
Putra tunggal keluarga Irawan baru sampai di kediaman keluarga sebelum tiba waktu makan malam. Hampir bersamaan dengan kedatangan sang ayah, yang juga baru kembali dari hotelnya.
Sang Ayah langsung menuju ke dalam rumah setelah melambai tangan pada Evan. Keduanya telah saling mengenal saat makan siang bersama, namun tanpa Benn. Sebab lelaki itu baru muncul saat ini.
"Eril,,! Ikut aku,,!" seru Benn saat baru saja sampai dan menginjakkan kakinya di teras.
Perempuan yang dipanggil sedang duduk santai bersama ibu mertua di teras. Menantu dan mertua itu sedang menunggu Evan bermain sepeda roda tiga barunya. Balita itu nampak hilir mudik bersepeda ria di teras.
"Benn, manggil kamu, Eril. Pergi saja, mama jaga Evan,," kata ibu mertua sambil jari telunjuk mengarah lurus pada Benn.
"Sebentar ya, ma,," pamit Eril sambil berdiri meninggalkan kursinya.
Benn masih menunggu di pintu, tapi justru berjalan lagi setelah perempuan yang dipanggilnya hampir menghampiri. Eril berjalan mengikuti lelaki yang baru pulang dari kerjanya itu di belakang dengan cepat.
Benn membawa Eril membelah rumah dan memasuki sebuah kamar di belakang yang menghadap taman mungil dengan diam. Kamar yang seperti terpisah tapi masih menempel dengan dinding rumah.
"Ini kamar kamu, Benn?" Eril bersuara. Tak tahan lagi terus diam.
"Iya. Tadi mamaku meletak kau di mana?" tanya Benn dengan berbalik pada Eril yang telah berdiri di belakangnya. Mereka telah berada di dalam kamar dengan saling berhadapan.
"Di kamar paling depan," jawab Eril salah tingkah. Keduanya berdiri sangat dekat, Benn telah melangkah maju sangat banyak. Dan terus saja jalan maju. Hingga Eril juga mundur kembali ke pintu.
"Beeenn,?!" tegur Eril. Tindakan Benn membuat punggungnya menyandar rapat di pintu.
"Kau ini kenapa, Ril,,? Aku hanya ingin kau bukakan dasiku,," ucap Benn sambil tersenyum dengan santai. Sedang modus, sebab tiba-tiba saja isi kepala memberikan ide itu.
"Lepaslah,," sambung Benn dengan mendekatkan dada dan lehernya pada Eril. Dan wajahnya pun tentu saja ikut maju. Meski terlihat ragu, tapi Eril tak ada pilihan.
"Aku sudah lama tidak melakukannya, Benn. Mungkin aku agak lama melepasnya." kata Eril sambil tangannya mengulur ke simpul dasi di leher Benn.
"Kau pernah melepaskan dasi lelaki?" tanya Benn dengan dahi berkerut.
"Pernah," Eril mengangguk dan wajah cerahnya nampak jujur.
__ADS_1
"Siapa,,?" kejar Benn penasaran.
"Teman lelaki," sahut Eril. Tangannya terus bergerak berupaya melepas simpulan.
"Teman lelaki?" gumam Benn namun sangat bisa didengar.
"Mantan pacarku, Benn,," sahut Eril menjelaskan. Sambil dipandang nya wajah tampan yang terlalu mepet itu sekilas.
"Seakrab itu,?" tanya Benn terdengar menyelidik. Matanya menatap Eril dengan tajam.
"Memang dekat, Benn. Tapi ya hal-hal dekat sebatas kayak ini. Kami bisa menjaga diri." Eril menerangkan. Paham dengan apa yang ada di kepala Benn.
"Eril,,,apa sebetulnya Evan bukan hasil darimu dengan pacarmu itu? Atau pacar-pacarmu yang lain,,?" tanya Benn kemudian. Bukan hanya pandangannya saja yang tajam. Tapi ucapan lelaki itu juga tajam. Dan mata Eril nampak berkilat tiba-tiba.
"Ah, Benn,,! Susah sekali, bukalah sendiri. Aku nyerah.! Asal kau tahu ya, Benn,! Ayahnya Evan yang bajingan itulah yang pertama kali menyentuhku! Bahkan juga yang terakhir hingga detik ini!" Eril mendorong dada Benn dengan kuat sebab geram yang sangat. Benn melangkah mundur dengan terpaksa.
"Kecuali,,,, perbuatan kamu waktu itu, Benn,,!!" sambung Eril dengan nada yang berapi. Ibu muda itu berbalik dan membuka pintu untuk keluar dari kamar Benn. Berjalan cepat melewati ruang dapur,,ruang keluarga,,, ruang tamu,, dan menyambung tembus ke teras.
Meja makan itu telah dihadiri lengkap oleh keluarga Irawan yang tidak banyak jumlahnya. Yang semula selalu tiga orang, kini mengembang menjadi lima orang. Mendapat tambahan dua kursi tiba-tiba, yakni Eril dan anak balitanya.
