
Sehabis maghrib, Benn baru pulang seperti biasa. Wajah cerah sangat jelas terlihat dari wajah tampannya yang putih.
"Kamu nampak gembira Benn, ada apa?" tanya Eril setelah melepas pelukan. Berlanjut dengan membuka baju kerja dan kemeja atas permintaan Benn padanya.
"Kita dinner di luar yuk, Ril. Aku dah bilang ke orang dapur nggak usah masak. Malam ini kita nginep di rumah mama. Besok ikut aku ke bandara, jemput mereka," kata Benn sambil memandang Eril yang menyimak dirinya berbicara.
"Desta besok jadi datang,?" tanya Eril. Matanya membesar memandang Benn.
"Jadi, mereka akan terbang malam ini. Kita berangkat ke bandara setelah makan pagi" Benn menegaskan sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Kamu tidak kerja, Benn,?!" tanya Eril dengan mata mengekori suaminya hingga di depan pintu kamar mandi.
"Besok tanggal merah, Eril,! Libur!" sahut Benn berseru.
Eril terdiam, menyambar ponsel dan melihat tanggalnya.Merasa diri adalah warga negara pengangguran yang jauh dari kata berguna.
Betapa tidak, ternyata besok adalah tanggal merah 1 Mei, yaitu peringatan hari buruh nasional dan internasional. Tapi tidak salahnya, Eril bukanlah warga pekerja yang bergaji. Benn lah yang membayarnya setiap hari. Kemudahan membuatnya lena tanpa berfikir lagi tentang tanggal dan hari. Ingatnya hanya sedang punya uang yang bisa dipakai dan digunakan.
Ah, Eril sangat bersyukur, hidupnya jauh lebih mudah sekarang. Tapi sampai kapan? Inginnya terus-terusan.. Ha..ha..ha..
Wanita yang merasa sangat beruntung itu sedang tersenyum gembira sendiri. Sambil menghampiri anak lelaki yang diam-diam asyik berbicara bersama robot sopo jarwonya.
πΆ
Benn membawa Eril bersama Evan untuk makan malam di salah satu rumah makan sebuah mall. Evan nampak gembira saat Benn mengambilkan bangku tinggi khusus untuk balita kecil sepertinya.
"Om pen paik,, matacih, om pen," respon terimakasih Evan tiba-tiba. Menatap hangat pada Benn yang bersikap masam selama ini padanya, tapi mendadak berubah baik dan perhatian. Anak kecil pun punya perasaan kan,,,,
__ADS_1
Benn terkedu sesaat, lalu mengangguk. Memalingkan wajah pada makanan di meja yang nampak lezat dan menggoda. Eril telah mengisi piring dengan nasi dan menglurkan pada Benn. Lalu mengambil piring lagi dan mengisi untuk dirinya dan Evan.
Benn mulai menyendok makanan di piring dengan terus memandang Eril dan Evan. Merasa iba pada ibu dan anak itu tiba-tiba. Mengingat jika empat bulan lagi mereka sudah tidak akan bersama.Eril dan anaknya sudah berpisah dan pergi darinya.
Berfikir jika Eril akan menemukan lelaki lain. Tapi ternyata mereka berdua tidak bahagia dan kehidupan mereka tidak terjamin, hatinya merasa iba dan kasihan. Benn merasa tidak tega dan khawatir.
Tapi jika keadaan dirinya tetap saja tidak berguna sebagai lelaki. Tidak akan juga ditahan Eril untuk terus bersamanya. Benn tidak ingin lambat laun akan membuat Eril tidak bahagia, terpaksa dan kecewa, kemudian diam-diam tidak setia. Kemungkinan seperti itu akan lebih menyakitkan bagi Benn.
πΆπΆπΆ
Di belahan bumi yang lain...
Di kota Tokyo yang memiliki waktu lebih cepat dua jam dari kota Jakarta, sedang diguyur salju sangat lebat malam ini. Tak terkecuali pada sebuah rumah megah di kawasan rumah elit Omotesando.
Nampak lautan putih yang menghampar di pelataran remang malam. Cuaca bersalju itu kian membekukan udara di Omotesando. Mungkin penghuni di dalam rumah-rumah elit telah lebih memilih meringkuk dan bergelung di balik selumut tebal dan hangat. Tapi tidak untuk sebuah rumah yang terlihat benderang dengan penghuninya di dalam.
"Apa yang kamu sedang cari itu, okusan? Kenapa tidak cepat istirahat? Nanti kamu kehabisan waktu tidur kita yang hanya dua jam itu," tegur lelaki yang telah membenamkan diri dalam selimut dan hanya nampak mata dan setengah hidung saja. Nama pria ini adalah Leehans.
