Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
22. Sebelum Nikah


__ADS_3

Wajah polos tanpa riasan dengan bibir cerah alami sedang tertidur menyandar pada sofa. Tidak sempat berdandan apa pun sebab asisten Lucky begitu cepat datang untuk menjemput. Serta tidak punya semangat lagi untuk berdandan. Lebih terhanyut pada sedih tangisnya saat berpamitan pada teh Sulis sekaligus menitipkan sang buah hati pada wanita Sunda itu.


Benn sedang mondar mandir tidak jelas sambil memperhatikan calon istri. Mengambil baju ganti, dibawanya ke sofa dan dipakainya di sana. Memandangi Eril sambil berfikir tentang masa depan pernikahan mereka nantinya. Perjanjian nikah kontrak yang disepakati bersama, bisa saja diubahnya.


🌢


Eril terkesiap bangun saat merasa ada sesuatu yang bergerak di punggungnya. Lebih terkejut lagi saat matanya terbuka, wajah dan tubuh Benn terlalu dekat padanya.


"Eh, sedang apa kau, Benn..??!!" seru Eril sambil mendorong dada Benn menjauh darinya. Panik mendapati Benn begitu rapat padanya.


"Kau ini, Ril... Baru buka mata saja sudah buruk sangka." Benn telah menarik tangannya kembali dari punggung Eril.


Duduk menghempas di sofa dan meraih ponsel dari meja di depannya. Melihat sebentar lalu menatap lurus pada Eril.


"Kita makan dulu sebelum pergi ke hotel," kata Benn. Acuh dengan pandangan Eril yang terus menyelidik.


"Tadi, kamu mau apa padaku,, jangan suka mengambil kesempatan ya, Benn?" kejar Eril masih terheran.


"Apa seumuranmu itu, kau belum pernah diperlakukan mesra oleh lelaki?" tanya Benn sambil menaikkan sebelah alisnya pada perempuan manis itu.


"Maksudmu kamu tadi akan memindahkan aku ke sana,,?" tanya Eril dengan polos, menunjuk ke arah tempat tidur.


"Jadi kau sudah paham dan sering mengalami? Atau kau justru menyesal, tidak pura-pura tidur dan membiarkan aku mengangkatmu ke sana?" tanya Benn begitu saja. Lupa pada niatnya untuk berhati-hati bicara pada Eril.


"Ah, Benn,, kamu ini ya.. Selalu menyindirku. Lebih baik kita saling berdiam saja. Lebih baik jangan bicara lagi padaku, Benn,,!" sergah Eril dengan keras. Kesal dengan setiap ucapan Benn yang tidak pernah terdengar nyaman di telinganya.


"Ril,, aku tak ingin melihatmu bersama polisi itu lagi. Kau paham, Ril,,?" tanya Benn pada perempuan yang sedang memeriksa ponselnya.Eril nampak fokus saja pada benda lempeng warna silver.


"Ril,, kamu dengar tidak,,?!" tegur Benn. Eril memandang sebentar dan mengunggukkan kepalanya.


"Janji itu yang serius, Ril,, keluarkan suaramu."tegur Benn tidak puas. Eril telah menyimpan lagi ponsel dan menatap Benn lekat-lekat.


"Benn... Kenapa terlalu mengekangku? Apa tidak boleh aku berteman, pak Jovan dan aku hanya teman. Dan mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi. Urusanku di kantor polisi sudah selesai. Pertemanan kami hanya sebatas urusan kasusku," terang Eril dengan tegas pada Benn. Merasa jengah pada lelaki tampan tapi kekanakan di depannya.


"Kan hanya mungkin, jika kalian bertemu lagi, bagaimana,,?" Benn kian tidak puas dengan jawaban Eril barusan.


"Ah, Benn,,, kamu ini teliti banget apa ribet banget?" Eril nampak mengeluh dengan pertanyaan Benn yang kian detail padanya.


"Tapi kau harus paham, Ril. Aku ini lelaki. Aku akan menikahi kamu. Tidak peduli menikahnya sebab apa... Mana ada lelaki yang terima jika calon istrinya nampak mesra dengan lelaki lain,,?" sahut Benn menjelaskan. Setengah melempar ponselnya ke meja.


