Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
17. Polisi Jovan


__ADS_3

Polisi muda yang gagah dan murah senyum itu memandang ramah pada Eril. Menyimak ekspresi Eril saat tahu dirinya adalah driver gocar yang sedang membawa lari uang kembalian dari tarif sewa tariknya waktu itu.


"Ya nggak apa-apa, pak. Saya pun sudah ikhlas, bahkan sudah lupa akan uang kembalian itu. Saya hanya berharap anda bisa memudahkan urusan ini agar cepat beres dan selesai hari ini juga. Apa bisa secepat itu ya, pak,,?" tanya Eril dengan tidak sabar. Ingin segera melepas beban di hati dan di kepala yang selama ini terus saja menggantungi dirinya.


"Sorry, Eril. Aku tidak berani menggaransi. Sebab kamu datang mendadak. Belum tentu orang - orang yang berkaitan dengan kamu bisa datang hari ini dengan cepat." jawab polisi Jovan menyayangkan.


Eril mengangguk menyadari akan kebenaran kata-kata polisi Jovan. Dirinya saja yang bernafsu, mengira segera datang,,maka akan cepat beres juga urusannya. Tapi,,,kenapa polisi yang berpangkat briptu itu tiap hari begitu rajin menghubunginya. Padahal nyatanya tidak siap. Ah, aneh,, iseng sekali briptu Jovan ini..


Eril memandang briptu Jovan yang sedang bertelepon. Mungkin sedang menghubungi orang-orang yang terlibat musibah bersamanya. Dan tidak lama penggalian polisi Jovan itu selesai. Memandang Eril untuk menyampaikan sesuatu.


"Eril, yang dua orang bisa datang besok siang. Dan yang satu orang itu disamakan saja. Jadi kalian berempat akan bertemu bersama besok siang." terang briptu Jovan akan hasil investigasinya barusan.


Eril memandang dan mendengarkan putusan polisi itu dengan berfikir seksama.


"Apa bisa pelunasan ini kuberikan pada anda saja, pak,,?" Eril bertanya. Berharap jika saja itu mungkin, akan lebih mudah untuknya.


"Tidak bisa dengan cara menitip seperti itu. Kalian harus saling serah terima langsung, saling menggugurkan pertanggungan dan saling bertanda tangan di atas materai, Eril. Jadi semua harus melewati prosedur. Aku hanya bisa membantu dengan memberikan info yang akurat untukmu." sahut briptu Jovan menerangkan.


"Jika ternyata tidak ada kesiapan seperti ini, kenapa bapak setiap hari menghubungiku? Anda seperti sedang mendesak dan mengejar agar saya segera melunasi tanggungan musibah itu. Tapi nyatanya sama sekali tidak siap seperti ini. Bagaimana bisa begitu, Pak,,?"


Eril penasaran dengan jawaban briptu Jovan. Merasa dirinya telah diteror dan dirongrong akan ketenangnya oleh polisi Jovan seminggu belakangan ini.


Polisi tampan yang nampak gagah berwibawa namun jauh berbeda dengan penampilan saat menjadi driver gaul beberapa waktu yang lalu. Sedang memencet dan menarik hidungnya sendiri beberapa kali. Seperti berusaha menetralkan suasana hatinya yang bimbang.


"Itu untuk mengisi data di kelengkapan perkembangan kasusmu saja, Eril. Maaf jika kamu merasa terganggu." ucap polisi Jovan dan berusaha nampak tenang.


"Dan kenapa anda begitu baik, ingin meminjamiku uang sebanyak itu, pak Jovan?" tanya Eril memberanikan diri menyertakan nama Jovan, meski Polisi itu tidak menyebutkan namanya.

__ADS_1


Kali ini Jovan memandang Eril tanpa senyum. Mengamati wajah menyenangkan itu sebelum mulut Jovan membuka bersuara.


"Tentang ini,,, ini adalah urusan pribadi. Jujur aku merasa simpati denganmu. Dan ingin berteman denganmu. Jika kamu tidak keberatan, Ril,," sahut polisi Jovan dangan santainya. Eril justru berkerut dahi keheranan.