"Aku sedang mencari kunci brankas pribadiku, otto Hans. Kenapa susah sekali, di mana dia,?" sahut si wanita hamil tanpa memandang sang suami. Desta namanya.
"Sambil ingat-ingatlah dulu, di mana kamu letak," saran sang suami dari balik selimutnya.
"Otto Hans,! Sudah jumpa! Alhamdulillah, akhirnya ketemu,!" seru Desta terdengar demikian lega.
Kakinya berjalan cepat menuju dinding di pojok ruangan. Yang samar nampak dua buah kotak menempel di sana. Itu adalah brankas rahasia pribadi masing-masing. Milik Leehans dan milik Desta sendiri. Dan wanita itu tengah menggunakan kunci yang tadi sempat menyakitkan kepalanya.
"Apa yang kamu perlukan dari brankasmu,?" tanya Leehans setelah Desta menyusul dan menyelipkan diri ke dalam selimut bersamanya.
__ADS_1
"Cincin,, aku ingin memakai cincinku ini. Aku rindu dengan sahabatku. Mana tahu kita bisa singgah ke Surabaya. Apa bisa, otto Hans,?" tanya Desta merayu. Lebih merapatkan diri pada suami yang telah memeluknya.
"Sepertinya tidak bisa, okusan. Kita bisa pergi kali ini saja seperti keajaiban. Kamu paham sendiri, para pekerja sedang banyak menuntut perbaikan di mana-mana. Aku tidak ingin dibilang pimpinan yang mencundang, okusan," terang Leehans pada istrinya.
Desta terdiam. Tidak ingin lagi mendebat suaminya. Jika menyangkut masalah kerja, Leehans tidak akan mentolerir jika itu tidak urgent dan jelas.
"Kawanmu itu sudah tidak ingin berteman denganmu. Sudah berapa kali kamu menyimpan nomor barunya. Semua berakhir dengan tidak bisa dihubungi." sungut Leehans di sela rasa ngantuknya.
"Pasti ada alasan, otto Hans. Ajeng tidak akan melupakan aku begitu saja. Mungkin sebab dia selalu ditimpa masalah hidup berterusan," bela Desta pada Leehans. Tidak ingin sang sahabat di Indonesia nampak buruk di mata suaminya.
"Baiklah, sesampai di Jakarta, akan kita telepon bu Hartini. Jika dia punya nomor kawan kamu, dan bisa kita hubungi, jelas alamatnya, kita pergi singgah ke Surabaya." putus Leehans akhirnya.
"Ah, otto Hans. Dirimu memang suami paling baik di seluruh jagad raya. Terimakasih, suamiku," bisik Desta berbalik, dipeluk hangatnya Leehans dengan rapat. Leehans membalas pelukan dengan tersenyum dan mengangguk.
Mengalah pada kemauan sang istri yang sedang mengandung anak ketiga mereka. Untuk anak yang lain, Leehans telah menitipkan kepada ibunya. Tidak ingin menyertakan kedua balitanya ke Indonesia.
Sebab perjalanan ini sudah diplanning singkat dan seperlunya saja. Khawatir jika perjalanan singkat ini justru membuat kesehatan emas mereka jadi terganggu.
Sebenarnya Leehans juga sedang sibuk dengan tumpukan pekerjaan. Namun telah didesak oleh ibunya untuk segera terbang ke Indonesia. Demi mengucap selamat kepada saudara sekaligus sahabat dekat yang telah menikah hampir dua bulan yang lalu. Merasa segan jika kian lambat untuk mengucap selamat pada Benn.
Desta memandang cincin cantik yang tersemat manis di jari manis tangan kanannya. Cincin emas putih kecil dengan berat yang tidak ada satu gram bermata inisial D&A. Singkatan dari Desta dan Ajeng, nama sahabatnya. Ajeng yang memberikan cincin itu di hari ulang tahun Desta.
Sedang Ajeng pun juga memiliki cincin yang sama persis dengan inisial A&D. Singkatan Ajeng dan Desta. Desta memberikannya juga di saat Ajeng ulang tahun ke dua puluh tahun. Saat mereka berdua sama-sama sudah memiliki tabungan meski sedikit dan hanya cukup untuk memesan sebuah cincin tipis yang manis.
πΆπΆπΆπΆ
πΆπΆπΆπΆ
__ADS_1
πΆπΆπΆπΆ
Vote me, please... π