Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
54. Terapi Terbaru


__ADS_3

Mobil sedan hitam meluncur kencang membelah jalan tol yang tanpa hambatan dan bebas sore itu. Pengemudi mobil yang biasanya pulang selepas maghrib, hari ini keluar dari kantornya tepat saat adzan ashar dikumandangkan.


Tengah bersemangat menuju sebuah hotel di dekat bandara Sukarno-Hatta. Tempat di mana sahabatnya sekaligus sang dokter androlog yang akan ditemui sedang menunggu dan menginap. Benn akan bertemu dengan Daniel sebentar lagi.


Tok...Tok...Tok...!!


Benn telah berdiri di depan pintu yang baru saja diketuknya. Menunggu Daniel hingga membuka pintu kamar yang disewa.


Ceklerk,,!!


"Assalamu'alaikum, Dan,,!!" sapa salam Benn saat Daniel muncul di pintu.


"Hei, wa'alaikumsalam, Benn,,!!" sambut hangat sang sahabat. Mereka berdua berangkulan dan saling menepuk punggung dengan pelan.


"Kau sendirian, Dan,?" tanya Benn dengan mata melirik ke dalam kamar.


"Aku tetap belum menikah lagi, Benn. Mana ada temanku," sahut Daniel tersenyum. Daniel adalah seorang duren berputri satu yang ditinggal mati sang istri.


"Yuk, masuk, Benn,," Daniel membuka pintu kamar lebar-lebar. Menyuruh Benn segera masuk ke dalam kamarnya.


"Ngapain nginep di hotel, Dan? Kamu tidak mengunjungi ortumu?" tanya Benn sambil menghempas badan di sofa. Memandang wajah tampan sang dokter.


"Bisa nggak balik ke Jepang lagi aku, Benn. Ayahku pasti akan mengarungiku. Suruh standby di Indonesia," terang Daniel dengan wajah mendungnya.


"Bisa kamu nahan kangen sama ortu kamu, ya Dan,?!" sahut Benn.


"Kamu anak tunggal, Benn. Sedang aku, dah banyak bentrokku dengan papaku. Sebetulnya aku kangen juga sama mamaku," keluh sang dokter.


"Dah,, kita fokus saja ke problem kamu, Benn,,!" kata Daniel sambil berdiri. Menarik sebuah tas besar dari samping ranjang dan membukanya.


"Apa itu, Dan,,?" tanya Benn pada benda yang sedang dikeluarkan Daniel dari tasnya.


"Shock wave paling mutakhir di negara Sakura, Benn. Tester paling cepat dan tepat," terang Daniel.


"Apa perlu ada suntikan, Dan,?" tanya Benn. Rahangnya mengeras, teringat berbulan-bulan lalu, Daniel pernah menyuntik miliknya. Namun segala upaya yang Daniel lakukan untuknya tidak pernah ada hasil sedetik pun.


"Tidak, Benn. Apa kau ingin kusuntik,?" Daniel tersenyum. Sambil mengeluarkan lagi sebuah alat dari dalam tas besarnya


"Oh,.jangan lagi, Dan..!!" Benn menampakkan wajah traumanya.

__ADS_1


"Itu, apa lagi, Dan,," tanya Benn sedikit cemas. Seperti trauma dengan segala alat yang dikeluarkan Daniel dari tasnya.


"Tenang, Benn. Tak ada satu pun alat-alat ini yang akan menyakitimu." Redam Daniel merasa iba dengan derita sahabatnya.


"Benn, kau sudah makan?" tanya Daniel dengan menyiapkan sebuah note kecil. Benn mengangguk.


"Pukul dua makan siang. Sekarang pukul empat," terang Benn dengan dahi berkerut.


"Bagus Benn. Pergilah sebentar ke balkon. Bernafas rileks lah di sana," arah Daniel sambil terus mencatat.


Benn tidak berkata apapun. Hanya berdiri dan mengikuti arahan Daniel. Lelaki itu berjalan cepat ke balkon. Menyantaikan dirinya di sana.


"Benn,,masuklah!" panggil sang dokter dari dalam. Benn kembali ke sofa dan duduk cepat di depan Daniel.


"Kau jauh lebih semangat kali ini, Benn. Sayang aku tidak bisa lama. Aku suka kau bersemangat, Benn. Siapa wanita yang sudah kau nikahi itu,?" tanya Daniel menatap menyelidik.


"Eril namanya," sahut Benn bersemangat.


"Cantik,,?" tanya Daniel. Sangat yakin jika Benn tidak mungkin tertarik jika tidak cantik. Dan Benn hanya tersenyum dengan menaikkan alisnya pada Daniel.


"Kalian pacaran? Tak dengar kabar tentang itu, Benn," pancing Daniel.


"Yang sama jumlah dengan milik Desta yang sudah diambilnya itu?" tanya Daniel. Benn mengangguk.


