Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
8. Dinner


__ADS_3

Perempuan dengan lesung pipi hanya sebelah, juga gingsul gigi sebelah saja, beraura menyenangkan, dan tidak bosan di pandang itu membalas tatapan tajam Benn dengan picingan matanya. Merasa geli dengan pertanyaan sekaligus vonis dari lelaki berkulit putih dan berwajah tampan tak terbantah itu.


"Saya tidak mengguyuri badan kecil ini dengan parfum, tapi hanya menyempatkan diri untuk melumurinya dengan sabun saat mandi. Apa bersabun saat mandi juga dilarang,?" tukas Eril menahan diri agar tidak tertawa. Wajah putih lelaki itu jelas nampak blingsatan sendiri seketika.


"Apa kau berani menjamin kevalidan ucapanmu? Sebut dengan detail, sabun apa yang kau pakai,,?" Benn bertanya pada gadis yang duduk di depan, namun dengan menunduk.


Sebab tangan Benn sedang menyisir-nyisir rambut hitam tebal di ubun kepala. Seperti sengaja menyembunyikan ekspresi wajahnya. Dan sedang berupaya menjaga wibawa pada si kontestan di depan.


Bukan wibawa yang dikesan Eril pada lelaki kulit putih itu. Justru seperti kekanakan dan cenderung sebagai lelaki kurang kesibukan dan tanggungan. Kembali ingin tertawa saja melihatnya.


"Kalo tidak salah, sabun yang kupakai adalah sabun cair dettol warna pink,, apa anda berminat membeli dariku,,?" tanya Eril dengan santai. Seperti lupa jika sedang berhadapan dengan siapa dan bagaimana baiknya bersikap. Hanya kelebat sumber uang sajalah yang lebih meraja di kepala.


"Beli darimu,,? Ha,,ha,, kau pikir toserba dan swalayan di Jakarta ini masih jarang? Lagipula, kau pikir aku tidak mual, memakai sabun denga aroma yang sama denganmu,,?!" wajah putih itu nampak agak merah sebab sudah tertawa dan merasakan hal yang konyol.


Seperti ranting kering yang terinjak dan patah lah rasa yang sedang Eril dapatkan. Lelaki itu cukup kejam membantingnya.


Namun saat melihat wajah lelaki itu tidak berekspresi jijik atau merendahkan. Eril kembali merasa abai dan nyaman. Lelaki berkulit terang itu memang barusan berkata menyakitkan tapi wajahnya nampak tersenyum dan terkesan bercanda.


"Jadi, sebenarnya apa guna saya diundang datang ke sini, pak,,? Dan siapa dia ini ya pak,?" tanya Eril pada asisten Lucky. Dan ingin berdamai saja dengan lelaki putih tampan yang duduk di samping asisten Lucky.


"Hanya ingin menilai seberapa patuh kamu ini dengan aturan," sahut Benn tiba-tiba.


Menyambar pertanyaan Eril yang dia paham sedang ditujukan pada asluk. Merasa diri tidak mampu berdiam saja seperti niatannya sebelum sampai di kafe dan menemui kontestan satu itu.

__ADS_1


Kening sempit itu berkernyit sedikit. Mencerna ucapan lelaki tampan yang jika bicara selalu saja ceblang-ceblung menyebalkan.


"Apa itu pertanda saya lulus seleksi sebagai calon istri?" tanya Eril terus terang dengan tanpa sungkan-sungkan. Dan tidak ingin bertele-tele membuang banyak waktu. Bayang kelebat balita Evan sangat mengganggu duduknya. Ingin segara berakhir dan kemudian langsung pulang.


"Meski badanmu kecil, kau ini percaya diri sekali. Apa kau juga tidak diberitahu? Datang ke sini harus dengan penampilan yang po,,loss,! Apa kau tidak mendengar lagi?" cerca Benn dengan sinis.


Kembali ke syarat-syarat yang telah ditentukan pada satu-satunya kontestan yang diundang datang kopdar malam ini. Tapi meski tidak melanggar, gadis itu telah sedikit menyalahi aturan.


"Saya tidak tuli. Pendengaranku sangat tajam. Dan saya tidak pikun. Sebenarnya, anda ini siapa,,?" Eril mengulangi pertanyaan keponya kembali. Memandang terang-terangan wajah Benn yang tampan.


Rasa kepo akan siapa lelaki tampan tapi telah sangat ricuh dan ribet saat mengusik penampilan dirinya. Merasa tidak mungkin jika lelaki tampan itu adalah lelaki lapuk yang video call sepihak dengannya kemarin. Hanya satu yang membuat hati Eril kian ragu,,,Cara bicara yang arrogant dengan suara yang serupa,,,!


"Bersihkan bibirmu,,!" tiba-tiba Benn menegur. Memandang seksama pada bibir Eril yang sensual, halus dan padat. Nampak mengkilat yang kian menggambarkan bagaimana kenyal dan lembutnya bibir itu.


