Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
72. Koma


__ADS_3

"Eril, aku menyesal. Aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal. Sudah tidak pernah lagi hal bodoh itu kulakukan. Kumohon, maafkanlah aku, Eril,," ucap Benn. Lelaki itu berdiri berusaha mendekati Eril. Rasanya sangat ingin memeluk.


"Jangan mendekat. Itu bukan hal bodoh. Tapi keji, jahat, brengsek, licik,,!! Hik..hik..hik...!!" Eril menuding tajam pada Benn dan menangis keras tersedu.


"Pergilah,! Atau aku yang pergi,?!!" seru Eril di sela isaknya.


Benn bungkam tak sanggup lagi berkata-kata. Merasa begitu bersalah dan tidak berguna.


"Baiklah, aku pergi dulu, tapi aku tidak akan melepaskanmu dan anakku,," Benn berkata lunglai. Berjalan pergi dengan lemas dan gontai. Hatinya kosong tak bermaya tanpa semangat dan dukungan. Sangat berat melangkah keluar untuk meninggalkan mereka di apartemen. Tapi juga tidak mau jika Eril yang akan nekat pergi meninggalkannya.


🌶🌶


Mobil sedan hitam yang dikendarai oleh lelaki patah hati dan hilang semangat, meluncur kencang membelah lajur jalan dengan sangat kencangnya. Mendadak membelok tajam memasuki jalan raya bebas hambatan. Mengemudi dengan tanpa harapan dan tujuan.


Pembalap handal itu terus menambah kecepatan tanpa sadar. Pikirannya sedang kosong melayang dan hampa. Hanya memanfaatkan dengan maksimal jalan bebas hambatan yang sedang ditempuhnya. Tidak ingat jika tol itu akan segera berakhir di persimpangan.


Tin...!! Tin...!! Tin...!! Tin...!! Tin...!! Tin...!!


Tin...!! Tin...!! Tin...!! Tin...!! Tin...!! Tin...!!


Brraaakkkkkklkkk..!!!!!!!!


Brraaaannggg..!!!!!!!!


Brraaakkkkkklkkk..!!!!!!!!


Brraaaannggg..!!!!!!!!


Tabrakan beruntun di persimpangan antara jalan bebas hambatan dan jalan berjalur...

__ADS_1


🌶🌶🌶🌶


🌶🌶🌶🌶


🌶🌶🌶🌶


Wanita beraura menyenangkan itu menatap kosong dengan muka yang sembab. Hampir satu minggu dipandanginya lelaki yang terbaring kaku dan tanpa gerakan sedikit pun. Hanya bisa memandangi tanpa bisa menyentuhnya.


Merasa bersalah telah membuat lelaki itu mengalami peristiwa kecelakaan mengenaskan di jalanan. Menyesal telah mengusir sang suami tanpa perasaan begitu saja. Merasa menjadi istri yang egois tanpa limpahan maaf untuk lelaki yang sudah menjadi suaminya. Sedang lelaki itu sudah benar-benar menyesali kesalahannya.


Eril sedang duduk di depan dokter spesialis syaraf dengan tegang. Menyimak dengan fokus setiap apa pun yang disampaikan dokter mengenai kondisi sang suami padanya.


"Jadi suami saya sebenarnya tidak terluka sama sekali,?" tanya Eril dengan wajah cerah tak percaya. Sang dokter mengangguk.


"Suami anda adalah penyebab kecelakaan beruntun itu. Tapi tidak ada luka apapun di tubuhnya. Suami anda cukup lihai mengendalikan kendaraan dan dirinya. Hanya sangat aneh dan sayang sekali, suami anda justru mengalami koma yang tidak seharusnya terjadi." ucap dokter dengan suaranya yang berwibawa dan tenang.


"Bagaimana hal itu bisa terjadi, dok? Apa penyebabnya,?" tanya Eril dengan perasaan yang kembali gusar dan cemas.


"Lalu, sampai berapa lama kondisi koma suami saya itu, dok,?" tanya Eril. Sedikit cemas dengan jawaban dokter yang mungkin akan menyakitkan dan mengecewakannya.


"Tergantung respon pasien pada rangsangan yang diberikan. Suara, sentuhan atau aktifitas apa saja yang kemungkinan akan diresponnya." terang sang dokter dengan sangat meyakinkan.