"Maaf, pak. Apa di ruangan anda ini tidak ada kamera CCTV,,?" Eril tak bisa lagi menutupi rasa herannya. Sikap polisi Jovan yang melibatkan topik urusan pribadi di dalam ruang kerja dinas, menurutnya sudah melanggar kode etik akan status lelaki itu.


"Ada,," sahut Jovan. Bibirnya sambil kembali tersenyum.


Eril terkejut sendiri. Bayangan rekam video pada percakapan dengan polisi Jovan akan bocor dan viral,, membuatnya resah dan khawatir. Sepertinya Eril telah terlalu sering melihat bermacam tontonan gosip online yang sangat tidak berguna dan bermanfaat di ponseelnya.


"Ada,, tapi sedang rusak dan menunggu tukang servis di markas yang datang bertugas membetulkannya." Polisi Jovan begitu tenang menjawab. Dan terus memandang Eril dengan sangat santainya.


Eril berkedip mengangguk. Oh,, rupanya seperti itu, pantas saja sesuka hatinya.


Eril memalingkan muka memandang ke luar. Taman kecil di depan teras ruang dinas Jovan cukup apik dan menarik. Evan yang diikuti teh Sulis nampak betah bermain di sana. Ada beberapa tanaman hias Aglaonema yang berjajar ditepian kolam ikan koi. Sangat asri dan mampu menyejukkan mata pemandangnya.


"Iya, pak Jovan," jawab Eril dengan jujur.


"Ayahnya berkulit putih?" tanya polisi Jovan. Menoleh memandang pada Eril.


"Saya tidak tahu." Eril kembali menjawab apa adanya. Tidak berniat untuk menyembunyikan kenyataan tentang Evan dari polisi Jovan Achmad.


"Bagaimana bisa tidak tahu,?" kejar polisi Jovan. Abai dengan pembahasan masalah pribadi di dalam ruang dinasnya.


"Evan ada sebab saya melakukannya dengan tidak sadar dan sama sekali tidak mengenali wajah ayahnya," Eril terus menjawab segalanya terus terang. Sikap hangat dan ramah polisi Jovan itu seperti hipnotis baginya.


"Jadi, itu sebab statusmu di identitas masih single dan gadis,,?" tanya Jovan dengan nada bersimpati.

__ADS_1


"Iya, pak. Seperti itulah,," sahut Eril nampak sendu.


Eril merasa sangat iba melihat Evan bermain di taman. Anak tersayang yang ayahnya tidak jelas di mana rimbanya. Yang mungkin saja juga tidak akan diakui keberadaannya oleh sang ayah, jika saja ayahnya terjumpa suatu saat nanti. Ah, sakit sekali rasanya...


🌢🌢🌢🌢


Dua orang lelaki yang baru sampai di pelataran salah satu polsek Jakarta Pusat itu memandang tertegun pada pemandangan janggal dan terlihat mengherankan.


Eril,, gadis cantik yang segala izin dan dokumen untuk melakukan pernikahannya sedang diuruskan Benn bersama asisten Lucky, nampak tersenyum-senyum bahagia menerima uluran balita lelaki dari gendongan seorang personil polisi di teras kantor markas.


"Asluk, apa aku tidak salah lihat,,?" tanya Benn pada Lucky. Matanya tajam memandang Eril yang telah menggendong balita itu.


"Itu memang Eril, tuan Benn," sahut Lucky dengan cepat.


"Siapa bocah yang dibawa gadis itu, asluk,,?" tanya Benn dengan nada yang gusar.


"Sebaiknya kita tanyakan langsung saja pada gadis itu, tuan Benn,," saran asisten Lucky pada sang tuan. Merasa ikut gusar dan penasaran pada pemandangan yang di jumpa tak sengaja terpampang tiba-tiba.


"Bocah itu nampak lekat di gendongan gadis itu, asluk,," semakin gusar saja nada ucapan Benn.


Asisten Lucky tidak lagi bersuara dan menyahut. Hanya berjalan cepat untuk segera menghampiri gadis yang sehari lagi akan dinikahi sang tuan. Merasa ikut bertanggung jawab pada ketepatan pilihan sang tuan dari sekian banyak kontestan yang datang. Dan salah satunya haruslah masih lajang dan single.!


🌢🌢🌢🌢🌢


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„

__ADS_1


πŸŒΆπŸŒΆπŸŒΆπŸŒΆπŸ”


__ADS_2