Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
12. Lolos Seleksi


__ADS_3

Benn memandang Eril lekat-lekat dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki yang hanya menggunakan sandal jepit dari bahan spon. Mata coklat yang serasi dengan kulit putihnya nampak mengamati Eril dengan seksama seperti akan menguliti hidup-hidup gadis itu.


Eril yang merasa diteliti detail oleh Benn, sebenarnya seperti sedang sedemikian dilecehkan. Meski sebenarnya terasa nelangsa, sakit dan tidak rela, tapi dia tahan demi mengharap peluang sekali lagi.


Berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini adalah sikap tanduknya yang terakhir. Setelah ini tidak akan lagi ada peluang bagi Benn untuk memandang mentah-mentah padanya. Eril merasa Benn begitu menganggap rendah dirinya.


Benn bukan tidak paham akan perasaan gadis manis yang sedang dikulitinya. Mengakui sikap profesional dan pengendalian dirinya yang baik. Mengingat Eril bukanlah gadis genit dan gampangan.


Wajah tegang dan memerah serta mata yang penuh waspada mengikuti gerak-geriknya, membuat Benn semakin ingin memandang dekatnya. Tapi gadis itu terus diam menunggu dan mematung. Hati lelakinya tiba-tiba merasa iba dan tidak tega melanjutkan.


"Basuhlah wajahmu. Hapus riasanmu di sana,," ucap Benn datar sambil berbalik dan duduk di kursinya.


"Aku tidak mau," jawab Eril dengan sangat kesal.


"Kau ingin tidak lulus seleksi?" tanya Benn kembali mengingatkan hal itu pada Eril. Meluncurkan gertak sambalnya lagi pada si pelamar yang terus menatap galak padanya.


"Sampai kapan aku harus diseleksi? Ini benar-benar tidak fair lagi. Seleksi tanpa batas darimu,, kamu semena-mena, Benn,,!" sungut Eril telah tidak sabar lagi. Merasa sedang dipermainkan oleh si lelaki lapuk di iklan.


"Hei, kau marah? Kau sangat ingin menikah denganku,,?" Benn bertanya sambil menahan ekspresi tawanya. Sangat suka dengan wajah manis yang sedang terlihat marah dan memerah. Dan Eril memang semakin melotot kesal padanya.

__ADS_1


"Yang benar saja jika bicara, Benn,,! Siapa juga yang sedang memasang iklan mencari istri?! Jujur ya,,Benn. Aku ikut melamarmu itu bukan sebab mencari suami, tapi aku sedang mengejar uang hadiahmu. Sebab aku sedang banyak hutang! Kamu paham, Benn,,?!" seru Eril dengan seriusnya.


Benn nampak menahan senyum sambil mengangkat kedua alis. Matanya tak henti menatap Eril yang sangat jelas sedang dilanda galau.


"Katakan, berapa juta hutangmu ?" tanya Benn dengan nada yang pelan. Tidak ada lagi nada menggoda pada pertanyaan nya.


"Bukan juta lagi, Benn. Tapi ratusan juta,!" sahut Eril dengan cepat.


Benn nampak berkerut. Terheran, gadis yang terlihat simpel itu mempunyai hutang yang tidak sedikit ternyata.


"Ceritakan, bagaimana bisa kau punya hutang sejumlah ratusan juta itu?" Benn bertanya lagi sambil berjalan ke samping.


Menarik sebuah kursi berbusa pada Eril. Dan dirinya pun juga duduk kembali ke kursi kerjanya. Memberi isyarat agar Eril juga duduk sepertinya.


"Jadi diam-diam kau ini tahanan polisi,,?" tanya Benn menanggapi cerita Eril yang baru saja berakhir.


"Apa tidak ada persamaan lainnya yang tidak terlalu kasar, Benn? Aku bukan tahanan polisi. Aku ini sedang terkena musibah,,!" jelas Eril meluruskan. Benn benar-benar sesukanya jika bicara.


"Ah, sama saja..Urusannya juga lewat polisi,!" sanggah Benn dengan yakin.

__ADS_1


"Ah, terserah anggapanmu lah, Benn. Yang jelas aku berurusan dengan polisi itu sebab musibah yang harus kitanggung. Bukan sebab tindak kriminal apapun," Eril berusaha menjelaskan lagi dengan keprasahan.


Mungkin kali ini Benn benar-benar akan mengeliminasinya. Uang satu milyar dalam harapan yang akhirnya melayang. Ah, malangnya jadi kontestan pada lelaki yang hanya iseng cari istri..


"Baiklah, menikahlah denganku. Menikah denganku sementara. Setidaknya selama enam bulan kita jalani pernikahan." tiba-tiba Benn mengejutkan Eril dengan ucapannya.


Seperti tanpa beban dan berkesan sembarangan. Namun Eril tidak peduli. Sangat paham jika Benn memang tidak serius menikahi. Hanya menyelamatkan diri dari tekanan orang tua.


Sedang Eril, tujuannya melamar Benn juga bukan untuk menikah benar-benar. Hanya demi mendapatkan uang imbalan. Uang yang akan digunakan untuk melunasi hutang musibahnya, serta menyelesaikan urusan perjanjian musibah itu di kepolisian..


"Bagaiman, Eril,,? Nama panggilanmu benar Eril, kan,,?" Benn terdengar ragu menyebut nama gadis yang nampak merenung jauh dan dalam.


Dan kemudian melihat gadis yang barusan ditanya itu sedang mengangguk menatapnya.


"Lalu, kapan bisa kudapatkan hadiahku itu, Benn? Kau tidak berniat menyerahkannya setelah menikah, kan?" kejar Eril sungguh-sungguh.


"Jika iya?" Benn kembali ingin usil.


"Apa kau tidak merasa risih, menikahi perempuan yang masih memiliki urusan dengan polisi?" sahut Eril dengan telak untuk Benn.

__ADS_1


"Bagaimana jika uang dimuka dua puluh lima persen? Aku belum percaya denganmu. Bisa jadi kau akan lari setelah menerima uangku,," tawar Benn pada Eril.


"Benn, kamu pikir aku sudah percaya denganmu? Aku pun berfikir jika kau akan menipuku dengan tidak lunas membayarku," Eril pun terdengar ragu dengan tawaran Benn padanya. Mereka terdiam dengan saling memandang. Merasa sama-sama tidak ingin dirugikan.


__ADS_2