"Tapi, Benn. Kau tak merasa rugi membuang istrimu setelah enam bulan? Kau bilang hanya dia yang bisa memancing hasratmu,?" tanya Daniel sambil menyiapkan salah satu alat di meja.


"Jika aku tak sembuh- sembuh, Dan. Kulepas saja Eril. Dia berhak bahagia." jawab Benn dengan wajah sendu yang kelabu. Lelaki itu menyandar punggung dan merebah kepalanya di sandaran sofa.


"Jika kau pulih, akan kau pertahankan?" tanya Daniel.


"Inginku begitu. Tapi jika dia mau. Aku terlalu sering membuatnya tertekan, Dan," keluh Benn sangat lirih.


"Meski jodoh tak kan ke mana-mana. Kau juga harus menentukan, Benn. Jangan rasa pesimis yang berlebihan," kata Daniel menyejukkan.


Benn terdiam tak menyahut. Meluruskan duduk bersiap menyambut instruksi Daniel padanya. Sang dokter tengah memegang sebuah EKG atao elektrokardiogram berjenis khusus dan spesial hanya dimiliki oleh seorang androlog.


"Keluarkan dadamu, Benn,," Daniel tersenyum.


"Untuk apa itu, Dan,,,aku tidak jantungan," sahut Benn dengan menunjukkan dagu pada alat yang tengah dipegang oleh Daniel. Tangannya membuka jas kerja dan mencampakkan ke sofa. Lalu membuka kemejanya.

__ADS_1


"Ini EKG khusus buat mendeteksi irama detak jantung yang khusus digunakan untuk mantan playboy dan mati rasa kayak kamu. Bersiap, Benn," sahut Daniel tersenyum. Benn sangat manyun mendengarnya.


Daniel menempelkan benda kecil agak lempeng ke kulit di dada Benn. Benda itu terhubung oleh tali serupa kabel ke layar monitor.


"Aku akan sebut nama-nama mantanmu yang aku tahu, dan bayangkan kehebatan dirinya yang kau suka, Benn. Dan kau harus jujur dengan pikiranmu."


Daniel selalu tersenyum saat menjelaskan apapun pada Benn. Lebih tepat menahan tawanya. Dan Benn sudah abai dan tawar akan hal itu. Sebab Daniel memang sudah terbiasa tidak profesional jika bersamanya. Benn membiarkan, malas jika Daniel akan menyuruh mencari dokter androlog lainnya.


"Tutup matamu dengan santai, Benn," kata Daniel. Memperhatikan dengan seksama saat lelaki tampan itu menutup kelopak matanya.


"Fokus, Benn. Akan mulai aku sebut," Daniel memberi aba-aba pada Benn. Disambut anggukan oleh si pasien.


"Ana," sebut Daniel pada nama salah satu mantan sang sahabat yang sempat didengarnya. Ana adalah anak dari seorang sekretaris DPR daerah di Jakarta.


Garis lenggok di layar tetap menunjuk kurva normal yang sama. Pertanda nama ini tak ada efek bagi Benn.


"Ranisa" Daniel mulai menyebut nama wanita. Ranisa adalah model high class nasional di Jakarta. Tak ada reaksi.


"Tania," sebut daniel pada seorang model cantik peraga pakaian dallamm nasional. Menunggu... Garis kurva tetap sama.


"Hanny," ini adalah gadis muda tiga tahun lalu. Gadis kelas tiga SMA, anggota paskibraka daerah yang tergila-gila pada Benn. Garis itu masih sama.


"Inka," Ini pacar milik Benn yang terlama.. Kurva masih sama..


Dan berlanjut dengan nama-nama wanita yang pernah bersama Benn. Hasilnya sama, tidak memberi efek apa pun pada garis kurva di monitor. Daniel terdiam sejenak.


"Benn, kau tidur,?" tegur Daniel. Curiga barangkali Benn curang dan tidur.


"Mana mungkin, Dan. Aku fokus,, aku ini sangat serius. Lanjutlah," pinta Benn dengan terus memejam. Daniel tersenyum.


"Oke, Benn. Fokus..! Sebab nama-nama wanitamu aku sudah habis stok, akan kusebut asal nama wanita. Kau bahkan boleh berfikir semesum apapun. Ini demi pengobatanmu, Benn,!" terang Daniel tersenyum. Lelaki yang terus terpejam itu mengangguk.


"Putri Cendana Wati," sebut Daniel kembali. Menunggu.. Tak ada reaksi.


"Ariel Tatum,," Daniel tersenyum dan menunggu. Benn nampak berkerut dahi. Tapi tak ada reaksi.


"Aura Kasih,," Danil menutupi mulutnya. Dahi itu semakin mengkerut. Tanpa reaksi.


"Jangan sebut-sebut bini orang,Dan. Sebrengsek apapun aku dulu, pebinor bukan gayaku." protes Benn tiba-tiba. Daniel hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2