
Untuk mengurusi diri, Benn telah melakukan segalanya sendiri. Tidak lagi menyerahkan diri dengan lemah kepada sang istri. Tidak juga memerlukan pendampingan ke dalam kamar mandi. Hanya satu yang tidak ingin dilakukannya sendiri. Tidur...
"Benn, kamu sudah ngantuk? Kamu sudah tidur? Aku baru ke swalayan sebelah rumah. Evan minta jajan. Sudah lama aku nggak ngajak Evan shopping, Benn," ucap Eril saat masuk ke kamar. Benn nampak rebah memunggungi arah pintu.
Keluar dari kamar mandi, Benn masih juga tak bergerak. Eril berfikir jika Benn telah tidur. Diselimutinya rapat tubuh sang suami yang sedang mengembang. Juga pertumbuhan,,, sebab tiap menimbang badan, berat badan lelaki itu terus saja bertambah. Nafsu makan Benn memang dalam kategori mencengangkan, atau bisa jadi akan berubah ke tahap meresahkan. Suaminya sedang sangat doyan makan.
Ceklerk,,!
"Eril,,!" seruan pelan dari belakang, membatalkan niat Eril untuk keluar kamar menemui anak lelaki di ruang televisi keluarga.
"Eh, Benn, kamu belum tidur? Kupikir sudah," tanya Eril sambil menutup pintu dan mengunci rapat kembali.
Benn sudah terlentang dan mengawasinya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Eril tersenyum sambil naik ke tempat tidur.
"Nggak ngantuk," sahut Benn menggerakkkan kepalanya.
"Katanya sudah kenyang sekali. Kenapa nggak ngantuk,?" tanya Eril sambil merebah di samping Benn. Biasanya lelaki itu akan cepat karam tertidur selepas makan malam. Dan Eril akan terpicing-picing sendiri berusaha untuk tidur.
"Nggak ada kamu," sahut Benn singkat. Menikmati pelukan Eril di dadanya.
"Aku kangen sama Evan, Benn. Sepertinya dia lebih mencintai mama ketimbang aku. Tidak mau kuajak tidur lagi denganku." keluh Eril dengan merapatkan hidung di bahu Benn yang mulai mengeras kembali. Bahu itu sempat mengendur saat si empu sedang koma dan tubuhnya mengurus.
"Relakan, Ril. Mama pun sangat sayang dengan Evan. Dan kurasa Evan pun sedang bajagia. Orang-orang baru yang sangat menyayanginya. Biarkan Evan menikmati hal baru ini," ulas Benn dengan suara yang sedih. Rasa bersalah kembali merongrong.
"Lalu, aku? Aku dengan siapa? Siapa yang sangat menyayangiku, Benn,?" Eril bertanya dengan tersenyum. Ingin menghibur Benn dengan merasa berdebar.
Benn seketika berbalik menghadap Eril yang galau. Dipeluk erat kepala wangi itu ke dadanya.
__ADS_1
"Stupid. Lalu apa gunaku jadi suami kamu,?" tanya Benn dengan sejuta rasa di dada. Haru, sedih dan bahagia. Dipeluknya Eril sekuat dayanya.
Dan percakapan seperti inilah yang diam-diam sedang Eril tunggu peluangnya.
"Bukan stupid, Benn. Tapi sampai kapan aku akan jadi istrimu,?" tanyan Eril berdebar. Benn juga dipeluknya sangat erat.
"Sudah kubilang, aku tak akan melepas kamu dan Evan. Selamanya, Eril. Kalian adalah keluargaku hingga kapan pun. Cerita menikah dan berpisah dalam enam bulan itu, mari kita lupakan saja," ucap Benn yang lalu menciumi rambut dan kepala Eril yang harum. Eril merasa begitu haru bahagia dan dipeluknya Benn sangat erat.
"Terimakasih, Benn. Tapi Evan belum ada dalam ikatan kita. Negara belum mengakui jika Evan adalah anakqu juga anak kamu, Benn." keluh Eril. Dan ini adalah beban hidup terbesar yang telah ditanggungnya selama.
"Iya. Jangan risau. Aku sudah memikirkan tentang itu. Asisten Lucky akan segera mengurusnya untuk kita," tegas Benn tanpa ragu. Ingin menenangkan hati sang istri dengan rasa bahagia yang sangat. Dan Eril memang jadi merasa sangat tenang.
"Benn," panggil Eril merapatkan dirinya.
"Ada apa,?" tanya Benn dengan mengelus punggung Eril.
"Apa kamu tidak ingin memberi Evan seorang adik,?" tanya Eril tiba-tiba. Bagi Benn, ini sungguh mengejutkan.
