
"Berikan aku alasan. Kenapa kau mengajak aku berkeliling kota malam-malam begini?!" Komentar Raka pada Devi.
Wanita itu melahap lollipop nya yang ia dapat dari hadiah permainan di pusat perbelanjaan.
"Menghindari perjodohan." jawab Devi jujur tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
Mendengar itu Raka terus melihat Devi yang menikmati jalan Jakarta malam, sebenarnya Raka ingin sekali bertanya tapi pria itu sangat luar biasa kuat untuk menahan rasa penasarannya.
"Kau lapar?" tanya Raka.
"Tumben sekali kau perhatian?" tanya Devi melepas lollipop nya dari mulut.
"Aku lapar, kalau tidak mau juga tidak apa-apa." Berjalan mendahului.
Devi mencoba mengejar Raka saat pria itu sudah mulai dekat dengan pedagang bakso pinggir jalan.
"Kau mau tidak?" tanya Raka.
"Boleh."
"Dua mangkok bang."
Pedagang bakso tersebut segera membuatkan pesanan mereka, dengan hati-hati Raka mencoba duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu, mungkin karena ia begitu tidak nyaman dengan jas atau mungkin gerah, Raka melepas dari tubuhnya.
Devi bisa melihat lipatan otot lengan Rak dengan sedikit urat nadi di atas telapak tangan Raka yang sepertinya terlihat kuat. Bukan hanya itu, Devi bisa melihat dada bidang Raka terbentuk sempurna dari kemeja putih yang dipakainya.
"Devi." panggil Raka sambil menjentikkan jari.
Devi terkejut, tersadar dari pandangan dan pikirannya tentang Raka yang sempurna.
"Hah!? Maaf." Dengan cepat dan semangat Devi menerima mangkuk bakso dari tangan si pedagang. Tapi dia tidak tahu kalau bawah mangkuk bakso itu masih panas sekali untuk dipegang, salahnya Devi, ia memegang daerah tersebut.
"Akh!" Devi berteriak dengan refleks melepas mangkuk bakso tersebut.
Semua mata pelanggan yang sedang menikmati bakso teralihkan oleh suara teriakan Devi, melihat Devi lalu berlanjut kesebuah omongan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Raka.
"Panas." ucap Devi mencoba mengusap-usap telapak tangannya yang terasa terbakar.
"Biar aku periksa." Mencoba meraih tangan Devi.
"Ti-Tidak apa-apa, cuma luka kebakar sedikit kok." Tolak Devi mencoba menyembunyikan telapak tangannya.
__ADS_1
Devi bisa mendengar suara helaan napas Raka, Pria itu mencoba mengambil air mineral yang dipajang di meja.
"Ulurkan tanganmu." Pintah Raka. Dengan segera, Devi pun menurut untuk mengulurkan tangannya. Saat air mineral tersebut di siram pada tangannya, ada sensasi perih yang Devi rasakan, dengan susah payah ia menahan, meringis kesakitan.
"Maafkan saya ya Bang." ucap Devi pada si pedagang saat ia membereskan pecahan-pecahan mangkuk tersebut.
"Ya Mbak nggak apa-apa." Lanjut membersihkan.
Devi terdiam sedih menonton pedagang tersebut yang sibuk memilih pecahan demi pecahan di memasukkan-nya ke dalam kantong plastik, namun sedihnya teralihkan oleh Raka yang berdiri menghampiri pedagang tersebut, lalu menepuk pundak si pedagang.
Apa yang Raka lakukan?
"Aku pesan bakso lagi untukmu." ucap Raka mulai memakan bakso miliknya.
"Apa untuk apa?"
"Silakan Mbak."
Devi melihat mangkok bakso tersebut, sekarang si Abang memberikan alas bawah pada mangkok bakso, Devi melihat Raka yang sedang menikmati. Devi tersenyum tipis, ia begitu senang dengan perlakuan Raka.
...~*~...
"Berapa Bang?" tanya Devi mencoba merogoh kantong celana kantornya.
"Nggak usah Mbak, pacarnya udah bayar kok." ucap si pedagang.
"Iya Mbak maaf, tapi baksonya udah dibayar kok."
"Kalau gitu saya ganti mangkok yang pecah itu aja."
