
Pintu lift yang akan rapat menutup, adalah pemutus pandangan redup Eril pada lantai tiga gedung itu. Lantai di mana Eril pernah berada di kamar Benn. Lantai di mana Benn biasa duduk di ruang kerjanya. Lantai di mana suami tak jelasnya berada..
Ya, Benn masih jadi suaminya. Suami yang telah mendepaknya lebih dini. Tapi bukan bercerai, hanya tidak tinggal seatap bersama. Sebagaimana permintaan Eril sendiri. Dan kali ini Benn telah membiarkannya benar-benar berlalu pergi..
Dipeluknya anak lelaki yang dicinta. Harta terbaik yang tak tertafsir nilainya. Demi anak, Eril rela melakukan segala hal. Demi anak juga, Eril akan rela jika harus kehilangan segalanya.
Ting...!
Pintu lift telah membelah sempurna di pelataran lantai satu. Eril serasa diusir untuk segera keluar dari lift. Lift privasi yang hanya boleh dipakai oleh para pemilik bangunan gedung dan orang-orang yang dekat. Dan hanya Benn lah salah satu pemilik bangunan gedung yang terus standby menggunakannya.
πΆπΆπΆπΆπΆ
Tin...!
Eril menepi sambil memegang ponsel yang dia gunakan untuk memesan ojek online.
Bunyi klakson yang hanya satu kali, bersamaan dengan sebuah mobil sedan hitam yang berhenti tepat di sampingnya. Mobil itu adalah yang biasa dibawa Benn. Namun Eril yakin, bukan Benn yang berada di balik kemudi, tapi orang lain.
Sebab sangat diingatnya, lelaki itu tidak akan merasa puas jika hanya menekan klakson mobil sebanyak satu kali saja. Setidaknya, setelah bunyi klakson hingga tiga kali, barulah Benn merasa puas dan diam menyudahi.
"Eril,, naiklah!" seru seorang lelaki dari dalam mobil itu. Tampaklah asisten Lucky di belakang kemudi. Asluk telah membuka turun sedikit kaca jendelanya.
"Pak Lucky,,?!" sambut Eril dengan bimbang.
"Akan aku antar, Eril..! Tuan Benn yang memintaku,,!" seru asisten Lucky dari kaca jendela mobil.
Eril berfikir sesaat. Mencerna benar-benar ucapan asisten Lucky.
"Iya, pak Lucky,,!" sahut Eril akhirnya. Meski terkejut dengan sikap Benn yang ternyata cukup punya belas kasihan padanya.
"Terimakasih, pak Lucky," ucap ibu muda setelah duduk nyaman sambil memangku sang putra yang terus bersikap manis dan tenang.
__ADS_1
Asisten Lucky tersenyum sambil mengangguk, menoleh sebentar pada perempuan yang telah duduk manis bersama balitanya di sebelah. Lelaki setengah baya itu mulai meluncurkan mobil yang biasa dipakai Benn itu dengan perlahan, membelok meninggalkan gerbang gedung dan kemudian membelah jalan raya.
"Pak Lucky, antar kami ke mall yang nyaman ya. Yang banyak area mainnya buat anak-anak. Aku ingin bikin anakku bergembira, pak Lucky." pinta Eril saat asisten Lucky bertanya ke mana harus diantar.
"Iya, Eril,," sahut asisten Lucky sambil menoleh sekilas pada Evan yang nampak asyik mengikuti pemandangan di tepi jalanan yang mereka lalui.
Asisten Lucky telah paham hubungan antara Evan dan Eril. Benn sempat bercerita singkat tentang mereka padanya. Saat boss muda itu menyuruhnya untuk mengantar ibu dan anak pulang ke rumah mereka.
"Jika ada apa-apa, telepon saja ya, Ril,,!" pesan Asisten Lucky dari belakang kemudi saat Eril dan Evan telah turun. Asisten Lucky telah menghentikan mereka di sebuah mall besar daerah Depok, yang tidak terlalu jauh dari rumah kontrakan Eril.
Asisten baik setengah baya itu telah berlalu dari hadapan Eril. Lucky sempat mengangguk menanggapi ucapan terimakasih dari perempuan yang menggendong anak lelakinya. Dan memutar balik mobil untuk menuju gedung utama kembali.
πΆπΆπΆ
Ibu muda seksi dengan anak di genggaman tangan, ingin merasakan sedikit hasil jerih payahnya dari rizqi kemenangan di kontes. Kontes pemilihan istri dari seorang hartawan kaya raya dan tampan.
Sebelumnya Eril merasa tidak tenang jika harus menggunakan uang untuk pengeluaran yang sekunder. Kecuali untuk menebus kasus musibahnya serta berbagi hadiah dengan teh Sulis hari itu.
Ibu muda itu tidak ingin kerepotan dengan barang di tangan yang menganggu. Sedang memegang dan menggendong sang anak saja sudah memerlukan perhatian serta ekstra tenaganya. Tidak ingin quality time bersama Evan terbebani. Hanya ingin menikmati rasa gembira serta bahagia pada cuci matanya bersama buah hati kali ini.