"Iya, Benn, aku ingin. Ingin seperti Desta. Anaknya sudah mau tiga. Padahal dulu kami hamilnya hampir sama. Hanya nasibku saja yang kurang beruntung. Kehamilanku tak ada suami di sampingku," ucap Eril tanpa bermaksud mengungkit. Tapi tentu saja Benn kembali merasa bersalah.
"Maafkan aku ya, Ril. Mungkin jika kita menikah dari dulu, anak kita pasti lebih banyak lagi dari Leehans." ucap Benn dengan nada penuh sesal.
"Kita kejar ya, Benn," ucap Eril seperti kembali memancing. Benn merasa kian galau mendengarnya.
"Doakan aku lekas sehat dan kuat ya, Ril. Kamu tahu, aku sangat tersiksa dengan keadaanku seperti ini. Aku selalu menginginkanmu, sayangnya aku belum mampu Ril. Aku tak ingin setengah- setengah melakukannya," ucap Benn dengan suara yang serak.
"Eh, iya, Benn. Maksudku bukan sekarang. Aku sangat tahu dengan perkembanganmu. Aku hanya amat suka menyemangatimu. Apa sekarang kamu lebih bersemangat, Benn,?" tanya Eril merasa bahagia.
"Iya, aku sangat bersemangat karenamu. Bahkan sekarang pun aku sangat menginginkanmu. Ayo kita terapi," ucap Benn.
__ADS_1
Tak menunggu lagi jawaban. Lebih dirapati lagi sang istri dan segera mendapat sambutan. Keduanya sedang saling berciuman. Ciuman ringan yang berubah cepat menjadi gencar dan panas.
🌶🌶🌶
"Ril, tolong buatkan air jahe hangat bisa,?" tanya Benn dengan terengah dan gemetar.
"Iya, Benn. Aku juga ingin minum itu, tunggu ya." sahut Eril sambil membenarkan pemasangan bra di dadanya. Juga baju atasan yang sempat dilucuti Benn. Dan berakhir dengan Benn yang terkapar lemas gemetaran.
"Maaf ya, Ril," ucap Benn serak dan lirih.
"Benn, kenapa.? Kamu bilang ini kan terapi... Jadi ya bertahap. Kamu jangan mikir jauh dulu, Benn," Eril tersenyum sambil mencium bibir seksi kemerahan itu sekilas.
"Tuggu aku buatin dulu ya, Benn," pamit Eril sebelum pergi keluar kamar dan menuju dapur yang lengang. Semua penghuni rumah telah masuk ke dalam kamar masing-masing. Bahkan Evan pun tak terdengar sama sekali suara riuhnya. Balita itu sering berisik hingga lelah sebelum tertidur.
🌶🌶🌶
Benn sedang membuat panggilan pada dokter pribadinya yang jauh di mata.
"Iya, Dan. Seperti itulah sinetronku selama ini. Ternyata aku sedang mendapat karma sebab menelantarkan istri dan anakqu selama ini," pungkas Benn di akhir ceritanya. Lelaki itu terdiam sebentar.
"Kirimkan padaku apapun prodak terbaik yang kamu tahu, Dan. Belikan untukku. Ramuan terbaik untuk lelaki setelah siuman dari koma. Juga ramuan terbaik untuk lelaki yang baru bangun tembakannya sepertiku."
"Yang mujarap dan cepat. Tanpa efek samping yang buruk. Berapa pun harganya. Akan kutransfer ke rekeningmu yang biasanya," ucap Benn menegaskan. Dan kembali terdiam menyimak.
" Ya kirim ke sini lah, Dan. Siapa juga yang bisa ngambil ke sana. Aku tunggu secepatnya. Gunakan shipment DHL, Dan. Itu yang paling cepat dan aman." Benn terdiam kembali dan sedang menyimak.
"Pasti, Dan. Doakan aku cepat pulih sempurna. Akan aku kunjungi kamu dan Leehans. Sekalian bulan madu,,,ha,,ha,,ha,," ucap Benn yang kemudian tertawa. Lelaki tampan itu nampak pias namun begitu bahagia.
"Ah, sudah ya, Dan. Nanti aku hubungi kamu lagi. Carikan cepat, kalo bisa sekarang," ucap Benn tersenyum.
__ADS_1
"Ha,,ha,,ha,, di sana dah tengah malam ya,, aku lupa, Dan. Sorry." ucap Benn kembali sambil tertawa.
"Ya,,Dan, tidurlah. Jangan lupa secepatnya. Oke, Dan. Lanjutlah mimpimu. Assalamu'alaikum,," ucap Benn di akhir obrolannya.