
Mereka berdua bertolak dari vila sebelum tengah hari. Surya sangat terik menyengat ke bumi dan menembus ke kulit. Benn menutup rapat-rapat kaca pintu di mobilnya. Tak ingin panas dari luar menembus ke dalam meski hanya seberkas. AC di dalam segera di fungsikan oleh Benn.
"Kamu ke gedung apa pulang, Benn,?" tanya Eril menoleh sang suami.
"Ke gedung. Habis ngantar kamu aku langsung sambung ke gedung ya, Ril,," jawab Benn menoleh istrinya sebentar.
"Kamu nggak capek, Benn? Nanti kamu demam,,, kecapekan,," respon Eril.
"Ha,,ha,,ha,, dah biasa aku kayak gini, Ril. Daripada kerjaku numpuk. Demi keluarga,, demi kamu dan Evan," ucap Benn memberi rayuan.
"Terimakasih ya, Benn," ucap Eril memberi sambutan terbaik. Keduanya saling menoleh, dan saling tersenyum bersamaan.
Sebuah panggilan di ponsel Benn menyela tiba-tiba mengejutkan. Kemesraan mereka terhenti sejenak. Benn nampak fokus dan bermuka serius menyimak suara di ponselnya. Kepalanya sesekali mengangguk. Dan hanya memberi jawaban satu jenis kalimat sederhana. Ya, pak,, itulah jawaban Benn di sepanjang percakapan.
"Siapa, Benn,?" tanya Eril setelah panggilan berakhir.
"Rekan kerja," sahut Benn cepat. Matanya terus mengikuti jalanan di depan. Lelaki itu sedang mengenakan topi demi menutupi kepolosan kepalanya.
🌶
Eril merasa tidak tenang saat tiba di rumah mertua, beberapa polisi nampak duduk-duduk di teras berteman tuan Harsa, ayah Benn. Tidak biasanya hal seperti ini terjadi.
"Benn, ada polisi. Ada urusan apa mereka datang menjumpai papa,?" Eril terlihat gusar sendiri. Benn justru tetap saja nampak tenang.
"Tenang ya, Ril. Kamu jangan panik. Berurusan dengan polisi kami pun juga sudah biasa. Kamu tenang ya. Sebetulnya polisi itu mencariku," ucap Benn setelah menyandarkan mobil di garasi dengan aman.
"Apa, Benn? Ada urusan apa,?" Eril terkejut sesaat. Namun kembali menyandar dan berusaha menenangkan dirinya. Sebab Benn juga nampak abai dan tenang. Berusaha percaya dengan ucapan Benn.
__ADS_1
"Menyangkut kecelakaan kemarin itu, Ril. Bagaimanapun, memang akulah penyebabnya. Jadi aku harus terlibat juga dalam laporan mereka," ucap Benn tersenyum.
"Apa, Benn,?!" Eril kembali tidak tenang dan shock.
"Hanya terlibat dalam laporan, Ril." Benn mengulang keterangannya dan kembali tersenyum dengan tenang.
"Kamu penyebab kecelakaan, Benn. Ngga mungkin hanya terlibat dalam laporan. Kamu pasti ditahan juga,,!!" panik Eril dengan raut khawatir.
Benn tidak lagi membantah. Lelaki itu terdiam sambil menunggu sang istri agar segera keluar. Eril yang menghampiri langsung digenggam tangannya.
"Apapun yang tejadi antara aku dengan polisi itu, kamu percaya saja padaku. Doakan saja semua berjalan lancar dan tidak berbelit. Okey,,?!" terang Benn sambil erat menggenggam tangan istrinya. Dengan ragu, Eril pun mengangguk.
"Janji ya, Benn. Semua akan cepat berlalu dengan baik-baik saja, kan,?" tanya Eril sambil sedikit mendongak. Mantan cassanova yang baru siuman dari koma itu memang berbadan tegap dan tinggi.
"Iyaaaa,, kamu hanya cukup bersikap tenang, berdoa serta mandi yang wangi,," Benn justru cengengesan menggoda Eril yang tegang.
"Ish, Benn..! Keadaan lagi siaga perang, kamu malah nyantai kayak siamang,,,?!" tegur Eril yang jadi menahan tawanya. Ketegangan telah hilang seketika.
🌶🌶🌶🌶🌶
Satu minggu kemudian...