"Ayo dihabisin, Evaaan,, habis ini kita masuk ke sana. Mau,,?" sang ibu menyemangati sang anak untuk segera menghabiskan cup kecil es kirimnya. Sambil menunjuk sebuah blok pertokoan berisi arena bermain anak yang juga menjual aneka mainan anak-anak.
Mereka duduk di sebuah bangku panjang dalam bangunan mall di lantai dua. Dan Evan begitu bersemangat menghabiskan es krim di tangan begitu mendengar ucapan penyemangat dari ibunya.
"Evaaan, nanti sehabis bermain, mama akan belikan mainan. Tapi tidak boleh besar-besar, dan paling banyak tiga saja yaa..." Eril menghentikan jalan kaki Evan di depan pertokoan sebelum benar-benar masuk ke area. Ingin memberi pesan penting itu kepada balitanya sebelum masuk ke dalam, yang bisa jadi akan kalap dengan banyak pilihan segala jenis mainan di sana.
Evan berjalan cepat memasuki arena bermain dengan Eril yang berjalan mengikuti di belakang. Tangan yang terus dipegang itu segera dilepaskan setelah Evan memberi anggukan serius dengan pesan yang diberikannya barusan.
Koin tiket untuk seluruh permainan, masih tersisa cukup banyak yang digenggam. Namun malam begitu cepat bergulir. Menyadari mall itu akan tutup sebentar lagi, Eril segera meninggalkan arena bermain dan menggiring Evan menuju toko mainan.
"Evan, jangan lama-lama milih yaaa... Jangan bimbang, ambil yang paling kamu suka. Ingat, jangan yang besar banget. Mama nggak kuat bawanya,,," tukas Eril saat Evan nampak bingung menentukan. Memegangi mainan itu bolak-balik bergantian.
__ADS_1
Dan agak risau saat Evan memegang replika mobil taft 4x4 yang besar itu agak lama. Bahkan tinggi mobil-mobilan melebihi pinggang Evan. Sang ibu merasa akan kewalahan membawa jika Evan memilihnya. Apalagi Evan bisa saja minta digendong jika lelah.
Eril melewati pintu mall menuju keluar beberapa detik sebelum mall itu benar-benar berhenti beroperasi. Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit adalah batas waktu bagi seluruh pengunjung mall untuk menyingkir keluar dari bangunan. Dan Eril menjadi satu-satunya pengunjung yang sangat tepat waktu untuk keluar mall malam itu.
"Duh, Evaaan,, ponsel mama kok mati yaaa.. Bagaimana ini, Vaaan..." keluh panik Eril pada Evan.
Meski yang diajak bicara hanya diam saja memandang. Bocah kecil itu tidak fokus pada ucapan sang ibu. Kepalanya sedang dipenuhi dengan bayangan pilihan mainan. Dan tidak sabar untuk segera pulang demi membongkar mainan yang akhirnya terpilih dan kemudian dibeli.
Halte yang sepi itu mulai lengang. Orang-orang yang lalu lalang di sekitar bangunan mall hampir semuanya telah hengkang. Hanya segelintir orang saja yang nampak dan entah kenapa mereka tidak juga segera pulang.
Suasana seperti inilah yang sangat dirisaukan Eril. Tapi sudah terlanjur. Menghabiskan waktu bergembira bersama Evan benar-benar melenakan. Sebab merasa cukup uang di genggaman, membuat tenang dan menjadikannya lupa waktu. Tidak tahu juga jika ponsel dalam tas telah mati habis daya. Sebab terlalu banyak digunakan untuk mengambil foto-foto balitanya.
Dan suasana mencekam itu membuat sang ibu merasa bersalah dan sedikit menyesali. Sangat risau akan keselamatan diri bersama buah hatinya. Eril menepuk-nepuk punggung Evan untuk mengurangi rasa cemas dan panik di dadanya.
Tin..!! Tin...!! Tin...!!
Eril tersentak. Bunyi klakson sangat bising itu berasal dari sebuah mobil yang tiba-tiba telah berhenti menepi di depannya. Kakinya dimundurkan lagi hingga benar-benar rapat di bangku halte.
Eril memeluk Evan erat-erat, balita itu sedang menyembunyikan wajah ke dadanya. Bocah kecil itu mungkin juga merasa sama terkejutnya dengan sang ibu.
πΆπΆπΆ
πΆπΆπΆ
Terimakasih dukungan readers yaa...
Terimakasih sudah meninggalkan segala hadiah dan jejak..
Tulisanmu di tiap akhir babku.. sungguh penyemangat mujarab bagiku..
Untuk yang sedang bertani... Yang selalu menanam cabai.. semoga harga cabai semakin memuaskan yaaa.. Hi..hi..hi..πΆπΆπΆπππ
__ADS_1
πππ