkan.

__ADS_1


__ADS_2