Eril tidak tahu harus merasa kecewa atau justru merasa lega. Namun Tuan Harsa menanggapi jika penyelesaian seperti yang Benn lakukan sudah biasa dilakukan oleh banyak kalangan. Hanya Benn diwanti-wanti untuk tidak memaksa atau memberikan takanan yang licik.
Benn mengungkap jika seluruh korban tabrakan beruntun akibat kelengahannya, telah diselesaikan dengan penuh perjuangan. Sang suami dengan dibantu pihak polisi harus mendatangi seluruh korban di rumah masing-masing.
Benn meminta maaf dengan gentle sekaligus menyantuni para korban dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Bahkan ratusan juta untuk tiap kepala dengan cidera berat atau agak berat. Total uang pelicin yang harus Benn ikhlaskan pada banyak pihak demi kebebasannya telah mencapai bermilyar rupiah. Tapi Benn tetap saja bersyukur bahwa tidak ada korban jiwa dalam kasusnya.
__ADS_1
Yang membuat Benn sakit kepala sekaligus merasa tertekan adalah, ada satu orang korban lelaki yang kukuh ingin dirinya dipenjara serta tidak ingin menerima uang suap sepeser pun yang coba Benn tawarkan. Polisi meminta Benn untuk tidak putus asa dan mencoba membujuk lelaki itu di lain hari berikutnya.
"Bagaimana kalo kita datangi secara kekeluargaan, Benn. Kita coba dekati lagi baik-baik. Tidak usah menyertakan polisi. Kutemani kamu datang bersama Evan. Bagaimana,,?" tanya Eril memilih akur saja.
"Tambah mama juga, Benn. Mama ikut," sela sang mama bersemangat.
"Ehhh,,, kamu tidak usah ikut-ikutan, maa. Kita mendoakan saja. Terlalu ramai yang datang, bisa jadi si korban justru tidak suka, tidak tenang dan makin marah. Nanti anak lelakimu itu justru malah masuk penjara," sahut tuan Harsa yang keberatan dengan ide istrinya.
"Iyalah, pa. Mama nurut katamu sajalah, pa. Maaf ya Benn, mama nggak bisa mememanimu. Kamu paham kan, maksud papamu?" sang mama nampak iba pada putra tampan yang tersayang. Begitu sedih dengan cobaan yang silih berganti menerpa anak lelakinya.
"Iya, maaa.. Papa sangat betul itu. Biar Eril dan Evan saja yang menemaniku. Lebih baik kalian berdoa dari rumah untuk kelancaran urusanku. Semoga semakin dipermudah tujuanku oleh-Nya." Benn menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Jangan khawatir, Benn. Doa orang tuamu selalu menyertai. InsyaAllah, semua akan baik-baik saja," sambut tuan Harsa mengangguk. Dan semuanya pun ikut mengangguk mengaminkan.
Perbincangan itu sepertinya telah selesai. Meja makan mendadak hening tanpa sepatah kata lagi terdengar. Hanya bunyi riuh dari suara Evan yang asyik bercakap-cakap dengan Leni, pengasuhnya di teras. Belakangan bocah itu minta disuapi sambil bermain di luaran. Tidak mau berselera jika dipaksa untuk duduk di meja makan.
"Eh, Benn sama Eril, kemarin kalian ke vila?" tanya sang mama penuh maksud. Sekaligus mencairkan kebisuan di meja makan.
Benn dan Eril saling menoleh serta saling berpandangan.
"Iya, ma,"
"Iya, ma," mereka berdua menjawab sangat kompak.
"Hi,, hi,, mama dan papa sudah tahu. Mbak Sri yang bilang. Tapi mama juga yang tanya,,"
"Bagaimana, Benn. Kamu benar-benar sudah sembuh kan? Itumu lancar jaya saat dipakai, kan,?" sang mama cukup usil dan terang-terangan ingin tahu penasaran. Sudah tidak tahan untuk terus memendam pertanyaan penting itu selama ini.
__ADS_1
"Sembuh total, ma,,! Mama bersiap saja menyambut adik-adik Evan dari kami," jawab Benn dengan lega dan bangga. Sangat gembira mengatakan hal ini pada sang mama. Orang yang paling peduli padanya di seluruh muka bumi selain sang ayah dan Eril, istrinya..!!
Tuan Harsa dan mama Donha tersenyum berpandangan. Mengucap syukur dalam hati diam-diam bersamaan. Hilang sudah ganjalan sebesar gajah yang selama ini dirasakan. Memandang Benn dan Eril dengan perasaan penuh sayang.