Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
25. Hasrat Palsu


__ADS_3

Tidak habis fikir dengan kesalahan apa dari ucapannya, Benn tercengang memandang perempuan yang masih dipegang tangannya itu tiba-tiba menangis tersedu. Serba salah dengan apa yang harus dilakukan.


"Eril..Hei,,,kenapa kau menangis?!" tegur Benn berseru. Tangannya sedikit mengguncang pergelangan tangan Eril dengan pelan.


Bukan mereda tangis perempuan yang sudah berstatus istrinya, justru bertambah keras dan makin sesenggukan. Benn merasa kian kebingungan.


"Eril,,," Benn mengeluh dan sama sekali tidak paham.


Merasa tidak bersalah, sebab semua ucapan yang telah disampaikan pada gadis itu baginya sudah tepat. Wujud tanggung jawab seorang suami kepada sang istri.


"Ril, kau ini kenapa? Katakanlah padaku,," bujuk Benn.


Tangannya menarik tubuh sintal berkebaya itu untuk lebih mendekat lagi. Tapi pemilik tangan yang ditarik ternyata menolak. Bahkan berusaha mundur menjauhi Benn.


Sebab tidak merasa bersalah, Benn juga kian berkeras hati. Menarik lagi tangan Eril dengan satu kali sentakan. Perempuan berkebaya itu hilang keseimbangan berdirinya. Terhuyung ke arah tarikan di tangan yang langsung disambut Benn dengan dadanya. Dalam hitungan detik, sang istri telah dalam pelukan suaminya.


"Benn,,,Lepaskan,,!" pekik Eril, sangat takut jika Benn akan berbuat lebih dari sekedar memeluk.


"Tidak kulepas, kecuali jika kau katakan dengan jujur, kenapa kau ini menangis,?" tanya Benn kian mengeratkan pelukan. Benn merasa tubuh yang didekapnya begitu hangat dan lembut. Apa yang diduganya terjadi, dadanya kembali kian laju berdegup.


"Katakan, Eriiiill,,," ulang Benn merasa gemas dengan sikap batu Eril yang bungkam tak menjawab. Benn menambah kekuatan dekapannya.


"Akan aku katakan, Benn. Tapi lepaskan dulu tanganmu," pinta Eril terengah. Benn terlalu rapat mendekapnya. Membuat dadanya begitu susah mengembang.


Dua lengan kokoh Benn perlahan sedikit melonggar. Memberi sedikit kebebasan dada itu untuk bernafas dan berbicara.


"Katakan,," kata Benn sangat lirih.


"Aku ingin pulang sebentar saja, Benn. Boleh,,??" Eril mendongak menatap lelaki tampan yang begitu dekat di depannya. Wajah sayunya memelas dan memohon.

__ADS_1


"Itu lagi,,? Kenapa kau begitu keterlaluan ingin pulang?" tanya Benn yang justru terdengar agak dingin. Sepertinya kecewa dan tetap tidak ingin bergeming dengan permintaan Eril satu itu.


"Katakan kenapa,,, Beri aku alasan yang kuat. Jika tidak, jangan ke mana-mana." tekan Benn dengan nada yang masih mendingin.


"Aku,,aku rindu dengan keluarga kecilku,," jawab Eril dengan lirih.


"Keluarga kecil,,?" Benn memicing mata dan bertanya terheran.


"Mm,,maksudku anak itu,,Evan dan pengasuhnya,," cetus Eril sedikit terbata. Namun apa yang didapatnya bukan tanggapan dari suara Benn. Tapi dirinya telah kembali dipeluk lebih erat dari sebelumnya oleh Benn.


"Aku heran denganmu, Ril. Apa otak di kepalamu ini sudah kempis. Mereka itu bukan sesiapamu. Aku suamimu... Apa mereka memberimu bahagia? Aku juga bisa memberimu bahagia, Ril,,!" ketus Benn kian dingin.


Mendengar ucapan yang bernada dingin, hati Eril menciut. Berfikir jika Benn melakukan apa saja padanya, tidak akan ada orang yang akan menyalahkan Benn. Tidak ada seorang pun yang iba dan kasihan padanya. Dalam segi hukum apa pun, Benn punya hak mutlak atas dirinya.


Ah, pernikahan kontrak dan perjanjian kontrak ini, adakah kekuatan hukumnya,,?! Tidak ada, sebab tidak ada saksi.. Mungkin saja begitu.. Dan bahkan Eril belum juga mendapat salinan filenya dari Benn ! Ibu muda itu merasa terlambat menyadari dan kini mulai menyesali. Terlalu silau dengan kemenangan dan juga imbalannya. Bahkan imbalan itu masih hanya sebagian. Bagaiamana jika Benn ternyata menipu dan menjebaknya?


"Kau tahu bahagia apa saja jika denganku? Segalanya, Eril... Dan di antaranya seperti inilah wujud bahagia itu,," bisik Benn pada Eril.