"Ya Allah, Benn,,, mesra bagaimana? Jelaskan padaku, mesra model apa yang sudah kamu lihat dariku?" kejar Eril dengan kesal.


Benn terdiam. Mengakui, memang tidak bisa menjelaskan bagaimana saja kemesraan calon istrinya itu. Dirinya saja mungkin yang lebay..

__ADS_1


"Okelah, Ril. Tak usah diungkit lagi. Mungkin aku hanya kesal. Saat aku sangat sibuk mengurus segala syarat pernikahan kita, tapi malah menjumpaimu dengan lelaki lain. Jadi paham sajalah perasaanku, Ril..."


Benn berkata nampak lelah. Merasa obrolan mereka tidak akan menemui titik damai jika dirinya tidak mengalah. Mungkin perdebatan seperti ini harus disimpannya saja hingga mereka benar-benar telah menikah.


"Eril, aku lapar. Temani aku makan. Lepas itu kita ke hotel."


Benn berdiri dengan menyambar kembali ponselnya. Berdiri dan diam sejenak menatap Eril yang tak juga berdiri.


"Kau tidak lapar?" tanya Benn terdengar melembutkan suaranya. Perempuan itu mendongak memandang.


"Ke hotel,,,?" tanya lirihnya.


"Ya, berjumpa orang tuaku. Mereka menunggu kita agar mencoba baju. Lekas bergerak lah, Ril..!" seru Benn dan berbalik. Berjalan mendekati pintu sambil menyambar sepaket kunci dari meja.


Eril berdiri cepat dan terbirit menyusul Benn yang telah membuka pintu kamarnya.


"Aku pikir kau tidak sabar untuk segera sekamar denganku,,," Benn berkata menyambut kedatangan Eril di pintu menyusulnya. Eril hanya bungkam dan menyelip melewati pintu dan Benn.


"Benn, setelah acara selesai. Boleh tidak aku pulang sebentar saja." Eril bertanya sambil memandang Benn yang sedang mengamankan pintu kamar.


Kamar itu tetap dikunci meski di lantai tiga ini tidak ada orang lain yang menempati. Hanya Benn seorang dan kerabat lelakinya, Leehans, sebagai penghuni tetap lantai itu. Namun saudaranya itu teramat sangat jarang datang. Bahkan hampir tidak pernah lagi semenjak Leehans menikah dan menetap di Jepang bersama orang tua dan istrinya. Kamar Leehans selalu terkunci dan lengang.


"Kau ingin pulang?" tanya Benn, wajahnya menatap Eril dengan aneh.


"Iya.." jawab Eril dengan cepat.


"Benar, Benn,,?!" seru Eril sambil berjalan cepat mengimbangi langkah panjang Benn.


Menyimak wajah tampan di samping yang tidak mengangguk atau pun bersuara.


"Benn,,," tegur Eril. Ingin mendapat kepastian dari lelaki itu.


"Kau memang harus pulang, Ril,,," sahut Benn akhir nya


Jawaban lirih itu sangat jelas di telinga Eril. Membuatnya begitu gembira, bahkan ingin meloncat saja karena sangat senang. Tidak menyangka akan mendapat jawaban yang diharapnya dari Benn.


Eril memandangi lelaki itu dengan takjub. Merasa telah bertemu dengan dewa penolong yang berhati malaikat.


Meski yang dipandang takjub nampak acuh dan terus berjalan. Tidak peduli dengan perempuan yang terus tersenyum, menampakkan lesung pipi yang hanya sebelah saja.


πŸŒΆπŸŒΆπŸ„πŸ„


πŸŒΆπŸŒΆπŸ„πŸ„

__ADS_1


Calon pasangan halal yang terikat dalam sebuah kontrak kerja sama mutualisme itu berjalan saling jauh memasuki sebuah kafe. Pengunjung cukup ramai dan kebanyakan memang saling berpasangan. Benn membawa Eril ke kafe dengan konsep melankolis dan romantis.