"Apakah suami saya harus tetap dirawat di rumah sakit ini, dok,?" tanya Eril dengan terus merasa cemas.


"Kita tunggu hingga dua minggu. Sebab pasien tidak lagi memerlukan alat bantu yang berat, setelah dua minggu, keluarga boleh membawanya pulang." terang sang dokter.


"Jadi sehabis ini, saya boleh masuk ruangan dan menunggunya secara langsung, dok,?" tanya Eril bersemangat. Dokter lelaki setengah baya itu kembali mengangguk.


"Ya, anda bisa mengajaknya berkomunikasi. Bicaralah yang sekiranya pasien akan merasa gembira dan senang. Itu bisa memperbesar kemungkinan responnya." ucap sang dokter memberikan harapan.

__ADS_1


Perbincangan penting itu berakhir. Eril menyampaikan ucapan terimakasih sebelum pergi meninggalkan ruangan. Merasa agak bersemangat kali ini. Dokter sudah membolehkan untuk memasuki ruang tempat Benn dirawat. Serta boleh mendekati langsung pada pasien yang koma tanpa cidera tersebut.


🌶🌶🌶


Perawatan di ICU telah berpindah ke ruang paviliun VIP bagian perawatan khusus syaraf...


Lelaki yang sedang koma itu nampak berkerut di wajahnya. Wajah putih bersih yang biasa cerah dan tampan, kini terlihat sangat pucat. Bibir seksi yang selalu coklat kemerahan, kini juga pudar dan samar memutih. Benn nampak lemah dan menyedihkan dalam pejam matanya.


Dengan ditunggu wanita cantik yang setia menemani dan duduk di sampingnya. Memandang diam dengan sesekali air mata mengalir. Belum sanggup bersuara untuk mengajaknya berbicara. Merasa tak berdaya untuk membuka mulut dan bercerita. Tidak kuasa untuk merayu dan membujuk pada tubuh patung yang membujur layu di depannya.


Tok..!Tok..!


Bunyi ketuk pelan dua kali di pintu perawatan VIP terdengar samar dari depan. Eril beranjak keluar kamar dan laju menuju pintu. Yakin jika mereka adalah pasangan mertua bersama balita lelakinya yang dirindu.


"Assalamu'alaikum," sapa kedua mertua berbarengan. Mereka telah berdiri di depan pintu paviliun setelah Eril membuka pintu yang tadi dikuncinya


"Wa'alaikumsalam ma, pa," sambut Eril sambil mundur ke belakang.


"Ayo ikut mama, Van," ucap Eril sambil mengulur tangan setelah mertua masuk ke dalam paviliun.


Ibu dan anak itu saling merangkul. Evan nampak rindu dengan sang ibu. Selama lebih satu minggu, Evan terus bersama mertua. Berpisah dengan Eril yang bertanggung jawab menunggu Benn yang koma. Dan akan dibawa mertua sehari sekali berkunjung menemui daddynya yang koma.


Sebab urusan kerja juga tak bisa diabaikan. Mama Donha mengurusi hotel bersama Evan dengan seorang babby sitter. Tuan Harsa mengurusi segala yayasan di kantor gedung utama menggantikan sang putra sementara. Ya, berharap hanya sementara dan Benn akan segera siuman seperti sedia kala.


"Maaf tadi kami tidak cepat datang saat kamu kabari jika Benn sudah boleh didekati. Pekerjaan kami sangat menumpuk, Ril," terang mama mertua dengan nada segan pada menantunya. Eril mengangguk.


"Tidak apa-apa, ma. Semua telah diatur oleh petugas saat pindah ruang tadi, tidak repot sama sekali," terang Eril pada mama Dhona. Sedang papa mertua telah meluncur ke dalam kamar mengamati anak lelakinya yang malang.


"Kapan Benn pulang, Ril,?" tanya mama.

__ADS_1


"Mungkin satu minggu lagi, ma. Atau jika ada kamajuan yang sangat bagus, bisa lebih cepat lagi," terang Eril sambil berjalan bersama mertua menuju kamar tempat Benn dibaringkan.


"Iya semoga tiba-tiba ada keajaiban, Ril. Kasihan Benn,," ucap mama mertua sambil mengusapi matanya. Wanita itu diam-diam sedang menangis. Tak kuasa lagi menutupi nyeri sedihnya. Menangisi kemalangan sang putra yang terus bertubi datang menimpa.


__ADS_2