Mata bulat itu semakin lebar menjeling pada Benn. Sangat kesal dengan caranya menegur yang arrogant dan ketus. Seperti tidak ada kalimat lain saja yang bisa dia ucapkan dengan sopan.


"Bersihkan sekarang. Kau tidak mengikuti arahanku sedikit pun,," ulang Benn dengan santai dan acuh.


Merasa begitu paham dengan lipstik jenis apa yang telah dioleskan oleh kontesatan itu di bibirnya. Pernah memiliki masa lalu kelam, bergaul dan tidur dengan banyak wanita, membuat Benn begitu paham serta mengenali setiap jenis dan sifat lipstik di bibir wanitanya.


Tap,,!!


"Bersihkan dengan itu,!" Benn menunjuk satu pack tisu basah yang dia sambar dari meja sebelah yang entah milik siapa. Mungkin milik pengunjung yang tertinggal. Dan telah Benn lempar di meja, depan Eril.

__ADS_1


Eril tidak ingin membuang waktu jika saja harus kembali dijumpai kesalahan baru oleh lelaki lapuk yang tampan itu. Segera mencabut selembar tisu basah dan mengusapkan cepat di bibirnya. Tapi digerakkan dengan pelan, tidak ingin bibirnya terluka hanya sebab menuruti keinginan lelaki itu.


Benn memperhatikan tanpa segan saat bibir mengkilap telah kehilangan lapisan lip balm berminyaknya. Bibir yang kembali keasliannya dengan penampakan dan bentuk yang tidak jauh beda dari sebelumnya.


Wajah polos segar tanpa riasan dengan mata bulat bersinar itu tengah berkilat memandangnya. Benn paham, gadis di depannya ini mempunyai sifat yang cenderung tidak sabar. Nampak tidak tenang dan seperti buru-buru.


Apa sebabnya,,,? baru kali ini ada perempuan yang tidak berusaha agar bisa berlama-lama di dekatnya. Kecuali,,, ya,,kecuali mantan tunangannya beberapa tahun lalu. Calon istri yang ngotot meninggalkanya.


Benn tidak lupa bahwa semua adalah kesalahan besarnya sendiri. Benn bermain curang di belakang, masih bersenang-senang dengan para kekasih lamanya. Diperparah,,Benn juga nekat ingin meniduri calon istrinya waktu itu. Membuat sang calon istri ketakutan, lalu terbirit meninggalkannya.


Dan semenjak itu, sejak tiga tahun yang lalu, Benn bertekad untuk tidak lagi memiliki wanita seorang pun. Dirinya benar-benar bujang jomblo hingga sekarang. Hanya saja,,, Benn sering kepergok mesra bersama lelaki di beberapa tempat banyak kali...


"Bagaimana,,, saya sudah tidak ada riasan sama sekali sekarang. Apa ini semua sudah cukup? Apa saya sudah diizinkan pulang, pak ?" tanya Eril mengusik lamunan Benn pada getir hidup dan cintanya.


"Makanlah dulu sebelum pulang," ucap Benn sambil menunjuk beberapa makanan di meja yang baru saja diantar dan masih nampak asap uap panasnya.


"Maaf, terimakasih. Tapi saya ingin cepat pulang saja. Saya akan makan di rumah," sahut Eril tak berselera.


Hanya ada bayang balita Evan sajalah di kepala. Tidak tenang jika keluar lama-lama meninggalkan anaknya. Meski ada teh Sulis yang menjaga, tapi tetap saja kepikiran.


"Jika kau pergi tanpa makan sedikit pun, jangan harap ada kabar lanjutan dari hasil pertemuan kali ini. Apa kau tidak merasa usahanya akan sia-sia dan rugi? Tapi terserah, keputusan di tanganmu,," ucap Benn dengan acuh dan santai.


Eril memandang dua lelaki yang berusia beda jauh itu mulai mengambil makanan ke piring. Hanya menuruti kata hati, mungkin dirinya telah lukus seleksi kali ini. Mungkin dirinyalah pelamar sekaligus kontestan beruntung yang akan menerima imbalan satu milyar sebentar lagi.

__ADS_1


Berfikir itu, tangannya terulur bersemangat meraih piring dan sendok. Mengisi beraneka rupa sajian yang diambilnya sedikit-sedikit ke piring. Menepis keras bayang Evan yang sedang menangis sambil mengulur tangan padanya.


Eril tetap saja tergesa menghabiskan isi piring. Makan di luaran selama di Jakarta tanpa Evan, belum pernah dilakukannya. Kecuali hari ini, malam ini,,, Demi uang imbalan satu milyar yang akan tergenggam di tangan sebentar lagi.. Harap-harap cemas dirinya...


__ADS_2