"Sama itu juga udah dibayar."
Devi melihat Raka yang sedang sibuk menelepon seseorang, ia pun mencoba mendekati Raka. Pria itu mencoba Devi untuk menunggu beberapa menit sampai selesai menelpon, tapi karena Devi tidak begitu suka menunggu, ia pun memilih untuk berjalan niat meninggalkan Raka, namun dengan cepat Raka memegang lengan Devi agar ia tidak pergi meninggalkannya.
"Ya, baiklah." Raka memandangi Devi dengan kesal.
"Apa?" tanya Devi maksud Raka memandanginya.
"Apa kau tidak bisa menunggu sebentar saja?" tanya Raka.
"Untuk apa? Lagian kalau telepon itu penting bagaimana?" tanya Devi membela diri.
"Tidak ada yang penting di ponselku." Bantah Raka.
__ADS_1
"Oh, begitu." Devi tertunduk.
Tin!
Suara klakson mobil seperti memanggil mereka, Devi mengangkat kepala melihat siapa yang datang dengan mobil. Ternyata itu Robin, Pria itu sudah seperti supir pribadi saja, lalu untuk apa gelar sekretaris pribadinya?
"Hai Devi." Sapa Robin saat sampai tepat di pinggir jalan dekat kami berdiri.
Raka pun masuk ke dalam mobil dan menatap Devi dengan binggung. "Sedang apa kau?" tanya Raka.
"Apa aku menghalangi jalanmu?" tanya Devi, ia berusaha menyingkir ke tempat lain.
Raka memijat keningnya dan Robin tertawa terbahak-bahak saat melihat tingkah Devi yang polos.
"Naiklah, aku akan mengantarmu pulang." Pintah Raka mulai kesal.
"Oh, tidak usah, aku bisa naik busway." Tolak Devi cepat.
"Naik!"
Dengan cepat Devi membuka pintu depan, duduk bergabung dengan Robin. Pria berkacamata itu tersenyum pada Devi. "Jangan lupa pasang sabuk pengaman mu." Robin mencoba memasangkan sabuk pengaman tersebut pada Devi. Tentu saja, Raka yang ada di bangku penumpang belakang tidak terima dengan perlakuan Robin pada Devi.
BRAK!
Dengan keras Raka menendang bagian belakang kursi yang diduduki Robin. Pria berkacamata itu menyadari, kalau ia tidak boleh bermain-main dengan Devi, tentu saja ia tidak menganggap serius perlakuan Raka, walaupun Devi pun terkejut dengan perlakuan Raka pada Robin. Pria bernama Robin hanya terkekeh geli.
"Kita naik busway saja." Ajak Raka, keluar mobil.
"Hah?! Kenapa?" tanya Devi binggung dengan Raka yang tiba-tiba memilih untuk naik Busway. Devi pun keluar dari mobil berusaha menyusul Raka.
...~*~...
Devi mencoba melihat Raka yang berdiri membelakangi dirinya dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana, mereka masih memakai baju kantor itu sebabnya semua mata penumpang memperhatikan mereka.
Bus tujuan Devi pun datang, entah kenapa tiba-tiba hak sepatu heels yang dipakai Devi patah, itu membuat dirinya hampir kakinya terjerembab masuk pada lubang, tentu saja dengan cepat Raka menangkap tubuh Devi yang ramping. Raka bisa merasakan tubuh Devi lagi untuk kedua kalinya, namun bedanya saat ini Devi sudah tidak berisi seperti dulu, jadi itu tidak membuatnya ikut terjatuh bersama.
Devi terkejut, walaupun ia tidak terluka tapi sepertinya ia mengalami keseleo yang parah, karena Devi merasakan nyeri saat kakinya menapak sempurna itu sangat menyiksanya.
"Ngh!" Devi mendengus sakit.
"Apa kaki mu keseleo?" tanya Raka.
Devi mengangguk pelan, dengan pelan-pelan Raka membopong Devi ke tempat aman agar tidak menggangu penumpang lain. Tindakan Raka membuat Devi terkejut tidak percaya.
__ADS_1
"Itu bis terakhir!" Tunjuk Devi memukul belakang pundak Raka.
"Tidak apa-apa, kita naik mobil saja." Raka berusaha menghubungi Robin.