"Benn, apa kau sudah mendengar kabar dari keluarga Lee di Jepang,,?" tanya tuan Harsa pada lelaki yang duduk di hadapannya.
"Iya, pa. Mungkin mereka akan datang minggu depan atau paling lambat dua minggu ke depan,," jawab Benn tanpa memandang ayahnya.
Benn nampak lapar dan fokus dengan isi di piringnya. Atau mungkin ada hal yang sedang dipikirkannya.
"Siapa yang telah mengabarimu, Benn,,?" sambung tanya sang ayah.
Eril yang duduk di sebelah Benn, hanya menyimak dengan sesekali memandang ke arah tuan Harsa. Mama mertua tengah sibuk menyuapi Evan dengan sangat asyiknya.
"Leehans semalam menelepon aku, pa,," sahut Benn kembali. Eril yang terus menyimak, menoleh cepat pada Benn.
"Leehans,,??" sebut Eril tiba-tiba. Terdengar heran dan penasaran.
__ADS_1
"Kenapa, Ril,,?" tanya Benn menoleh.
"Namanya sama dengan pemilik yayasan tempatku dibesarkan, Benn,," sahut Eril. Benn memicingkan matanya.
"Memang iya. Tentu saja kau tahu nama Leehans,ya. Dia memang pemilik yayasan tempatmu, Bina Amanah di Surabaya itu, Ril,," sahut Benn dengan wajah termangu. Lupa tidak menanyakan tentang hal itu pada Eril.
"Oh, iya Riil,, apa kamu juga kenal dengan istrinya Leehans,,?" tanya sang mama menyahut. Hal yang sangat ingin diketahui justru terlupa ditanyakan, terlalu asyik dengan Evan.
Semua pasang mata di meja makan, bahkan si Evan pun, menatap Eril dengan menunggu jawaban. Dan wajah-wajah dewasa itu nampak takjub dan terheran saat Eril mengangguk cepat dan yakin.
"Istri tuan Leehans bernama Desta,, Desta adalah sahabat baikku. Teman akrab dan seperjuangan saat masih tinggal bersama di yayasan. Dan ternyata nasib sahabatku itu begitu luar biasa." terang Eril nampak sedih. Merasa rindu pada Desta. Sahabat yang begitu baik, namun terpaksa dihindarinya. Sebab, Eril merasa malu. Desta terlalu baik bahkan sangat royal padanya. Tiga tahun lalu..
Dan sekarang,, tidak menyangka jika dirinya berada di tengah keluarga yang berkaitan erat dengan Desta. Keluarga Benn masih bersaudara dengan keluarga Leehans, suami sahabatnya.
Dan ada sesuatu yang sangat ingin diketahui oleh Eril. Itu akan ditanyakannya langsung pada Benn kemudian.
"Ah, Eril,,,tidak menyangka yaaa,,, dan semua akan bertemu dua minggu lagi. Dan mungkin bisa jadi lebih cepat. Desta dan suaminya,,, eh, dengan anaknya juga,, mereka akan berkunjung ke Indonesia. Terutama sebab mendengar Benn telah menikah. Bersiaplah kamu bertemu dengan Desta, Riil,," terang mama mertua dengan ekspresi yang masih terkejut.
"Iya, ma. Tidak kusangka. Tidak sabar ingin bertemu dengannya," sambut Eril menatap wajah mama Donha. Mertua dan menantu itu saling memberikan senyuman.
"Eh, Ril,, malam ini tidak usah kembali ke gedung utama. Tidur di rumah mama saja, ya. Mama ingin tidur sama Evan. Boleh ya, Benn,,?" tanya mama Donha pada Eril dan juga Benn.
Eril menoleh Benn di sampingnya, bersamaan dengan Benn yang juga menoleh memandangnya.
"Iya, ma. Aku pun lelah. Lagipula, kamarku tidak terlalu sempit jika hanya dengan Eril. Bener yang mama bilang, kan,,? Dia tidurnya sama mama,,?!" ucap Benn sambil matanya memandang jengah pada Evan. Sang mama menanggapi dengan anggukan.
"Iya, Benn,," kata sang mama kemudian.
"Tapi ma, nanti Evan mengganggu mama istirahat,,," sahut Eril dengan mimik keberatan.
"Tidak, Eril. Kamu malam ini temani suamimu saja di kamarnya. Mama pasti akan jaga Evan dengan baik. Jangan khawatir, yaa,," jawab sang mama meyakinkan dan tegas.
Jawaban ibu mertua itu, diam-diam membuat Eril jadi lemas. Merasa berat jika harus tidur berjauhan dengan Evan. Tapi melihat wajah ibu mertua nampak bahagia. Eril pun hanya bisa pasrah dengan keputusan sang mertua.
__ADS_1