Bukan sengaja, tapi itu adalah kafe kuliner paling dekat dengan gedung utama tempat di mana Benn lebih sering menghabiskan hari-hari di hidupnya. Yang tentu dulu juga begitu sering dikunjungi bersama para wanitanya yang berbeda.


"Hai, Benn,,!!" seruan nyaring dari suara wanita.


Eril mengikuti Benn yang tengah berhenti dan berbalik guna melihat siapa wanita yang menyapa.


"Inca,," sebut Benn pada wanita penyapa tadi. Tidak ada ekspresi apa pun di wajah tampan tenangnya.


"Benn, aku baru sampai dan berusaha terus menghubungimu. Apa kau sudah menukar nomormu?" tanya wanita cantik itu sambil mengulur tangan pada Benn. Mereka bersalaman sejenak. Benn segera melepaskannya.


"Aku tidak pernah menukarnya," sahut Benn sambil mengedar pandangan. Berusaha mendapat meja yang nyaman di kafe.


"Benn,,, kau blokir nomorku,,?!" tanya nyaring wanita itu.


"Inca, jika kamu ingin bergabung makan denganku, ayolah,,," tawar Benn pada wanita cantik itu. Acuh pada seru tanyanya.


Inca tidak langsung menjawab, namun memandang sekilas pada Eril. Terheran, sebab Benn tiba-tiba mendekat dan menggandeng tangan perempuan yang nampak sederhana itu.


"Siapa dia, Benn? Bukankah kau bilang tidak akan mencari wanita lagi?" tanya Inca dengan mengamati Eril kembali.


"Dia calon istriku. Besok siang kami menikah. Jika ingin, datanglah,," kata Benn sambil melepaskan pegangan tangannya pada Eril.


Benn berjalan menuju meja di sudut, Inca dengan cepat mengikuti dan duduk tepat di depan Benn. Lelaki itu bertaut alis sesaat. Lalu memandang calon istri yang nampak ragu untuk duduk. Benn berdiri dan menarik satu kursi di sampingnya.


"Duduk, Ril. Lekaslah, mama menunggu." Benn memintanya duduk dengan hangat.


"Terimakasih, Benn," sambut Eril dan duduk perlahan di samping Benn. Melempar senyum manisnya pada Inca. Wanita cantik itu tidak menyambut senyumannya.


"Kau benar-benar akan menikah dengannya, Benn?" Inca terang-terangan bertanya pada Benn, di hadapan Eril.


"Benar, " jawab Benn sengguh-sungguh.


"Bukankah kau bilang tidak ingin menikah?" terheran wanita itu dengan kesungguhan jawaban Benn.


"Bukan berarti aku akan melajang sampai mati, kan,,,?" jawab Benn santai tak peduli.


Lelaki itu tengah memesan makanan pada pelayan yang menghampiri. Kedua perempuan yang bersamanya dia pilihkan menu tanpa bertanya apa pun pada mereka.


"Tapi tak kusangka secepat ini kau akan menikah, Benn." Inca masih merasa tidak percaya. Memandang lekat-lekat pada Benn dengan mengabaikan keberadaan Eril, calon istri Benn.


Lelaki yang dipandang lekat terdiam. Paham dengan sikap Inca yang sedemikian. Wanita mantan kekasih yang paling lama dipacari di antara para kekasihnya. Wanita terakhir yang diputus dan ditinggalkan dengan perasaan berat dan tekat.

__ADS_1


Begitu juga dengan Inca. Terpaksa rela menerima keputusan lelaki yang selalu dipujanya. Berharap suatu saat hubungan mereka akan bersambung kembali. Dan itu telah tiga tahun yang lalu, saat Benn benar-benar niat bertaubat dan insaf.


Kini,,, saat tiba-tiba bertemu, perasaan Benn yang dulu menggebu penuh nafsu terasa hambar sama sekali tak berasa. Benn bukan tidak paham jika perasaan Inca tidak berubah sedikit pun. Wanita itu sedang menunggu dan nampak penuh damba padanya.


__ADS_2