Diikuti gerak kepalanya mendekati wajah Eril. Ibu muda yang paham gelagat, dengan cepat berusaha menjauh dan memalingkan mukanya ke samping kanan kiri wajahnya. Menghindari wajah Benn yang memburunya.


"Benn,,,! Hentikan Benn,,! Ini bukan tugasku, dalam sepakat yang aku tanda tangani, ini tidak ada.. !!" Eril mencoba berlindung.


"Please, Eril,,!" ucap Benn meminta.


Sepertinya, ucapan bahagia untuk Eril hanya pemanis di mulut . Mungkin Benn sendirilah yang sedang menggali kebahagiaannya. Penasaran, sejauh mana pengaruh perempuan yang dipeluk erat itu pada tubuhnya. Tidak peduli dengan perlawanan sepenuh daya Eril padanya.


Begitulah Benn, sifat bawaan dari orok yang sebenernya masih terus melekat, dan hanya sedang tertidur sementara. Benn yang keras kepala, memaksa, dan mantan pemain wanita.


Perempuan dalam pelukan telah diam dengan tangan mencengkeram dadanya. Bibir yang biasanya polos dan kini sedang merona oleh lipstik super mahal, telah dikuasai sepenuhnya oleh Benn. Pasrah dengan setiap permainan bibir Benn pada seluruh bibir dan mulutnya. Bahkan terdiam lemas saat Benn mengangkat dirinya dan membaringkan di ranjang.

__ADS_1


Rasa raganya melawan pada keinginan teguh di kepalanya. Benn telah menyeretnya dalam arus panas di wajah, bibir dan leher penuh hasrat. Perempuan itu telah karam dalam panas nafsunya.


Ketakutan jika Benn berbuat jauh dan benar-benar melakukannya, mengendap tersingkir sementara. Terganti dengan errangg dessahh di bibirnya.


Ketakutan jika Benn akan menyiramkan lahar hasrat di rahim dan lalu berkembang menjadi embrio kedua setelah Evan, rasa bersalah jika harus berbagi kasih dengan anak lain selain Evan, menepi jauh-jauh dari benaknya. Benn telah sampai di kawasan dada dan bergerilya di perbukitan. Eril kian lupa segalanya.


Benn melakukannya penuh hasrat dan minat. Menelusur menggelora penuh harapan. Namun kepalanya mulai sakit. Nafsu yang berhasil timbul dan semakin menderu, sama sekali tak bisa bermuara. Tembakan Benn tak mampu bersiaga, apalagi mengharap akan memuntahkan isi pelurunya..Argh,,, kepala Benn telah begitu nyeri sekarang.


Eril yang tengah hanyut dalam cumbuan sang suami, merasa terkejut. Benn tiba-tiba menjauh darinya dan duduk terbangun. Benn sedang memejamkan mata dengan dahi berkernyit, seperti menahan rasa sakit.


Eril segera bangun, membenarkan bra dan mengaitkannya. Menautkan lagi kebaya pengantin yang telah porak-poranda sebab ulah Benn barusan. Dikancingkan cepat-cepat serapat semula. Beringsut turun dari ranjang buru-buru dan berdiri menjauh dari Benn.


"Maafkan aku, Ril,," ucap Benn sembari berdiri tanpa menoleh pada Eril.


Melangkah menuju ruang ganti dan tenggelam di sana.


Eril yang merasa serba salah, antar rasa malu, sakit dan sedih. Begitu mudahnya hanyut oleh pelukan seorang Benn. Apalagi Benn tiba-tiba menggantungnya begitu saja. Juga sedih, mengingat lagi pada Evan..


"Aku akan keluar sebentar. Di meja sofa ada makanan. Makanlah,,," kata Benn menoleh pada Eril sebentar dan kemudian berlalu. Menyambar kunci dan akan berjalan menuju pintu. Lelaki itu telah menukar bajunya.


"Benn, aku ingin bicara,,!" seru Eril. Takut jika Benn lama tidak kembali. Benn pasti mengunci pintu dari luar.


"Aku ada urusan penting, Ril..! Tunggulah aku kembali. Di sofa ada bajumu. Tukarlah baju pengantinmu itu,,!" seru Benn yang sudah berdiri di ambang pintu.


Benn bergegas menutup dan mengunci pintu kamar pengantin. Meninggalkan pengantin perempuan yang baru dinikahi itu bersedih sendirian di dalam sana. Tapi Benn juga sedang tersiksa. Kepalanya begitu sakit dan terasa sangat nyeri. Lelaki tampan yang gagah itu tak bisa menahan lagi.


🌶


Hari merangkak malam. Benn telah sampai di gedung utama menaiki lift menuju ruang kerja. Menunggu seorang pemijat lelaki yang telah dipesan dan sedang dijemput asisten Lucky di tempat yang ditentukan sendiri oleh Benn.

__ADS_1


__ADS_2